Dalam pertemuan tersebut, Romo Syafii menjelaskan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, melainkan juga pusat kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat. “Pesantren itu tidak hanya tempat pendidikan dan dakwah, tapi juga punya fungsi pemudayaan masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap para santri dapat menyalurkan bakat dan minat di bidang digital serta perfilman agar pesan dakwah dapat disampaikan secara kreatif dan mudah diterima generasi muda. “Kita ingin santri-santri kita yang punya minat dan bakat bisa berkreasi di bidang digital dan sinema. Film yang dibuat tidak hanya hiburan dan informasi, tapi juga berisi nilai-nilai ketauhidan,” jelasnya.
Turut hadir dalam audiensi tersebut Staf Khusus Menteri Agama Nona Gayatri Nasution, serta Tenaga Ahli Wamenag Junisab Akbar dan Jaka Setiawan. Mereka menilai Sanffest merupakan langkah strategis untuk menjadikan santri pelaku aktif dalam dunia ekonomi kreatif berbasis nilai-nilai keislaman.
Santri Film Festival 2025 membawa tiga pilar utama: dakwah kultural, literasi sinema, dan penguatan ekosistem kreatif pesantren. Programnya meliputi pelatihan sinema, workshop nasional, kompetisi film pendek, dan malam penganugerahan yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2025.
Event ini menargetkan jangkauan hingga 42.000 pesantren dengan partisipasi 1.800 santri aktif dari seluruh Indonesia. Sebanyak 120 film pendek tematik akan diproduksi, mengangkat tema Islam, budaya lokal, dan kehidupan sosial masyarakat pesantren.
Tidak hanya itu, Sanffest juga akan meluncurkan Balai Akademi Sanffest sebagai wadah pelatihan dan pembinaan santri berbakat di bidang sinema dan industri digital. “Film bisa menjadi medium dakwah yang halus dan modern. Kalau dikelola baik, ia bukan hanya alat dakwah, tapi juga sumber ekonomi kreatif pesantren,” ujar Romo Syafii.
Ia mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan yang menggagas Sanffest sebagai platform tahunan untuk membangun kreativitas santri. “Kalau ini berhasil, insya Allah bisa jadi kalender tahunan agar anak-anak kita punya kreativitas. Ke depan, mereka bisa berdaya di bidang digital dan sinema,” ungkapnya.
Sementara itu, Neno Warisman mengucapkan syukur atas dukungan Wamenag. “Alhamdulillah, Romo Syafii dalam posisi mengayomi rencana besar untuk putra-putri kita di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia,” katanya. Ia menambahkan bahwa workshop Sanffest akan dimulai pada tanggal 1, 2, 8, dan 9 November.
Menurutnya, program ini tidak hanya fokus pada kompetisi film, tetapi juga peningkatan kapasitas santri di bidang teknologi digital dan edukasi perfilman. “Kita ingin melangkah untuk membuat edukasi dalam hal perfilman dan digital profesional. Mudah-mudahan semua dimudahkan oleh Allah SWT,” tutup Neno.*



Saat ini belum ada komentar