Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (3)

Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (3)

(677 Views) September 7, 2016 3:18 pm | Published by | No comment

Semakin Meruncing, Mengarah ke Fitnah dan ‘Adu Domba’

Pro Kontra Seragam Guru, Jumantok, Teguh, Salimi

1. Jumanto, Ketua Adat Osing Bakungan
2. Drs. Teguh Sumarno, MM, Ketua PGRI Banyuwangi
3. Salimi, Sekretaris Komisi IV DPRD Banyuwangi

Banyuwangi, Memorandum – Penggunaan kultur dan budaya masyarakat tradisional sebagai sebuah kebijakan publik, menjadikan kebijakan tersebut sangat beresiko dan sensitif. Terbukti, pro-kontra tentang penerapan kebijakan penggunaan seragam bernuansa tradisional ‘Osing’ kepada para guru sebagaimana yang disampaikan Pemkab Banyuwangi melalui surat edaran kepada seluruh Lembaga Sekolah, semakin meruncing dan mulai mengarah ke hal-hal yang bersifat adu-domba antar kelompok masyarakat. Ironisnya, aksi adu domba ditangkap budayawan adat osing Banyuwangi.

Sebagaimana diberitakan oleh media harian lokal di Banyuwangi, Lembaga Adat Osing Desa (LAOD) Kemiren  melalui Ketuanya, Purwadi, menyatakan tersinggung dengan statemen Ketua PGRI Banyuwangi, Drs Teguh Sumarno, terkait koreksinya terhadap kebijakan penggunaan seragam baru tersebut.

Terkait masalah tersebut, salah satu Pengurus Lembaga Adat Osing, Jumantok, juga Ketua Lembaga Adat Oseng Desa Bakungan, mencoba menghubungi beberapa media massa, termasuk Harian Memorandum,  untuk meng-klarifikasi pernyataan Ketua PGRI tersebut. Jumantok mengaku ia ditugaskan oleh Lembaga Adat Osing Desa Kemiren yang dipimpin Purwadi, untuk menanyakan langsung masalah tersebut. “Saya ini diutus oleh Lembaga Adat Osing. Intinya, kita ingin mengklarifikasi pernyataan Ketua PGRI yang mengatakan bahwa ‘penggunaan busana adat Osing sebagai seragam guru, ‘tidak etis’,” kata Jumanto, saat ditemui Memorandum di Banyuwangi, Selasa (6/9).

Saat ditanyakan tentang sumber yang memuat pernyataan Ketua PGRI tersebut, Jumanto mengaku tidak tahu persis. “Saya hanya diminta untuk melakukan klarifikasi. Itu saja. Sumbernya dari media massa apa, saya juga tidak tahu persis,” kata Jumanto, sembari mengaku akan mendalami lagi masalah tersebut.

Bahkan, diakui Jumantok, dirinya hanya mendengar kabar sepihak saja tentang pernyataan Ketua PGRI Banyuwangi itu. “Katanya (Pak Teguh) ngomong, busana osing itu tidak etis. Ini yang sempat saya kaget. Saya ditelpone Pak Pur, disuruh mengklarifikasi ke media. Rencananya kalau tidak ada jawaban klarifikasi, akan turun jalan,” kata Jumantok.

Padahal yang sebenarnya, sebagaimana dimuat di Memorandum Edisi, kemarin, Senin (5/9), Teguh Sumarno menyatakan bahwa; penggunaan seragam tradisional ‘hitam – hitam’ oleh para guru ketika berlangsungnya proses belajar-mengajar, dipastikan akan berpengaruh besar terhadap daya serap dan pola pikir anak-anak didik. Menurut Teguh, perintah penggunaan seragam seperti itu harus dievaluasi. Sebab, pengaruhnya akan sangat besar terhadap proses belajar-mengajar. Anak-anak didik pasti akan memandang ‘aneh’ penampilan gurunya yang sedang mengajar dengan menggunakan seragam mencolok seperti itu. Dan lama kelamaan, menurut Teguh, itu akan berpengaruh terhadap pola pikir anak-anak didik.

Teguh juga mengingatkan, bila ide dan alasan penggunaan seragam itu berorientasi pada kultur-budaya tradisional, justru akan kontras dengan kondisi Banyuwangi yang sudah sangat ‘plural’ dan multi-etnis. “Sekadar mengingatkan, bahwa warga Banyuwangi bukan hanya orang ‘Osing’ saja, tetapi juga ada China, Jawa, Arab, Madura, Bugis, dan banyak lagi yang lainnya. Kalau mereka protes dan menginginkan pakaian tradisonalnya juga ditetapkan sebagai seragam guru, kan ya.. runyam,” ungkap Teguh, yang berharap agar kebijakan tersebut dievaluasi lebih mendalam dan jangan sampai mengganggu dunia pendidikan.

Bahkan Memorandum, langsung mendatangi rumah Purwadi di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, namun rumahnya tertutup, dan menurut tetangganya kemungkinan pergi ke sawah. “Teng sawah paling pak? (ke sawah mungkin Pak?),” ungkapnya.

Pro-kontra masalah seragam guru bernuansa ‘hitam-hitam’ tersebut juga mendapat perhatian serius kalangan wakil Rakyat di gedung DPRD. Sebagaimana disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Salimi, bahwa Pemkab Banyuwangi harus bisa menanggapi pro-kontra seperti itu sebagai sebuah masukan.

“Bila sebuah kebijakan itu mengalami pro-kontra yang begitu luas, pasti ada yang tidak beres. Untuk itu, saya berharap Pemkab Banyuwangi melakukan evaluasi dan mengkaji kembali kebijakan seragam baru tersebut. Jangan sampai, masyarakat Banyuwangi yang selama ini sudah sangat plural, tenang dan bisa hidup rukun berdampingan, menjadi terganggu oleh hal-hal sepele seperti itu,” kata Salimi. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*