Strategi Pemkab Banyuwangi Lindungi Situs Macan Putih Bersama Tim UGM
- News
- calendar_month Kamis, 6 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
InfoBanyuwangi.com – Pemkab Banyuwangi menggandeng sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan ekskavasi penyelamatan Situs Macan Putih di Kecamatan Kabat. Kegiatan ini bertujuan melindungi warisan Kerajaan Blambangan dari kerusakan lebih lanjut akibat alih fungsi lahan.
Situs ini dulunya menjadi ibu kota Kerajaan Blambangan pada era Prabu Tawang Alun II, antara 1655 hingga 1691 Masehi. Namun, kini sebagian wilayahnya telah digunakan untuk permukiman warga. Untuk itu, pemerintah daerah berinisiatif melakukan penggalian terkontrol agar sejarah tetap terjaga.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi rencana tersebut. “Kami tidak hanya ingin melestarikan benda bersejarah, tetapi juga menjaga memori kolektif masyarakat Banyuwangi. Situs Macan Putih merupakan salah satu jejak penting kejayaan Blambangan yang harus dilestarikan,” jelas Ipuk, Selasa (4/11/2025).
Ipuk berharap Situs Macan Putih tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif. Plt. Kepala DPU CKPP Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, menyebutkan bahwa penggalian bertujuan untuk memetakan kembali struktur yang ada serta menyiapkan konservasi yang tepat.
“Kami ingin melakukan peninjauan kembali terhadap struktur yang telah ditemukan di Situs Macan Putih, sekaligus menyiapkan langkah konservatif agar keberadaan situs ini tetap terjaga,” tambah Yayan, sapaan akrab Suyanto.
Ekskavasi adalah metode penelitian arkeologi yang sistematis untuk menemukan dan mempelajari sisa-sisa peradaban masa lalu. Yayan menambahkan bahwa temuan dari ekskavasi akan disusun dalam naskah akademik dan kajian budaya. “Output akhirnya berupa rekomendasi dari para ahli cagar budaya, termasuk arahan pembatasan kawasan hingga kemungkinan pemugaran situs,” katanya.
Dr. Sri Margana dan tim UGM sebelumnya telah melakukan penggalian di 13 titik pada 2015. Dari penggalian tersebut ditemukan pondasi bangunan, tembok keliling istana, gerabah, pecahan keramik, dan tulang dari abad ke-17. “Saat ini kami menyiapkan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi situs-situs penting dan menentukan langkah konservasi agar Situs Macan Putih tetap terjaga,” jelas Sri Margana.
Tim juga menelusuri arsip Belanda, toponimi, dan kesaksian masyarakat lokal. “Tujuan akhirnya, kami ingin menjadikan Macan Putih sebagai laboratorium sejarah sekaligus destinasi wisata edukatif,” ungkapnya.
Sri Margana menilai langkah Pemkab sangat strategis karena pelestarian situs bersejarah dapat menambah daya tarik wisata budaya. “Banyuwangi memiliki narasi sejarah panjang. Jika dapat direkonstruksi dan ditampilkan, akan menjadi daya tarik wisata budaya yang luar biasa,” pungkasnya.**
Penulis Info Banyuwangi
Penulis percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.


Saat ini belum ada komentar