Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » Pantai Boom, Riwayatmu Kini (1). Pembangunan Marina dan Distorsi Kultur Budaya

Pantai Boom, Riwayatmu Kini (1). Pembangunan Marina dan Distorsi Kultur Budaya

(675 Views) August 12, 2016 8:06 pm | Published by | No comment

Proyek Marina Pantai Boom Dimata Nelayan Kampung Mandar

Banyuwangi, Memorandum – Diakui atau tidak, selama ini keberadaan Pantai Boom sudah sangat identik dengan warga Masyarakat Banyuwangi. Selain sudah menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warga nelayan Kampung Mandar dan sekitarnya, kawasan pantai yang berada di sisi timur Kota Banyuwangi itu juga sudah menjadi bagian dari kultur dan tradisi masyarakat Banyuwangi pada umumnya. Betapa tidak, bagi warga pedesaan, kawasan Pantai Boom merupakan destinasi wisata yang menjadi jujugan utama warga ketika Hari Raya Idul Fitri. Karena itu, geliat pembangunan yang dirancang pemerintah untuk merubah kawasan pelabuhan rakyat itu menjadi Pelabuhan Marina Internasional, tak urung, mulai menebar keresahan tersendiri dikalangan masyarakat.

Seiring dengan harapan akan munculnya sebuah pusat ekonomi baru berkelas internasional,

terjadinya perubahan Pantai Boom dari kawasan pelabuhan tradisional menjadi pelabuhan internasional dipastikan akan menimbulkan dampak luas. Salah satunya adalah distorsi kultur-budaya masyarakat sekitar yang akhirnya akan menimbulkan pergeseran nilai dan strata sosial.

Sebagaimana diungkap oleh beberapa tokoh setempat, sejauh ini tak ada satupun warga di Lingkungan Kelurahan Kampung Mandar yang menolak pembangunan kawasan Pantai Boom. Sebaliknya, sebagian besar warga justru mendukung dan berharap banyak terhadap perubahan kondisi dan lingkungan Pantai Boom.

Namun demikian, simpati dan empati masyarakat tersebut perlahan-lahan mulai berubah menjadi sikap anti-pati, ketika pengelola mulai menunjukkan taringnya sebagai ‘penguasa’ Pantai Boom. Salah satunya adalah, bahwa warga dan Masyarakat Banyuwangi pada umumnya, kini sudah tidak lagi bisa bebas keluar masuk kawasan Boom. Kini, untuk bisa sekadar menikmati semilir angin dan keindahan pantainya, warga harus bayar tiket masuk sebesar Rp 2000,- per Kepala. Fakta inilah yang akhirnya membuat warga gelisah dan mulai merasa kehilangan Pantai Boom.

“Mulai terjadi pergeseran nilai kultur-budaya. Dengan dipasangnya portal di pintu masuk, dan warga harus bayar tiket per kepala, menunjukkan bahwa warga mulai tergusur dari kehidupan sehari-hari Pantai Boom. Padahal, khususnya bagi warga Kampung Mandar dan sekitarnya, Pantai Boom seakan sudah menjadi halaman rumah mereka. Kini mereka mulai kehilangan nuansa itu,” ungkap Yono, warga yang tinggal di Lingkungan Krajan, Kelurahan Kampung Mandar, dengan nada khawatir.

Tentang perubahan Pantai Boom dari kawasan tradisional menjadi arena internasional, menurut Yono, yang paling mengkhawatirkan adalah terjadinya ‘gab’ yang besar antara kelompok menengah kebawah yang nota-bene adalah warga sekitar, dengan kelompok menengah keatas yang akan menjadi ‘penghuni baru’ di areal Pantai Boom. “Adanya tiket masuk itu saja sudah menggambarkan bahwa interaksi warga sekitar dengan Pantai Boom sudah mulai dibatasi. Apalagi dalam waktu dekat ini, sekitar 130-an KK yang tinggal disana kabarnya akan segera direlokasi ke tempat lain. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan Jamannya Bupati Samsul Hadi dulu,” ungkapnya.

Waktu itu, tutur Yono, warga justru diperjuangkan untuk mendapatkan hibah tanah untuk tempat tinggal dari areal yang dikuasai Pelindo. Dan ketika Pelindo membuat Portal dan mewajibkan warga atau pengunjung untuk membayar tiket masuk, Pak Samsul malah marah dan membongkar portal. “Itu karena Pak Samsul sadar bahwa kawasan Boom sudah menjadi bagian dari kultur masyarakatnya. Yang saya ingat waktu itu, dengan lantang Pak Samsul bilang bahwa Pelindo seakan-akan seperti ‘negara dalam negara’, yang wilayah kekuasaannya sulit dijangkau oleh Pemerintah Daerah.

Kini, lanjut Yono, ketika Pemerintah Daerah sudah bisa duduk bersama dalam pengelolaan Pantai Boom, kehidupan warga sekitar justru mulai terusik. Warga pun mulai mempertanyakan keberpihakan Pemda terhadap warganya. “Yang terjadi saat ini malah sebaliknya, yakni ‘pembiaran’ oleh Pemda. Buktinya, kalau ada warga yang membangun rumah tetapi belum mengantongi IMB, pasti dihentikan pembangunannya. Sebaliknya, sekarang ini PT PPI sudah mulai mengerjakan pembangunan Marina, padahal kelengkapan ijinnya termasuk dokumen Amdal-nya masih belum ada. Lha, mana tindakan Pemda. Ini fakta bahwa telah terjadi pembiaran oleh Pemda,” kata Yono. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Pantai Boom, Riwayatmu Kini (1). Pembangunan Marina dan Distorsi Kultur Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*