Terungkap! Kisah Mistis & Heroik Napak Tilas 79 Tahun I Gusti Ngurah Rai di Jembrana hingga Buleleng
- Wisata
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bali, InfoBanyuwangi.com – Rangkaian Napak Tilas ke-79 Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai kembali menghidupkan jejak heroik perjuangan Sang Jenderal Gunung Agung. Kegiatan yang melintasi sembilan kabupaten/kota ini dimulai pada 11 November 2025, ketika rombongan resmi dilepas Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra menuju Kabupaten Jembrana.
Setibanya di Jembrana, dilaksanakan upacara serah terima Pataka, Panji-Panji, dan Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai kepada Wakil Bupati Jembrana I Gede Patriana Krisna. Pataka sakral itu kemudian diarak keliling wilayah Jembrana.
Wakil Ketua Penyelenggara Napak Tilas 79 Tahun, Rai Riawati, menceritakan momen tak terlupakan saat berada di Monumen Gelar, Banjar Palungan Batu, Desa Batuagung.
“Kami merasakan aura heroik yang sangat kuat. Lokasi itu benar-benar menghidupkan kembali sejarah pertempuran di masa lalu,” ungkap sosok yang akrab disapa Bu Agung.
Ia menyoroti kondisi monumen yang licin namun indah, sembari meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terkait perawatan lingkungan, kebersihan, dan penerangan.
Usai istirahat di TMP Kesatria Kusuma Mandala, hujan deras mengguyur peserta. Namun pasukan tetap melanjutkan long march, menyimbolkan ketangguhan pejuang Bali. Perjalanan berlanjut hingga Monumen Pebuahan yang sempat hancur akibat abrasi pada Juni 2024.
Rai Riawati berharap pemerintah segera membangun kembali monumen tersebut.
“Masyarakat perlu tahu peristiwa perang laut pendaratan pasukan Kapten Markadi,” ujarnya.
Pada malam hari, sarasehan bersama Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan berlangsung di Pendopo Kesari, namun sayangnya penerangan mati sehingga acara hanya mengandalkan sorotan lampu kamera humas pemerintah daerah.
Lanjut ke Buleleng : Banyak Sorotan untuk Kebersihan dan Penataan Monumen
Pada 12 November 2025, Pataka menuju Singaraja dan diserahterimakan di Taman Kota Buleleng oleh Wakil Bupati Gede Supriatna.
Rombongan kemudian mengunjungi Monumen Dharma Yudha Mandala di eks Pelabuhan Buleleng. Sayangnya area sekitar monumen tampak kurang terawat, penuh kendaraan parkir dan kondisi terminal yang kotor.
“Pemerintah Singaraja perlu bijak dalam menjaga keaslian dan wibawa monumen perjuangan ini,” tegas Rai.
Pataka kemudian disemayamkan di Monumen Perjuangan Tri Yudha Sakti, yang juga membutuhkan pembenahan khususnya pada aspek penerangan.
Ke Karangasem: Upacara Tetap Berlangsung di Tengah Hujan Lebat
Pada 13 November 2025, serah terima dilaksanakan di Lapangan Gajah Wea, Kecamatan Abang.
Hujan deras mengguyur lokasi, namun Sekda Karangasem I Ketut Sedana Merta memerintahkan tenda dibuka agar upacara tetap berlangsung.
“Inilah teladan bahwa pahlawan tidak kenal panas dan hujan. Semangat itu harus menjadi contoh generasi muda,” kata Rai.
Pataka disemayamkan di TMP Ciung Wanara, tempat lahirnya kisah heroik Pasukan Ciung Wanara dalam pertempuran Tanah Aron pada 7 Juli 1946 yang menewaskan seluruh pasukan NICA tanpa satu pun pejuang Bali gugur. (**)
- person


Saat ini belum ada komentar