Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PEMERINTAHAN » Pupuk Jeruk di Lahan Perhutani Dipertanyakan

Pupuk Jeruk di Lahan Perhutani Dipertanyakan

(349 Views) January 18, 2017 11:07 am | Published by | No comment

– Anggota Komisi II DPRD, Andi Purwanto, S.Hut. (Memorandum – Eko Budi Setianto)

Banyuwangi, Memorandum – Penanaman jeruk di areal Hutan Tanaman Produksi (HTP) Perum Perhutani di Petak 119, 120, 121, RPH Kedung Gebang, BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan, ditanggapi serius kalangan DPRD Banyuwangi.

Terlepas ada-tidaknya regulasi yang mengatur tentang penanaman hortikultura dan tanaman tumpangsari lainnya di areal HTP Perhutani, Anggota Komisi II DPRD Banyuwangi, Andi Purwanto, S.Hut., justru menyoroti tentang penggunaan pupuknya. Menurutnya, yang harus dipertanyakan adalah pupuk yang digunakan berasal dari mana dan kategori pupuknya bersubsidi atau tidak.

“Apalagi lokasi penanamannya di areal hutan produksi Perhutani, yang nota-bene adalah tanah Negara. Jadi penggunaan pupuknya harus menggunakan pupuk non-subsidi. Kita belum mendapat data yang jelas, apakah penanaman itu dilakukan oleh ‘pesanggem’ atau pihak Perhutani sendiri,” kata Andik, yang mengaku telah lama mengendus adanya permainan Pupuk oleh Perhutani dengan memanfaatkan Pesanggem.

Sebagaimana diberitakan kemarin, lahan produktif milik Perhutani tersebut ditanami dengan tanaman buah jeruk. Padahal pada lahan tersebut juga terdapat tanaman produksi berupa pohon Mahoni. Pihak Perhutani KPH Banyuwangi Selatan menyebut penanaman tanaman buah jeruk itu dikerjasamakan dengab investor. Penelusuran yang dilakukan Memorandum, tanaman jeruk tersebut berada diantara pohon-pohon Mahoni yang saat ini yang diamaternya antara 5 hingga 10 cm.

Sementara itu, Wakil Administratur Perhutani Banyuwangi Selatan, Heva Tulus Hidayat, S.Hut., tidak membantah adanya tanaman jeruk di lokasi tersebut. Menurutnya, penanaman pohon buah jeruk itu dikerjasamakan dengan investor. Menurutnya, pengelolaan lahan yang dikerjasamakan itu secara aturan diperbolehkan. “Ada aturannya, berupa Kepres (Keputusan Presiden) tapi saya lupa nomornya, Perhutani butuh duwit cepet. Kalau kayu bisa 40 tahun baru panen,” jelasnya. (bud/jay)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Pupuk Jeruk di Lahan Perhutani Dipertanyakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*