Haul Agung ke-482 Sunan Pandanaran Bayat: Warisan Wali Penanda Zaman Penjaga NKRI
- News
- calendar_month Senin, 26 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Klaten, InfoBanyuwangi.com – Ribuan jemaah memadati Kompleks Pendopo Sunan Pandanaran, Bayat, Klaten, Sabtu malam Ahad (24/1), dalam peringatan Haul Agung Sunan Pandanaran ke-482. Kegiatan religius tahunan ini mengusung tema “Sunan Pandanaran Bayat: Sang Wali Penanda Zaman”, yang menegaskan relevansi nilai-nilai dakwah para wali dalam menjaga persatuan bangsa.
Acara berlangsung khidmat dengan rangkaian pembacaan manaqib, mauidzah hasanah, serta doa bersama untuk keselamatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam pembacaan manaqib, Gus Tino Suharjo mengulas peran strategis Sunan Pandanaran sebagai “Penanda Zaman”, sosok ulama yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika sosial dan keagamaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur pasca runtuhnya Kerajaan Demak.
Menurutnya, sejarah Tembayat tidak dapat dilepaskan dari konsep Patembayatan, yakni nilai luhur yang mengedepankan gotong royong, tepa selira (toleransi), serta melu handarbeni (rasa memiliki).
“Nilai-nilai Patembayatan inilah yang menjadi akar sosiologis lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Gus Tino.
Sementara itu, Ketua LPP PBNU, H. Tumiyono, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Bayat dalam merawat tradisi haul. Ia menyebut Tembayat sebagai tanah penuh keberkahan, tempat lahirnya tokoh-tokoh besar yang berperan penting dalam sejarah spiritual Nusantara.
“Tembayat adalah pusat spiritual yang melahirkan ulama dan tokoh besar dengan kontribusi nyata bagi bangsa,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Haul Agung Sunan Pandanaran membawa keberkahan sekaligus kemaslahatan bagi masyarakat Klaten. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen untuk memasukkan haul tokoh-tokoh besar Klaten ke dalam agenda resmi daerah.
“Ini langkah konkret pelestarian sejarah agar generasi muda tidak kehilangan jati diri dan akar budayanya,” tegas Mas Bupati, sapaan akrabnya.
Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh Rektor INSURI Ponorogo sekaligus Pengasuh Ponpes Darur Ridlo, Dr. K. Muhamad Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Sunan Pandanaran yang santun, inklusif, dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.
“Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, menjaga persatuan dan memperkuat akar spiritualitas adalah kunci agar bangsa ini tidak terombang-ambing,” pesannya.
Peringatan Haul Agung Sunan Pandanaran ke-482 ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran MWC NU Bayat dalam menjaga tradisi keagamaan serta merawat persatuan nasional di tengah perubahan zaman. (amn)
- person


Saat ini belum ada komentar