Mahasiswa Kupang Belajar Sejarah Perang Puputan Bayu di Tengah Hutan Banyuwangi Barat, Ini Pesan Perhutani!
- Pendidikan
- calendar_month Selasa, 11 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Songgon, InfoBanyuwangi.com – Suasana hening kawasan hutan Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, berubah menjadi ruang belajar penuh makna ketika sekelompok mahasiswa dari Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang mengikuti pembekalan sejarah dan kearifan lokal dari Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat), Minggu (9/11/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Tetenger Puputan Bayu itu menjadi bagian dari program magang mahasiswa yang saat ini tengah belajar tentang pengelolaan hutan dan nilai-nilai budaya lokal yang hidup di kawasan kerja Perhutani.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Rogojampi, Adi Raharjo, menjelaskan bahwa pembekalan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis kehutanan, tetapi juga mengenalkan sejarah perjuangan masyarakat Blambangan melalui kisah Perang Puputan Bayu.
“Mereka tidak hanya belajar teknik kehutanan, tapi juga kearifan lokal Banyuwangi. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa hutan tidak hanya menyimpan sumber daya alam, tapi juga nilai sejarah perjuangan bangsa,” ujar Adi.
Lebih lanjut, Adi menuturkan bahwa Tetenger Puputan Bayu merupakan monumen yang dibangun untuk memperingati perlawanan rakyat Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Jagapati (Mas Rempeg) melawan penjajahan VOC Belanda pada tahun 1771–1772.
“Perang Puputan Bayu menjadi simbol perlawanan habis-habisan rakyat Blambangan untuk mempertahankan wilayahnya, dan peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi yang diperingati setiap 18 Desember,” jelasnya.
Sementara itu, Etwin, Ketua Mahasiswa Magang Politani Kupang, mengaku kagum dengan cara Perhutani mengemas pembelajaran lapangan yang sarat nilai perjuangan.
“Sejarah Puputan Bayu bukan hanya kisah perlawanan, tapi juga pelajaran tentang semangat, pengorbanan, dan cinta tanah air. Ini penting untuk generasi muda seperti kami agar tidak melupakan akar sejarah bangsa,” katanya.
Etwin menambahkan, semangat persatuan yang ditunjukkan para pejuang Blambangan harus menjadi inspirasi bagi generasi muda masa kini.
“Nilai-nilai kepahlawanan itu sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, bagaimana kita tetap bersatu dalam perbedaan untuk membangun Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga hutan sekaligus melestarikan nilai sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya. (**)
- person


Saat ini belum ada komentar