Pedagang Jamu Tradisional Banyuwangi Dilatih Tingkatkan Kualitas Produk

572 views
banner 468x60)

BANYUWANGI – Upaya meningkatkan kualitas mutu dan keamanan produk makanan-minuman di Banyuwangi terus dilakukan. Yang terbaru, pelaku usaha obat tradisional Banyuwangi dilatih penjaminan kualitas mutu dan keamanan produknya. Pelatihan ini digelar sebagai hasil sinergi antara Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Pemkab Banyuwangi, Senin (14/9).

Sebanyak 90 penjual jamu gendong dan 53 Industri Kecil Obat Tradisional (Ikot) didatangkan khusus oleh Pemkab Banyuwangi untuk diberi pelatihan teknik-teknik cara membuat jamu yang higienis.

Direktur Obat Asli Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mauizzati Purba mengatakan pentingnya pelatihan kepada penjual jamu gendong yang sebagian besar ibu-ibu ini lantaran sebagian besar konsumsi jamu masyarakat masih mengandalkan pada jamu gendong ini.

“Mereka yang kontak langsung dengan konsumen, sehingga mereka harus tahu sanitasi dan keamanan produknya. Selain juga, usaha jamu gendong ini juga menjadi sumber pendapatan ekonomi para ibu-ibu, sehingga kualitas jualannya juga harus terjaga agar tidak membahayakan konsumen,” kata  Mauizzati.

Ditambahkan Mauizzati, trend penggunaan produk herbal di Indonesia sendiri juga meningkat. Ini bisa dilihat dari banyaknya ijin produksi jamu tradisional yang diajukan ke BPOM. “Pengajuan ijin produksi ke kantor kami terus bertambah, sehingga kami memandang perlu untuk membekali para pelaku produksi jamu dan obat tradisional ini,” ujarnya.

Dalam bimtek tersebut, para pedagang jamu diberi bekal pengetahuan memproduksi jamu yang higienis dan menyehatkan. Sementara untuk IKOT, diberikan pengetahuan tentang pemilahan bahan-bahan untuk jamu kemasan. Juga ada pelatihan ekstraksi dan mengambil sari bahan asli untuk dijadikan bahan obat herbal yang siap dikemas sebagai kapsul atau tablet.

“Obat-obatan tidak boleh dicampur ke minuman kesehatan. Jamu gendong sebaiknya sekali buat langsung habis. Tidak boleh diinapkan karena khasiatnya sudah berubah,” kata Mauzzati.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan seiring dengan era Masyarakat Ekonomi Asean, budaya lokal yang memiliki potensi ekonomi haris terus diperkuat. Salah satunya adalah usaha jamu ini.

“Jamu sebagai warisan tradisi kuliner Indonesia mempunyai potensi pasar yang sangat besar. Karena itu, kita fasilitasi para pelaku usaha jamu untuk dididik dan dilatih bagaimana cara mengemas dan memproduksi jamu yang baik,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Dia mengatakan, pemasaran jamu bisa diintegrasikan dengan pengembangan sektor pariwisata yang ada di Banyuwangi. Tentu saja dengan kemasan yang lebih bagus dan jaminan proses produksi yang higienis.

“Bagi kami, minuman jamu ini akan jadi minuman unggulan wisatawan di Banyuwangi. Bahkan kita telah membiasakan setiap Jumat, pegawai di Pemkab Banyuwangi minum jamu yang menyehatkan. Dinas terkait nantinya bakal memfasilitasi pelaku usaha jamu untuk bisa hadir di event-event wisata dan destinasi wisata,” kata Bupati Anas.

“Botol yang digunakan penjual jamu gendong kan persis dengan botol yang biasa digunakan penjaja bensin eceran. Kalau perlu itu diganti botol dengan model yang lebih unik dan bagus. Saya akan minta dinas terkait untuk fasilitasi botol-botol baru yang lebih eye catching, mungkin ada tempelan stiker khas Banyuwangi. Tahun depan bisa dibagikan ke penjual jamu gendong,” imbuh Anas.

Dinas Kesehatan Banyuwangi sendiri  setiap tahunnya melakukan pembinaan kepada para penjual jamu gendong. Dalam setahun, dilakukan dua kali pembinaan yang dilakukan oleh Puskesmas di masing-masing kecamatan. Khusus untuk IKOT, Dinas Kesehatan bersama Balai POM Provinsi Jatim rutin melakukan pembinaan pada produsen obat tradisional. Di Banyuwangi sendiri, terdapat 36 industri kecil obat tradisional. (Humas Protokol)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply

*