Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (1)

Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (1)

(813 Views) September 5, 2016 12:40 pm | Published by | No comment

Ketua PGRI; “Mempertaruhkan Kewibawaan Guru”

pro-kontra seragam 'hitam-hitam' bagi guru (Teguh Sumarno)

– Ketua PGRI Banyuwangi, Drs Teguh Sumarno

Banyuwangi, Memorandum – Keputusan Pemkab Banyuwangi yang mewajibkan para guru untuk mengenakan seragam bernuansa tradisional berwarna ‘hitam – hitam’, mendapat reaksi keras berbagai kalangan, termasuk dari lingkungan dunia pendidikan sendiri. Menurut beberapa tokoh masyarakat, penetapan penggunaan seragam yang dinilai sangat ‘kontras’ dengan dunia pendidikan itu bahkan bisa mempertaruhkan kewibawaan guru dihadapan para peserta didik.

Sebagaimana diungkap Ketua PGRI Kabupaten Banyuwangi, Drs Teguh Sumarno, penggunaan seragam tradisional ‘hitam – hitam’ oleh para guru ketika berlangsungnya proses belajar-mengajar, dipastikan akan berpengaruh besar terhadap daya serap dan pola pikir anak-anak didik. “Perintah untuk penggunaan seragam seperti itu harus dievaluasi. Sebab pengaruhnya akan sangat besar terhadap proses belajar-mengajar. Anak-anak didik pasti akan memandang aneh penampilan gurunya yang sedang mengajar dengan menggunakan seragam mencolok seperti itu. Dan lama kelamaan, itu akan berpengaruh terhadap pola pikir anak-anak didik,” ungkap Teguh Sumarno, sebagaimana disampaikan kepada Memorandum, Sabtu (3/9).

pro-kontra seragam 'hitam-hitam' bagi guru (Abdurrachman)

– H Abdurrachman

Bila ide penggunaan seragam ‘hitam-hitam’ itu berorientasi pada kultur-budaya tradisional, menurutTeguh, justru akan kontras dengan kondisi Banyuwangi yang plural dan multi-etnis ini. “Sekadar mengingatkan, bahwa warga Banyuwangi bukan hanya orang ‘Osing’, tetapi juga ada China, Jawa, Arab, Madura, Bugis, dan banyak lagi yang lainnya. Kalau mereka protes dan menginginkan pakaian tradisonalnya juga ditetapkan sebagai seragam guru, kan ya runyam,” ungkap Teguh, yang berharap agar kebijakan Pemkab Banyuwangi tentang penetapan penggunaan seragam ‘hitam – hitam’ itu dievaluasi lebih mendalam dan jangan sampai mengganggu dunia pendidikan.

Hal senada juga diungkap oleh H Abdurrachman. Menurutnya, upaya peningkatan kualitas dan kuantitas dunia pendidikan jauh lebih penting daripada memikirkan masalah seragam guru. Tokoh masyarakat ini menganggap, banyak hal dan sarana-prasarana pendidikan yang seharusnya menjadi skala-prioritas kebijakan Pemkab.

“Beberapa tahun silam, murid dalam satu kelas itu hanya sekitar 25 – 30 anak. Sekarang ini satu kelas minimal 40 – 50 anak. Ini yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah, bagaimana sarana-prasarana it uterus ditingkatkan agar kualitas pendidikan semakin meningkat. Masalah ini jauh lebih penting dan essensial daripada meributkan masalah seragam. Selain itu, penetapan warna hitam sebagai warna dasar seragam yang harus dikenakan guru, juga terkesan ‘kaku’ dan tidak familiar dengan dunia pendidikan. Sebab, warna hitam itu bersifat tajam, keras, dan bernuansa kedukaan,” ungkapnya.

Pro-kontra penetapan ‘seragam baru’ bagi para guru ini juga ditanggapi serius oleh Drs H Moh Hidayat, tokoh masyarakat asal Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran. Menurutnya, dipandang dari berbagaai sisi, pengunaan warna hitam juga beresiko terhadap kesehatan,  keamanan dan kenyamanan baik bagi pemakainya maupun bagi orang-orang sekelilingnya. Menurut mantan anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Banyuwangi periode 2004 – 2009 ini, sebagai penyampai ilmu pengetahuan, guru harus bisa tampil dengan sosok yang teduh, damai dan melindungi. Karena itu, bila guru harus tampil ‘sangar’ dengan seragam hitam-hitamnya, pasti akan berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar.

pro-kontra seragam 'hitam-hitam' bagi guru (Moh Hidayat)

– Drs Moh Hidayat

“Warna hitam itu kesannya keras dan tajam. Dan warna itu lebih banyak menyerap panas dibandingkan dengan warna-warna lain yang lebih soft. Lha kalau itu digunakan pada saat guru mengajar, apalagi disiang hari yang suhunya rata-rata 35 derajad, pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kenyamanan pemakainya. Selain itu, penampilan guru dengan warna ‘hitam-hitam’ itu juga akan terkesan ‘menakutkan’ bagi anak-anak didik,” ungkap Moh Hidayat, kepada Memorandum, Minggu (4/9) kemarin. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Pro-Kontra Seragam ‘Hitam-hitam’ Bagi Guru (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*