Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » EKONOMI » Tekan Inflasi Dengan Kerjasama Antar Daerah

Tekan Inflasi Dengan Kerjasama Antar Daerah

(654 Views) October 23, 2015 1:37 pm | Published by | No comment

Banyuwangi  –  Kerjasama antar daerah menjadi salah satu strategi untuk menekan laju inflasi . Hal ini disampaikan Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah, Bank Indonesia Jatim, Taufik Saleh saat rapat koordinasi bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) se eks Karisidenan Besuki dan Lumajang di aula Minak Jinggo, Kantor Pemkab Banyuwangi, Kamis (22).

Taufik mengatakan, kerjasama antar daerah menjadi salah satu strategi pengendalian inflasi Bank Indonesia untuk wilayah Jawa Timur. “Kerjasama akan dilakukan dengan menghubungkan daerah yang surplus atas komoditi pangan tertentu dengan daerah yang kurang,” kata Taufik.

Misalnya saja, kata Taufik daerah dengan potensi surplus beras seperti Jember dan Banyuwangi bisa memasok beras ke daerah defisit beras seperti Kota Surabaya, Malang,  Kediri, Probolinggo dan Madiun. Atau daerah suplus bawang merah seperti Kota Probolinggo bisa memasok daerah defisit bawang merah seperti Kota Surabaya, Jember,  Banyuwangi dan Sumenep. “Dengan cara ini bisa membuat harga lebih stabil dan melindungi baik konsumen maupun petani,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Taufik kerjasama antar daerah sebenafrnya telah dilaksanakan, baik antar kabupaten/kota maupun antar provinsi. Namun demikian, kerjasama tersebut dilakukan oleh pihak swasta (pedagang) sehingga tidak terlalu efektif dalam menjaga stabilitas harga.

Sebab, pedagang lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan mitra dagangnya daripada daerahnya, sehingga seringkali mendorong tingginya harga di daerah sentra produsen. “Karena itulah butuh peran serta pemerintah daerah sebagai fasilitator dalam mewujudkan kerjasama ini, bisa Disperindag. Kami akan mulai mengawal kerjasama antar daerah ini di wilayah eks karisidenan Besuki dan Lumajang, ” tutur Taufik.

Selain kerjasama antar daerah, Taufik mengatakan untuk menekan laju inflasi juga bisa dilakukan dengan  peingkatan produksi, Operasi Pasar melalui Bantuan Ongkos angkut, mendorong potensi komoditas lokal untuk dapat mensubtitusi barang-barang impor,  dan pengawasan intensif bersama dengan pihak terkait terhadap ketersediaan stok di gudang swasta.

Selain itu pada rapat koordinasi tersebut Bank Indonesia juga merilis inflasi Banyuwangi bulan September sebesar 0,21 persen, lebih rendah dari inflasi Jawa timur yang sebesar 0,29 persen. Komoditas penyumbang inflasi di Banyuwangi antara lain beras  sebesar 1.81 persen, emas perhiasan 3.55 persen, rokok kretek sebesar 3.60 persen,  bawang putih 10.10 persen, upah pembantu sebesar 9.12 dan Lemuru sebesar 8,87 persen.

Sedangkan potensi komoditas pemicu inflasi pada bulan Oktober 2015 diperkirakan diantaranya disebabkan oleh berlanjutnya kenaikan harga beras seiring menipisnya pasokan, kenaikan tarif angkutan udara paska Penetapan kebijakan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 126 Tahun 2015 yang menaikkan tarif batas atas sebesar minimal 10%, “ dan berlanjutnya pelemahan nilai tukar dan dampak lanjutannya terhadap inflasi,” pungkas Taufik. (Humas Protokol)

Categorised in:

No comment for Tekan Inflasi Dengan Kerjasama Antar Daerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*