Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Tradisi ‘Manten Kurung’ Warga Kampung Mandar Dihidupkan Kembali

Tradisi ‘Manten Kurung’ Warga Kampung Mandar Dihidupkan Kembali

(696 Views) September 25, 2016 9:59 am | Published by | No comment
tradisi-manten-kurung-banyuwangi

– Tradisi Arak-arakan ‘Manten Kurung’ Warga Kampung Mandar

Banyuwangi, Memorandum – Karena tergerus perubahan zaman, ditambah lagi dengan kurang pedulinya generasi penerus untuk melestarikannya, tidak sedikit adat-tradisi dan budaya masyarakat keturunan Mandar (Sulawesi) yang tinggal di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, mulai hilang. Beberapa yang masih ada dan mampu bertahan adalah tradisi ‘Saolak’, yakni ritual yang diselenggarakan secara insidentil oleh masing-masing keluarga untuk kepentingan hajatan, keselamatan dan bentuk ‘komunikasi’ dengan para leluhurnya.

Tradisi ‘Saolak’ biasanya digelar oleh satu keluarga yang akan menyelenggarakan acara pernikahan, khitanan, atau hajatan lainnya, dengan meminta ‘restu’ kepada leluhur. Warga Mandar meyakini, bila tradisi ‘Saolak’ tidak digelar, maka para leluhur akan ‘menegurnya’ melalui pesan-pesan mistis, misalnya, kesurupan yang tingkah-lakunya seperti gerakan-gerakan Buaya, atau atau tanda-tanda mistis lainnya.

Selain diawali dengan tradisi ‘Saolak’, menjelang puncak acara hajatan pernikahan biasanya juga dilakukan tradisi Arak-arakan Calon Pengantin yang disebut dengan nama; ‘Arak-arakan Manten Kurung’. Setelah sekitar 18 tahun lebih tidak pernah digunakan, kini Tradisi unik Ngarak Pengantin khas warga Mandar tersebut coba dihidupkan kembali oleh kalangan muda Kampung Mandar.

Sebagaimana yang berlangsung ‘pada Jum’at (22/9) malam, calon pengantin pria diarak beramai-ramai dari rumahnya menuju tempat hajatan di rumah pengantin wanita. Arak-arakan diringi dengan tetabuhan yang disebut ‘Rabbana Rodrat’, dengan sejumlah penari yang berjalan mundur dan berada didepan iring-iringan. Konon pada masa-masa lalu, iring-iringan pengantin itu diterangi dengan obor minyak yang dibawa oleh para pengiring. Sedangkan para penari yang menari sambil bergerak mundur hingga ke tempat hajatan, adalah teman-teman para pengantin yang sengaja ‘mengantar’ pengantin ke pelaminan.

Menurut Ricky dan Liha, pegiat adat-budaya Mandar, upaya menghidupkan kembali adat-tradisi leluhur itu sangat penting untuk mengingatkan kepada generasi muda tantang keberadaan dan peninggalan nenek-moyangnya. Karena itu, meski belum sempurna dalam merekonstruksi sebuah adat-tradisi, namun upaya kearah itu telah dilakuaknnya.

“Untuk tradisi ngarak  Manten Kurung, kalau dulu penerangannya pakai obor minyak. Tetapi sekarang sudah berubah pakai listrik. Selain itu, pengantin yang saat diarak berada dalam kurungan semacam kandang, kini malah jauh berubah. Jelas Kita kecewa. Tetapi setidaknya kita akan terus berupaya untuk merekonstruksi seperti tradisi aslinya,” ungkap Liha.(bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Tradisi ‘Manten Kurung’ Warga Kampung Mandar Dihidupkan Kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*