Peringati Haul ke-12, Ipuk: Gus Dur Inspirasi Kepemimpinan

Banyuwangi – Peringatan Haul ke-12 KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Minggu (9/1/2022). Dalam acara yang digelar oleh Barisan Kader (Barikade) Gus Dur Banyuwangi itu, dibuka oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani secara virtual.

Dalam sambutannya, Ipuk menegaskan bahwa Gus Dur merupakan salah satu inspirator dalam kepemimpinannya. Terutama di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak hal menjadi serba sulit. Mulai dari sektor kesehatan sampai ekonomi.

“Ada satu kata-kata Gus Dur yang begitu kuat menginspirasi saya saat ini. Beliau pernah berkata: ‘menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga,” ungkap Ipuk.

Pesan Presiden keempat Republik Indonesia tersebut, lanjut Ipuk, menguatkan dirinya. Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal dirinya menjabat sebagai bupati, bukanlah hal yang harus dirutuki. Tapi, harus dihadapi dengan karya-karya inovatif dan kreatif.

“Alhamdulillah, meski penuh keterbatasan, Banyuwangi terhitung mencatatkan kinerja yang cukup baik selama pandemi ini. Penanganan covid berjalan baik. Vaksinasi sudah melebihi ambang batas 70 persen dan terus kita pacu sampai semaksimal mungkin. Begitu pula dengan level PPKM kita yang konsisten di level 1,” terang Ipuk.

Selain itu, lanjut Ipuk, berbagai prestasi juga berhasil ditorehkan oleh Banyuwangi pada tahun kemarin. Mulai mendapatkan nilai SAKIP A, Kabupaten Terinovatif, sampai peningkatan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Segala prestasi ini, tidak terlepas dari kerja keras semua pihak serta doa seluruh rakyat Banyuwangi. Sehingga Banyuwangi dapat melalui tantangan ini dengan cukup baik,” ungkap Ipuk.

Haul ke-12 Gus Dur sendiri ramai dihadiri oleh para tokoh. Mulai dari kalangan lintas agama, tokoh partai politik, tokoh masyarakat, aktivis hingga penggerak-penggerak di tingkat desa. Ketua Barikade Gus Dur Banyuwangi Nur Azizah menyebutkan bahwa hal tersebut didorong oleh rasa kecintaan kepada sosok Ketua Umum PBNU yang dikenal humanis dan pluralis itu.

“Ini semua tidak terlepas dari kiprah Gus Dur sepanjang hidupnya. Beliau sangat mencintai rakyat kecil, kaum minoritas dan terpinggirkan. Cinta itu pun terus tumbuh di hati rakyat sampai hari ini,” ungkap Azizah.

Sejumlah tokoh yang hadir adalah KH. Ahmad Basuni Salim, Kiai Mudzakir, Kiai Musclih, Kiai Haris Thohir, Ketua Rijalul Ansor Banyuwangi Gus Anas, Ketua LDII Banyuwangi H. Astro Djunaidi, Ketua PHDI Banyuwangi Suminto, Ketua Walubi Eka Waluyo dan lain sebagainya. Mereka juga memberikan testimoni tentang kenangan dan kesannya terhadap sosok Gus Dur. (*)

Artikel ini sebelumnya telah ditayangkan pada website Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi  : banyuwangikab.go.id

Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kota Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda, dan berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat.

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur sekaligus menjadi yang terluas di Pulau Jawa, dengan luas wilayahnya yang mencapai 5.782,50 km2, atau lebih luas dari Pulau Bali (5.636,66 km2).

Di pesisir Kabupaten Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara pulau Jawa dengan pulau Bali (Pelabuhan Gilimanuk).

Penduduk Banyuwangi cukup beragam. Mayoritas adalah Suku Osing, namun terdapat Suku Madura (Kecamatan Muncar, Wongsorejo, Kalipuro, Glenmore dan Kalibaru) dan suku Jawa yang cukup signifikan, serta terdapat minoritas suku Bali, suku Mandar, dan suku Bugis. Suku Bali banyak mendiami desa – desa di kecamatan Rogojampi. Bahkan di desa Patoman, Kecamatan Rogojampi seperti miniatur desa Bali di pulau Jawa.

Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku dari suku Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua bahasa Jawa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *