Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » Pantai Boom Sebuah ‘Ikatan Emosional’ Warga Banyuwangi

Pantai Boom Sebuah ‘Ikatan Emosional’ Warga Banyuwangi

(455 Views) January 7, 2017 9:45 am | Published by | No comment

Oleh    ;

Eko Budi Setianto

Berbagai Polemik yang muncul terkait pembangunan kawasan Pantai Boom, khususnya menyangkut pemindahan (relokasi) terhadap 133 KK warga Kelurahan Kampung Mandar yang tinggal di RT 03 RW 03 Lingkungan Krajan, wilayah Pelabuhan Boom, Seakan me-refresh kembali ingatan masyarakat tentang keberadaan warga keturunan Mandar yang tinggal disekitar dan kawasan Boom.

Berdasarkan penelusuran Memorandum, sejak kawasan Banyuwangi masih menjadi wilayah kekuasaan kerajaan, hingga bergeser ke masa-masa penjajahan Belanda dan sampai sekarang ini, Pantai Boom yang ada di sisi sebelah timur Kota Banyuwangi itu merupakan sebuah kawasan teritorial penting yang berperan banyak dalam perkembangan Banyuwangi selama ini.

Dalam catatan sejarah, kawasan yang saat ini dibawah penguasaan dan pengelolaan PT Pelindo III itu dulunya merupakan wilayah teriorial pantai yang pengaturan dan pengelolaannya dipercayakan kepada seorang tokoh lokal bergelar; Datuk Kapiten. Berdasarkan penuturan masyarakat dan para sesepuh Kelurahan Kampung Mandar, tokoh yang bergelar ‘Datuk Kapiten’ itu adalah tokoh pertama yang menjadi pemimpin (Lurah) untuk wilayah yang dihuni warga keturunan Mandar di Banyuwangi, yang saat ini dikenal sebagai Kelurahan Kampung Mandar.

Menurut penuturan para sesepuh, warga keturunan Mandar yang ada di Banyuwangi tinggalnya mulai dari lingkungan Tanjung (Kelurahan Klatak) hingga Desa Sukojati (Kecamatan Kabat). “Kalau melihat sejarahnya memang seperti itu. Warga Mandar selalu tinggal di dekat pantai. Konon, oleh Gubernur Belanda di Surabaya, Lurah Pertama Kampung Mandar yang diberi gelar Datuk Kapiten itu diberi kekuasaan untuk mengatur dan mengelola kawasan pantai, termasuk kawasan Pantai Boom ini. Jadi jauh sebelum perngaturannya diserahkan kepada Pelindo III, Lurah Mandar yang bernama Datuk Kapiten itulah yang diberi kekuasaan untuk mengatur,” ungkap Achmad (78), seorang sesepuh warga Mandar.

Sisi lain tentang Pantai Boom dan warga Keturunan Mandar juga diungkap oleh tokoh lainnya, Ahmad Saha dan Mujiono. Menurutnya, keberadaan Pantai Boom dan warga keturunan Mandar ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. “Sebenarnya sudah sejak dulu keberadaan Pantai Boom dan warga keturunan Mandar ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, menyangkut perkembangan kedepan, warga Mandar yang sudah sejak lama menjadi penjaga dan perawat kawasan Pantai Boom ini jangan sampai ditinggalkan. Libatkan mereka sesuai porsinya, dan ajak mereka berdialog, karena bagaimanapun, mereka yang lebih tahu tentang kawasan ini,” kata Ahmad Saha.

Selain itu, secara luas kawasan Pantai Boom juga merupakan memiliki ‘ikatan emosional’ dengan kebanyakan warga Banyuwangi. Bahkan, keberadaan Pantai Boom sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kultur-budaya warga Using, yang selalu melengkapi kebahagiaan Hari Lebaran dengan mengunjungi Pantai Boom.

Karena itulah, membangun kawasan Pantai Boom juga harus menyertakan kearifan lokal masyarakat sekitarnya, dan memerlukan kesadsaran bersama untuk mewujudkannya. Semoga. (penulis adalah wartawan Memorandum)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Pantai Boom Sebuah ‘Ikatan Emosional’ Warga Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*