Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BANYUWANGI FESTIVAL » Tradisi Puter Kayun Warga Osing Banyuwangi

Tradisi Puter Kayun Warga Osing Banyuwangi

(927 Views) July 16, 2016 2:18 pm | Published by | No comment

Ritual Napak Tilas Sambil Naik Dokar

Tradisi puter kayun Banyuwangi

Tradisi puter kayun Banyuwangi

Banyuwangi, Memorandum – Masyarakat Osing Banyuwangi memiliki banyak tradisi di bulan Syawal ini. Selain Ritual Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, setiap usai Lebaran juga ada tradisi Puter Kayun yang dilakukan oleh warga Osing Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri.

Ritual ini digelar satu tahun sekali tepatnya hari ke-10 bulan Syawal. Dalam tradisi ini, ratusan warga beramai-ramai mengendarai dokar (delman) mulai dari Kelurahan Boyolangu menuju kawasan wisata Pantai Watu Dodol sejauh lima belas kilometer. Seperti yang dilakukan Jumat (15/7) siang kemarin, belasan dokar yang dihias aneka bunga cantik dan beragam asesoris yang menarik layaknya andong wisata. Dokar-dokar ini adalah milik warga Boyolangu yang memang masih memegang adat Puter Kayun.

Tradisi Puter Kayun dibuka oleh Bupati H Abdullah Azwar Anas. Dalam kesempatan itu Bupati Anas mengatakan bahwa tradisi puter kayun yang masuk Banyuwangi  Festival ini berasal dari masyarakat yang tumbuh dari bawah. Bupati menyatakan bangga bahwa tradisi puter kayun ini bisa masuk agenda besar Banyuwangi festival. Tradisi ini benar-benar prakarsa dari bawah dan pemerintah daerah akan terus mewadahi dan selalu nguri-nguri budaya yang telah tumbuh dan menjadi identitas masyarakat. “Banyuwangi festival akan konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat. Festival yang sifatnya tradisi lokal akan tetap kami gelar di daerah tersebut, bukan justru kami usung ke kota. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, ini juga sebagai cara untuk menumbuhkan banyak obyek atraksi wisata di Banyuwangi,” ujar Anas.

Selanjutnya Bupati Anas memecah kendi sebagai tanda dimulainya tradisi Puter Kayun. Anas mendapat kesempatan naik dokar utama, diikuti tamu dan warga desa lain yang ada di urutan belakangnya. Sambil dokar berjalan, seluruh masyarakat Boyolangu berdiri mengiringi dokar-dokar di sepanjang jalan yang menjadi rute puter kayun. Sampai di urutan dokar terakhir, masyarakat pun bergeas mengikuti rombongan dokar-dokar ini hingga di pantai Watu Dodol.

“Ini tradisi leluhur yang sangat menyenangkan. Bisa bareng-bareng tamasya dan selamatan bersama di pantai Watu Dodol.  Dan ini harus kami ikuti sampai selesai ritual Puter Kayunnya, dan kembali bersama-sama pula,” ujar Ahmad, salah seorang warga asli Boyolangu.

Setelah sampai di Pantai Watu Dodol, mereka juga menggelar selamatan dengan makan bersama di sepanjang pantai sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang mereka dapatkan selama setahun terakhir.

Selain selamatan, sebagian tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan. Tradisi tersebut ternyata juga menjadi ajang berlibur dan bersilaturahmi bagi mereka yang tak sempat bertemu selama Lebaran.

Ketua adat Puter Kayun, Mohamad Ikrom, menjelaskan, rute yang dilalui parade delman ini adalah menyusuri jejak dari leluhurnya, yakni Ki Buyut Jakso. “Konon, dulu saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso, karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Buyut Jakso kemudian bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar),” tutur Ikrom.

Sejak itu, lanjut Ikrom, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya. “Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar. Hingga ada yang menyebut puter kayun ini sebagai lebarannya kusir dokar,” ujarnya.

(bud/hum)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in: ,

No comment for Tradisi Puter Kayun Warga Osing Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*