Mayoritas Warganet Minta Kades se-Banyuwangi Diaudit, Apa Komentar Anda?
- Politik
- calendar_month Selasa, 18 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyuwangi, InfoBanyuwangi.com – Dinamika panas antara para Kepala Desa (Kades) se-Banyuwangi dan DPRD Banyuwangi masih menjadi magnet perhatian publik. Rencana aksi protes para Kades yang awalnya hendak digelar di halaman Gedung DPRD berubah menjadi perundingan tertutup di ruang rapat khusus. Semua bermula dari satu pernyataan kontroversial seorang anggota dewan yang menyebut 80 persen Kades diduga mengambil bagian dari penyaluran bantuan sosial (bansos) bahkan disebut mendapat Rp24 juta setiap transaksi.
Pernyataan itu sontak memantik reaksi keras. Para Kades merasa dituduh, tercoreng, dan tidak terima. Sementara publik terlanjur gaduh. Pernyataan tersebut telah terlanjur meluas, menjadi percakapan hangat di warung kopi, grup WhatsApp, pasar, hingga menjadi bahan gorengan di jagat maya.
Meski pada akhirnya sang anggota dewan menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf di hadapan ratusan Kades setelah sebelumnya berbicara lantang di hadapan media pertanyaan publik justru semakin banyak, bukan mereda.
Setelah menolak aksi orasi terbuka, DPRD Banyuwangi meminta perwakilan Kades untuk masuk ruang perundingan. Di sana, sang anggota dewan hadir dan menjelaskan bahwa pernyataannya keliru. Ia meminta maaf dan meminta agar pernyataannya di media untuk dihapus dari seluruh platform.
Namun di luar ruang rapat, atmosfer tetap panas. Seorang warga bernama Sutrisno dari Rejoagung meneriakkan,
“KPK harus turun ke Banyuwangi. Audit semuanya!”
Video itu viral, memicu gelombang komentar warganet yang mayoritas justru mendukung proses audit menyeluruh di tingkat desa. Teriakan itu memancing reaksi emosional dari sejumlah Kades, hingga situasi beberapa kali nyaris memanas sebelum akhirnya berhasil diredam petugas dan sesama Kades.
Hingar-bingar mereda seiring kumandang azan zuhur, namun riak di media sosial justru makin ramai.
Pertanyaan yang masih menggantung. Meski klarifikasi telah dibuat, publik merasa belum cukup. Mereka justru mempertanyakan:
- Apa benar sang dewan “keliru bicara”?
- Benarkah ia berbicara tanpa data?
- Bagaimana ia menjelaskan tudingannya di hadapan ratusan Kades?
- Siapa yang mendukung atau membantahnya di ruang rapat?
- Dari mana asal data yang menyebut 80 persen Kades menerima Rp24 juta per transaksi bansos?
- Jika pernyataannya salah, mengapa disampaikan dengan sangat yakin di depan media?
Pernyataan-pernyataan ini kini bergulir menjadi rasa penasaran publik. Situasinya ibarat asap yang sudah keluar dari tungku: sulit menarik kembali.
Anggota dewan yang bersangkutan juga memegang jabatan penting di Badan Kehormatan DPRD Banyuwangi, sebuah posisi yang menuntut integritas, ketelitian, profesionalitas, dan kehati-hatian. Masyarakat tentu berharap pejabat semacam ini mampu menyampaikan informasi berbasis data, bukan asumsi.
Di sisi lain, kades juga dituntut transparan. Para kades yang merasa disudutkan pun kini dihadapkan pada tuntutan publik untuk menunjukkan transparansi. Jika merasa tak bersalah, mereka ditantang membuktikan bahwa tudingan itu tidak benar.
Dan kini, muncul pertanyaan besar yang menggemuruh:
“Kalau warganet meminta audit menyeluruh di tingkat desa, apakah para Kades siap?”
Audit bukan semata pembuktian salah atau benar. Audit adalah proses memastikan bahwa pengelolaan dana publik berjalan dengan akuntabel. Jika benar para Kades bersih, audit akan menjadi jalan pembuktian paling elegan. Sebaliknya, jika ada yang tidak sesuai, publik berhak tahu.
Aroma tensi politik ini seolah membentur dinding kesadaran publik tentang betapa pentingnya integritas pejabat dan perangkat desa. Semua pihak baik legislator maupun eksekutor di tingkat desa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Yang benar harus ditegakkan, yang salah harus disingkap. Selebihnya, publik hanya ingin satu hal: kejujuran.
Terlepas dari ramai-rame warganet, satu hal pasti: opini publik tidak bisa diremehkan. Di era digital yang serba terbuka, suara rakyat tak lagi bisa ditutup rapat. Dan kini, bola ada di tangan para pemangku kepentingan.
Menanti langkah selanjutnya: apakah ke arah transparansi atau justru kembali menjadi kabut informasi. (**)
Opini : Tulisan Redaksi
- person


Saat ini belum ada komentar