Viral! Warga Penataban Adu Cepat Ikat Kangkung dalam Lomba ‘Unting-Unting’ yang Bikin Heboh
- Pemerintahan Seni Budaya
- calendar_month Jumat, 21 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyuwangi, InfoBanyuwangi.com – Suasana Lapangan Penataban, Kecamatan Giri, mendadak heboh pada Rabu (19/11/2025). Ratusan warga berkumpul untuk menyaksikan lomba ‘unting-unting’ kangkung, tradisi mengikat sayuran khas Penataban yang kini kembali diangkat sebagai identitas lokal. Acara unik ini langsung mencuri perhatian warga, dari anak muda hingga para sesepuh desa.
Kegiatan tersebut digelar oleh Asosiasi Lurah Indonesia (ASLI) Banyuwangi sebagai upaya mengenalkan potensi khas Penataban, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra utama penghasil kangkung di Banyuwangi. Mayoritas masyarakat setempat menggantungkan hidup dari profesi bertani dan mengikat kangkung.
Sejak perlombaan dimulai, sorak dukungan warga tak henti-henti menggema. Para peserta menunjukkan kelincahan tangan dalam mengikat kangkung dengan cepat namun tetap rapi, membuat penonton terpukau dan terhibur.
Salah satu peserta, Habibah (33), mengaku baru pertama kali mengikuti lomba tersebut. Meski awalnya grogi, ia bangga dapat mengambil bagian dalam kegiatan pelestarian budaya lokal.
“Menyenangkan sekali. Ini bukan hanya lomba, tetapi cara mengenalkan budaya unting-unting ke masyarakat luar,” ujarnya.
Peserta lain, Mbah Zaenab (71), menjadi pusat perhatian. Gerakannya yang lincah menunjukkan betapa terampilnya ia dalam pekerjaan tersebut.
“Saya sudah unting-unting sejak muda, mungkin lebih dari tiga puluh tahun. Senang rasanya pekerjaan ini dihargai,” tuturnya.
Lurah Penataban, Komariah, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam mempromosikan potensi daerah. Menurutnya, unting-unting bukan sekadar pekerjaan, tetapi identitas budaya masyarakat Penataban.
“Penataban punya ikon yang tak kalah menarik dari daerah lain. Tradisi unting-unting adalah bagian kehidupan kami dan harus dilestarikan,” ungkapnya.
Ia berharap generasi muda juga ikut mempelajari keterampilan ini agar budaya lokal tidak punah.
Ketua ASLI Banyuwangi, Yuda Teguh Siswanto, menyebut kegiatan ini sarat edukasi dan nilai sejarah. Ia menilai masyarakat sering kali menikmati hasil tani tanpa mengetahui proses panjang di baliknya.
“Kita sering hanya tahu beli kangkung seharga dua ribu rupiah. Padahal ada proses panjang, ada ketekunan yang harus dihargai,” ujarnya.
Melalui kegiatan seperti ini, ASLI Banyuwangi mendorong setiap kelurahan untuk menggali potensi unik yang bisa menjadi daya tarik daerah.
Dengan antusiasme warga yang begitu besar, lomba unting-unting kangkung di Penataban bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya yang telah hidup puluhan tahun. (**)
- person


Saat ini belum ada komentar