Gejolak Muskorda IJTI Banyuwangi: Deretan Jurnalis TV Ancam Hengkang massal?
- News
- calendar_month Minggu, 7 Des 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyuwangi, InfoBanyuwangi.com – Gelombang ketegangan belum mereda setelah Musyawarah Koordinator Daerah (Muskorda) II Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banyuwangi digelar. Tidak hadirnya sejumlah jurnalis televisi nasional dalam forum tersebut kini memicu gejolak baru.
Para jurnalis yang memilih abstain itu bahkan berencana hengkang massal dari IJTI dan merapat ke Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi.
Deretan media mainstream seperti TVOne, CNN Indonesia TV, SCTV, Detikcom, NusantaraTV, NTV, hingga Banyuwangi1TV menjadi motor aksi protes ini. Mereka menilai IJTI Banyuwangi semakin tidak sehat, tidak transparan, dan mulai dikontrol oleh kelompok tertentu.
Eka Rima, pengurus Bidang Humas IJTI Korda Banyuwangi periode 2023–2025, menjadi salah satu yang paling vokal. Ia menilai arah organisasi mulai melenceng dari ruh profesionalitas.
“Sangat memalukan jika nantinya IJTI Banyuwangi dikontrol oleh satu pihak atau kepentingan golongan saja,” tegasnya.
“Organisasi ini seharusnya melindungi jurnalis, bukan bertindak seperti organisasi politik,” tambah Rima.
Rima juga mempertanyakan posisi Syamsul Arifin alias Bono yang kembali terpilih sebagai Ketua IJTI Banyuwangi secara aklamasi.
“Bono bahkan bukan jurnalis televisi. Syarat dasar itu saja sudah tidak benar,” ujarnya.
Perempuan yang juga jurnalis detikcom ini mengungkapkan bahwa dirinya menjadi salah satu yang dipersulit dalam proses keanggotaan. Ia mengklaim mutasi dari IJTI Surabaya ke IJTI Banyuwangi sengaja ditahan.
“Saya direkomendasikan IJTI Surabaya. Tapi ID tidak keluar, surat mutasi ditahan. Ini jelas amputasi keanggotaan karena mereka takut elektabilitas saya tinggi,” ujarnya.
“Padahal hasil rapat pusat waktu itu jelas: urus mutasi dan SK tidak sampai sehari bisa selesai. Kecuali kalau sengaja diganjal, takut kalah kalau kontestasinya fair,” candanya.
Di sisi lain, Kepala Bidang Organisasi IJTI Banyuwangi 2023–2025, Chofi Zamani, mengaku sudah berkoordinasi dengan para jurnalis televisi senior. Menurutnya, kondisi internal IJTI semakin tidak kondusif.
“Kalau tetap di IJTI Banyuwangi, kami akan terus berbenturan. Ini tidak sehat,” kata Chofi.
Ia mengungkapkan munculnya rencana membentuk wadah baru bernama Aliansi Jurnalis Televisi Nasional (Aljin) Banyuwangi.
“Masih rencana. Kalau organisasi makin rumit, ya bikin Aljin,” ujarnya sambil tertawa.
Tidak berhenti di situ, wacana pindah ke PWI Banyuwangi juga menguat. Chofi menyebut peluang itu terbuka.
Sementara itu, Ketua PWI Banyuwangi Budi Wiriyanto menyebut pihaknya belum menerima permohonan resmi dari para jurnalis televisi tersebut.
“Belum ada konfirmasi apa pun,” ungkapnya.
“Tapi PWI sebagai organisasi pers tertua tentu tidak boleh menolak siapa pun selama memenuhi syarat sebagai wartawan.”
Ia menegaskan bahwa PWI terbuka bagi semua kalangan jurnalis.
“Selama memenuhi syarat, kenapa tidak? Kita semua satu profesi,” tutupnya. (**)
- person


Saat ini belum ada komentar