“Likulli Rajulin Zamanun”: Saat Gus Makki Memilih Mundur dengan Tenang
- News
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
InfoBanyuwangi.com, Srono – Di tengah hiruk-pikuk Konferensi Cabang PCNU Banyuwangi, ketika nama-nama berseliweran dan dinamika organisasi menghangat, satu pernyataan justru datang dengan nada teduh dan menenangkan. Bukan soal strategi, bukan pula soal peta kekuatan. Kalimat itu sederhana, tapi dalam maknanya.
“Likulli rajulin zamanun walikulli zamanin rajulun.”
Setiap orang ada masanya. Dan setiap masa, pasti ada pemimpinnya.
Kalimat itu keluar dari KH. Mohammad Ali Makki Zaini yang akrab disapa Gus Makki tanpa tekanan, tanpa nada pembelaan. Sebuah pernyataan yang justru terasa matang, selesai, dan ikhlas.
Bagi sebagian orang, mundur dari panggung kepemimpinan bukan perkara mudah. Jabatan sering kali menjadi simbol pengaruh, kehormatan, bahkan identitas diri. Namun bagi Gus Makki, kepemimpinan tampaknya selalu dimaknai sebagai amanat yang punya batas waktu, bukan kursi yang harus dipertahankan.
“Bagi saya, sudah selesai,” katanya.
Bukan selesai dalam arti berhenti berkhidmat. Tapi selesai dalam makna yang lebih dalam: selesai dengan jabatan, selesai dengan ambisi struktural.
Belajar Selesai
Sikap itu tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari tradisi pesantren yang membesarkan Gus Makki, dari ruang-ruang ngaji, dari nasihat para kiai yang tak pernah mengajarkan mengejar jabatan.
Salah satu pesan yang paling membekas, datang dari gurunya, KH. Nurul Huda Djazuli.
“Berkhidmat di NU itu jangan ‘kami-eskanen’. Tidak harus ada SK, tidak harus ada jabatan.”
Pesan sederhana, tapi radikal di tengah budaya organisasi modern yang sering mengukur pengabdian dengan struktur dan legalitas. Dari pesan itulah Gus Makki belajar bahwa khidmat tidak menunggu penugasan, dan pengabdian tidak selalu tercatat dalam surat keputusan.
Maka tak heran jika ia mengatakan, dengan nada bercanda tapi penuh makna, bahwa jika kelak hanya ditugasi mengantar surat pun, ia siap.
Di sanalah letak kemanusiaannya. Seorang mantan ketua, yang pernah berada di puncak struktur, tetapi tidak merasa kehilangan apa pun saat memilih turun ke bawah.
Memberi Ruang, Menjaga Barokah
Dalam konteks NU Banyuwangi yang sempat diliputi dinamika legitimasi hampir dua tahun terakhir, sikap Gus Makki menjadi semacam penyejuk. Ia tidak datang membawa klaim. Ia datang membawa harapan: agar Konfercab menjadi pintu penutup konflik, bukan pembuka bab baru.
Ia memilih berdiri di luar gelanggang, bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa zamannya sudah berlalu.
Barangkali, inilah bentuk kepemimpinan lain yang jarang disorot: kepemimpinan untuk tahu kapan harus berhenti.
Di tengah budaya “harus maju lagi” dan “masih diminta”, Gus Makki justru memberi contoh bahwa menjaga marwah organisasi kadang dilakukan dengan cara mundur satu langkah.
Dan mungkin, di situlah letak barokahnya. (amn)
- person


Saat ini belum ada komentar