Liga Puisi Banyuwangi 2025: Panggung Literasi yang Lahirkan Buku Antologi Guru dan Siswa
- News Pendidikan
- calendar_month Selasa, 28 Okt 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali memperkuat tradisi literasi melalui penyelenggaraan Liga Puisi ke-4 tahun 2025. Ajang bergengsi yang berlangsung pada Senin hingga Kamis, 27–30 Oktober 2025 ini menjadi wadah bagi guru dan pelajar dalam mengekspresikan gagasan lewat karya puisi.
Total 272 peserta mengikuti lomba ini, terdiri dari 44 guru dan 232 siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA sederajat, tak hanya dari Banyuwangi, tetapi juga peserta dari Situbondo dan Bondowoso. Acara pembukaan yang digelar di Grha Pena Radar Banyuwangi dilakukan langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menilai kegiatan ini menjadi upaya strategis membangun budaya literasi daerah. “Dengan berpuisi anak-anak melakukan proses menulis, membaca, dan membangun pemahaman,” tuturnya. Ia menambahkan, kegiatan sastra juga membentuk karakter positif dan melatih empati peserta.
Lebih lanjut, Ipuk mengungkapkan bahwa lomba ini menjadi wadah penting bagi generasi muda agar tidak terlalu larut dalam dunia digital. Ia menilai sastra merupakan media refleksi yang memperkuat daya pikir dan rasa. “Dengan berpuisi, anak-anak dilatih berpikir kritis, mengolah emosi, dan menumbuhkan rasa percaya diri,” jelasnya.
Berkat konsistensi berbagai program literasi, Banyuwangi berhasil mencatat peningkatan capaian pendidikan yang signifikan. Berdasarkan Rapor Pendidikan tahun 2025, hasil Asesmen Nasional 2024 menunjukkan kemampuan literasi jenjang SD/MI mencapai 83,89%, SMP/MTs 85,09%, dan SMA/MA sebesar 82,93%. “Angka ini menunjukkan peningkatan yang terus berkelanjutan. Terima kasih untuk semua pihak yang mendukung,” ujar Ipuk.
Ketua panitia, Samsuddin Adlawi, menjelaskan bahwa sebelum lomba, telah digelar workshop puisi pada Mei dan September 2025 yang melibatkan ratusan pelajar dan guru. Workshop ini menghasilkan dua buku antologi puisi, masing-masing karya pelajar dan guru.
Buku antologi pelajar berjudul “Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi” memuat 117 karya, sementara buku antologi guru “Pahlawan Tanda Tanya?” berisi 67 karya puisi. “Kegiatan ini bukan sekadar lomba, tapi proses panjang pembinaan sastra di kalangan pelajar dan guru,” ujar Samsuddin.
Menariknya, pembukaan Liga Puisi kali ini juga menghadirkan sastrawan nasional Acep Zamzam Noor yang memberikan ceramah sastra dan apresiasi terhadap semangat literasi di Banyuwangi. Ia memuji komitmen daerah yang mampu membangun ekosistem sastra yang aktif dan produktif.
Melalui kegiatan seperti Liga Puisi ini, Banyuwangi berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sastra menjadi jembatan antara ekspresi diri dan pembangunan karakter, menjadikan literasi sastra sebagai pondasi penting menuju masyarakat yang berbudaya.**
Penulis Info Banyuwangi
Penulis percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.


Saat ini belum ada komentar