Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » Polemik Relokasi Warga Boom Butuh Kesadaran Bersama

Polemik Relokasi Warga Boom Butuh Kesadaran Bersama

(435 Views) January 6, 2017 1:27 pm | Published by | No comment

Oleh ; Eko Budi Setianto

Sebagaimana diperkirakan banyak pihak sebelumnya, bahwa Pembangunan kawasan Pantai Boom sebagai Pelabuhan Marina Internasional dipastikan akan menimbulkan dampak dan perubahan drastis bagi Banyuwangi, khususnya warga di Kelurahan Kampung Mandar yang akan terdampak langsung. Sebagian warga yang akan mengalami dampak langsung, yang bahkan sejak awal proses pembangunannya sudah harus segera meninggalkan tempat yang telah dihuninya selama puluhan tahun, adalah warga yang tinggal di RT 03 RW 03 Lingkungan Krajan, Wilayah Pelabuhan Boom.

Perubahan awal yang sudah harus dialami oleh sekitar 130-an KK yang tinggal diatas tanah yang menjadi wilayah kerja PT Pelindo III Banyuwangi itu, bahwa mereka harus segera ‘angkat kaki’ dari lokasi tersebut. Meski sebagian besar warga merasa sadar bahwa tanah yang mereka tinggali bukan miliknya, tetapi untuk me-relokasi mereka bukan hal mudah. Apalagi, keberadaan mereka di lokasi tersebut sudah diakui secara sah oleh pemerintah melalui diterbitkannya KTP untuk mereka dan  ditetapkannya lokasi wilayah tinggal mereka sebagai satu wilayah RT tersendiri.

Dari beberapa kali pertemuan dalam rangka sosialisasi rencana relokasi antara Warga dengan pihak PT Pelindo III, dapat disimpulkan bahwa secara prinsip warga sadar dan tidak menolak untuk meninggalkan lokasi dan berpindah tepat tinggal. Hanya saja, sebagaimana disampaikan Ketua RW 03 Lingkungan Krajan, Nuryasin, belum bergemingnya warga dari kawasan Boom itu lebih disebabkan karena ketidak-siapan mereka untuk mendirikan rumah baru di lokasi baru yang telah disediakan. Warga yang sebagian besar adalah pedagang kaki lima, buruh pelabuhan dan pemulung itu, tidak memiliki cukup uang untuk berpindah tempat. Sementara, uang kerohiman yang diberikan pihak PT Pelindo III hanya sebesar Rp 2 juta per KK.

“Untuk membongkar rumah ini saja sudah habis berapa. Belum lagi ditempat yang baru nanti, kita juga harus mendirikan rumah lagi. Dan tentunya butuh biaya lagi yang tidak sedikit. Uang dari mana? Itu yang membuat kami masih harus bertahan ditempat ini,” ungkap seorang ibu setengah baya warga kawasan Boom, yang tidak mau disebtkan namanya.

Hal tersebut juga pernah disampaikan oleh Nuryasin, pada saat sosialisasi di kawasan Pantai Boom. Menurutnya, untuk memindahkan kandang hewan peliharaan saja, tentu kandangnya yang harus dibuat lebih dulu, baru hewannya yang dibawa pindah ke tempat baru. “Apalagi ini Manusia,” kata Nuryasin.

Terpisah, seusai menemui warga yang menggelar aksi demo di gedung DPRD beberapa waktu lalu, legislator PDI Perjuangan, Heksa Sudarmadi, dengan tegas menyatakan bahwa warga kawasanBoom tidak menolak untuk direlokasi. “Warga sadar bahwa tanah yang ditempatinya itu milik PT Pelindo. Tetapi Pelindo juga harus tahu dan memahami kesulitan warga. Jadi PT Pelindo harus lebih ‘manusiawi’ dalam melakukan relokasi warga,” kata Heksa.

Berdasarkan gambaran tersebut, permasalahan menyangkut upaya relokasi sudah semakin jelas. Karena itu, dalam rangka kepentingan bersama dan perkembangan Banyuwangi kedepan, maka dibutuhkan kesadaran bersama semua pihak, khususnya pihak PT Pelindo III yang nota bene adalah perusahaan milik Negara, yang juga memiliki tanggung-jawab untuk mensejahterakan kehidupan warga. Semoga. (penulis adalah wartawan Memorandum)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Polemik Relokasi Warga Boom Butuh Kesadaran Bersama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*