Drama Monumen Rusak, Kabel Semrawut & Penyambutan Sederhana: Fakta Mengejutkan Napak Tilas Ngurah Rai di Lima Kabupaten Terakhir
- Seni Budaya
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bali, InfoBanyuwangi.com – Perjalanan Berlanjut ke Klungkung: Mobil Patwal Mendadak Mati di Lokasi Sama seperti Tahun 2023
Pada 14 November 2025, rombongan memasuki Kabupaten Klungkung. Upacara serah terima Pataka dilaksanakan di Alun-Alun Ida Dewa Agung Jambe, kemudian Pataka diarak keliling Klungkung Daratan dan disemayamkan di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya.
Rombongan melakukan long march menuju Monumen Puputan Klungkung, simbol perjuangan rakyat melawan Belanda. Ketika menuju Tugu Pahlawan di Dusun Pangi, peristiwa janggal terjadi.
“Mobil patwal mendadak mati, sama seperti kejadian tahun 2023. Selalu di tikungan yang sama. Polisi pun heran, tapi kami tetap melanjutkan penghormatan,” tutur Rai Riawati.
Bangli: Penyambutan Seperti Odalan dan Kudapan Alami Bikin Terpesona
Rombongan memasuki Bangli pada 15 November 2025. Bupati Sedana Arta dan Wakil Bupati Wayan Diar menyambut lengkap dengan pakaian Pasukan Pengibar Panji (PPM).
Bangli menjadi kabupaten dengan penyambutan paling meriah, menyerupai suasana odalan, lengkap dengan Bleganjur, tarian penyambutan, dan seni bela diri Tingklung.
Masyarakat menyajikan hidangan khas dengan bahan alam:
- keladi perkedel,
- urapan pakis,
- ikan teri danau,
- jajanan berwadah daun kelapa berbentuk canang ceper.
Semua dibungkus daun jati, menjaga keaslian tradisi.
Pataka kemudian disemayamkan di Tugu Pahlawan Penglipuran, disertai sarasehan dan joget bumbung.
Gianyar: 22 Monumen Disinggahi, Tapi Kabel Semrawut Ganggu Monumen Dipta
Pada 16 November, Napak Tilas tiba di Gianyar. Upacara serah terima berlangsung di Alun-Alun Gianyar sebelum rombongan mengunjungi 22 monumen perjuangan.
Di Monumen Kapten I Wayan Dipta, peserta melihat kabel-kabel listrik berseliweran dan mengganggu masyarakat yang ingin berfoto.
“Ini perlu menjadi catatan penting bagi pemerintah, bukan hanya Gianyar, tetapi kabupaten lain juga,” ujar Rai.
Denpasar: Bau Sampah Menyengat di Kawasan Monumen Ngurah Made Agung
Pada 17 November, agenda berlanjut ke Denpasar. Di Monumen I Gusti Ngurah Made Agung, rombongan mendapati bak sampah berbau menyengat di sisi timur monumen.
Rai menilai posisi bak sampah sangat mengganggu nilai historis dan estetika kawasan.
Dari monumen, perjalanan berlanjut ke Puri Kesiman, tempat Pataka disemayamkan satu jam.
Badung dan Tabanan: Penyambutan Sederhana, Isu Kebersihan hingga Upah Pekerja
Di Badung, penyambutan berlangsung sederhana karena bertepatan dengan persiapan Penampahan Galungan.
Pada 18 November, rombongan memasuki Tabanan. Perjalanan panjang melewati sejumlah lokasi bersejarah termasuk Desa Bengkel Sari, Lumbung, MBO Munduk Malang, hingga finish di Pura Dalem Basa Ole.
Di MBO Munduk Malang, peserta menemukan ruangan kotor dipenuhi sampah banten serta koleksi foto monumen yang sudah luntur.
Bahkan terungkap pekerja hanya menerima tali asih, bukan upah layak.
Spirit Puputan Margarana: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”
Rai Riawati menegaskan bahwa Napak Tilas bukan sekadar tradisi, melainkan ruang edukasi untuk merawat nilai keberanian dan kejujuran para pahlawan.
“Mari pasang bendera di hari bersejarah sebagai wujud cinta tanah air. Semangat Puputan harus hidup terus pantang menyerah dan jujur melangkah. Sekali merdeka tetap merdeka,” pungkas Rai yang didampingi pengawal Isnaini dan Eddy. (**)
- person


Saat ini belum ada komentar