Belajar Gizi Balita bersama Dr. Tan Shot Yen, Ratusan Kader Posyandu Banyuwangi Antusias Ikuti Kelas Khusus
- News
- calendar_month Kamis, 20 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
InfoBanyuwangi.com – Kader Posyandu memiliki peran besar dalam memperkuat layanan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pemenuhan gizi balita. Untuk meningkatkan kemampuan para kader, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menghadirkan pakar gizi nasional Dr. dr. Tan Shot Yen dalam sebuah kelas khusus yang digelar pada acara Gerakan Posyandu Aktif di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan pada Rabu, 19 November 2025.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menjelaskan bahwa pembangunan manusia, khususnya pemenuhan gizi anak, telah menjadi fokus utama Bupati Ipuk. Mujiono menyampaikan, “Pembangunan manusia melalui pemenuhan gizi dan kesehatan anak telah menjadi prioritas pembangunan Bupati Ipuk. Maka, kami pun menghadirkan secara istimewa dokter Tan.” Sebagian lain dari penyampaiannya menekankan bahwa para kader beruntung bisa mengikuti kelas tersebut.
Mujiono menambahkan bahwa apa yang dipelajari para peserta dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. “Ibu-ibu kader beruntung bisa mengikuti kelas dokter Tan. Ilmunya bisa diterapkan nanti saat pulang ke rumah dan ditularkan ke ibu-ibu yang lain,” ujar Mujiono.
Acara ini diikuti sekitar 400 kader posyandu, kepala Puskesmas, pembina Posyandu, hingga anggota PKK. Salah satu materi inti yang diberikan adalah mengenai gizi balita, terutama penanganan dan pencegahan stunting yang masih menjadi isu kesehatan penting di tingkat nasional maupun daerah.
Dalam penyampaian materinya, dokter Tan menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi kader posyandu sebagai garda depan kesehatan masyarakat. Dokter Tan menyebut ada 25 kompetensi yang seharusnya dimiliki kader posyandu, termasuk kemampuan memahami stunting dan cara menanganinya. Menurutnya, “Percuma kita mencegah kalau kita enggak ngerti stunting itu apa, karena mencegahnya nanti serampangan.”
Dokter Tan juga menjelaskan bahwa identifikasi stunting fokus pada pengukuran tinggi badan anak berdasarkan usia. “Tandanya adalah di kurva tinggi badan menurut umur. Jadi bukan sekedar berat badan loh,” jelas dokter Tan.
Dalam pemaparannya, beliau menguraikan lima pintu masuk stunting, yaitu anemia pada ibu hamil, kekurangan energi kronik, lingkar lengan atas kecil, risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, serta anemia pada anak. Dokter Tan juga menggambarkan risiko lebih besar ketika kelahiran tidak melalui inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif gagal dilakukan, MPASI tidak tepat, serta anak sering mengalami sakit.
Selanjutnya, dokter Tan memaparkan lima pintu keluar stunting, yakni literasi, edukasi, sanitasi, imunisasi, serta perencanaan keluarga. Menurutnya, peran kader sangat diperlukan untuk memastikan masyarakat memahami langkah-langkah tersebut. “Kader harus bisa jadi motivator laktasi, mengedukasi masyarakat agar tidak mengalami mal nutrisi, bahkan saat ada yang anti vaksin, kader juga harus bisa menangani,” kata dokter Tan.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para peserta kemudian menyampaikan komitmen kolektif untuk memperkuat peran posyandu di seluruh Banyuwangi, terutama dalam upaya meningkatkan gizi balita dan menurunkan angka stunting.*
Penulis Info Banyuwangi
Penulis percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.


Saat ini belum ada komentar