Tumpeng Sewu, Gambaran Keterbukaan dan Keramahan Suku Using Banyuwangi

1965 views
banner 468x60)

tumpeng sewu banyuwangiBANYUWANGI – Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis malam (17/9) menggelar tradisi Tumpeng Sewu. Ribuan tumpeng yang disajikan oleh seluruh warga desa, dinikmati bersama oleh ribuan pengunjung yang ikut merayakan selamatan kampung ini.

Sore tadi, tampak Sulastri warga Kemiren sibuk menyiapkan tumpeng pecel pitik. Bersama anaknya, Sulastri menyuguhkan 3 ekor ayam kampung di depan rumahnya. Saat melihat ada pengunjung yang melintas, Sulastri spontan mengajak mereka turut makan bersama lesehan di depan rumahnya. “Mreneo bu. Lungguho mriki, madang bareng,” ajaknya.

Bukan hanya Sulastri, namun ratusan warga Kemiren lain pun melakukan hal yang sama. Mereka mengajak semua warga di luar Kemiren yang hadir untuk ikut makan bersama dalam rangka selametan Tumpeng sewu.

Tumpeng Sewu adalah ritual adat selamatan massal yang digelar di Desa Kemiren, salah satu basis Using, masyarakat asli Banyuwangi. Digelar seminggu sebelum Idul Adha, tradisi ini bertujuan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang diterima warga Kemiren.

Sejak dua tahun terakhir, tradisi tumpeng sewu sengaja diangkat ke dalam agenda pariwisata daerah bertajuk Banyuwangi Festival. Tujuannya untuk melestarikan kearifan lokal Banyuwangi sekaligus mengenalkan tradisi dan budaya daerah ke tingkat yang lebih luas.

“Tradisi Tumpeng Sewu ini bagian dari upaya merawat tradisi dan kearifan lokal. Tradisi ini juga menggambarkan keterbukaan dan keramahan suku Using yang ingin kita kenalkan ke khalayak luas,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

tumpeng sewu banyuwangi 2

Sementara itu, sesepuh adat Desa Kemiren, Juhadi Timbul mengatakan selamatan tumpeng sewu berawal dari cerita seseorang yang menjerit meminta tolong karena kesakitan dan warga yang mendengar jeritan tersebut spontan mencari orang yang minta tolong.

Warga yang menjerit tersebut adalah Mbah Ramisin yang sedang kesurupan, kemudian Mbah Ramisin mengaku bahwa dirinya adalah Buyut Cili (tetua adat Desa Kemiren) yang meminta warga desa setempat melakukan selamatan satu tahun sekali.

“Dalam acara selamatan itu, warga juga berdoa agar warga Desa Kemiren dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Sebab itulah warga Using menjaga tradisi itu hingga turun menurun,” katanya menjelaskan.

Pada ritual tumpeng sewu ini setiap rumah warga Using minimal akan mengeluarkan satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Tumpeng ini adalah nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Using, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur kelapa).

Bentuk mengerucut pada tumpeng itu sendiri ini memiliki makna khusus, yakni petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni “ngucel-ucel barang sithik”. Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Pada perayaan tumpeng sewu, setiap pengunjung yang datang dipersilahkan untuk menikmati hidangan tersebut secara gratis. Pendatang pun bisa berbaur tanpa jarak dengan warga setempat untuk menikmati tumpeng sewu ini.

“Acara ini sangat menyenangkan kita bisa makan bareng-bareng bersama orang banyak di sepanjang jalan. Makanannya saya suka meski sedikit pedas,” ujar Christopher Reid, seorang turis asal Kanada yang ikut di acara ini.

Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), Tumpeng Sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum makan bersama, warga Desa Kemiren mengawalinya salat maghrib berjamaah dan doa bersama. Sebelum selamatan dimulai, masyarakat juga “ngarak barong” sebagai simbol penjaga Desa Kemiren.

Melengkapi tradisi Tumpeng Sewu, pada siang hari, warga desa melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara masal. Uniknya, semua kasur yang dijemur berwarna hitam dan merah. Warga Suku Using beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing-masing agar terhindar dari segala jenis penyakit. Penjemuran kasur ini bisa ditemui di sepanjang jalan Desa Kemiren, mulai pagi hingga sore. “Juga akan digelar selamatan desa di makam Buyut Cili, leluhur desa,” imbuh Timbul. (Humas Protokol)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply

*