Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Panggung Janger Masih Digandrungi Warga Banyuwangi

Panggung Janger Masih Digandrungi Warga Banyuwangi

(1195 Views) September 25, 2016 3:03 pm | Published by | No comment

janger-banyuwangi

Banyuwangi, Memorandum – Kesenian janger ( Drama tradisional-red), yang sudah turun temurun digandrungi warga Banyuwangi terasa tak lapuk dimakan zaman. Eksisitensi kesenian ini memang sudah jarang dimainkan namun, bukan berarti hilang dari penikmatnya. Tak ubahnya seni panggung ketoprak di wilayah mataraman di Jawa Timur. Kesenian khas Banyuwangi ini masih memiliki ribuan penggemarnya.

Aksi panggung jangger di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo  yang mengusung lakon Kendali putih misalnya, cukup memakau warga setempat. Cerita rakyat yang dimainkan sanggar Karisma Dewata mampu menghipnotis penonton.  Cerita perlawanan Prabu Minakjinggo melawan penguasa Majapahit menjadi kekuatan dalam lakon peperangan ini.

Sugiono salah satu pemeran Prabu Brawijoyo mengakui cerita sekitar Minajinggo paling banyak disukai warga Banyuwangi. Ia disebut-sebut seorang raja Blambangan yang berani dan sakti. Disisi lain ia dikenal sebagai play boy dan bertemperamen kasar. “ Ketika kita main cerita Minakjinggo pastilah penontonya banyak dan setia menunggu sampai akhior cerita. Bagi pemain yang mendapatkan peran Minakjinggo tentu bangga,” tutur Sugiono.

Kesenian Jangger dalam perkembangnya mulai langka dimainkan. Hanya pada bulan-bulan tertentu dalam hitungan Jawa dimainkan untuk panggung hiburan hajatan atau ritual  pesta rakyat di Banyuwangi. Tak jauh berbeda dengan panggung ketoprak atau ludruk yang mulai langka digelar.

Eko Budi Setianto pengamat budaya Banyuwangi berharap kesenian Janger di pelataran bumi Blambangan tetap dilestarikan dan mendampatkan porsi dukungan pemerintah Daerah. “ Pagelaran Janger memang mulai langka padahal kesenian ini lebih komplek baik cerita maupun seni gamelan yang dimainkan. Ada perpaduan budaya osing dan Bali yang kental. Yang menarik adalah penguasaan pitutur dalam dialek ketika pemeran pagelaran bermain. Ini kasanah budaya yang patut dilestarikan,” Kata Eko Budi.

Janger tetap menarik manakala cerita yang dimainkan berkorelasi atau memiliki keterikatan dengan kondisi saat ini. Bahasa keren di update dalam konteks tema cerita. “ Bergantung dari sang sutradara mengolah cerita sehingga tetap menarik perhatian penonton. Yang penting bagaiman dalam laok itu mampu bersibiose dengan cerita utama,” pungkas Eko Budi Setianto penulis  buku penulis Santet kepada Memorandum, Minggu (24/9).(Swa/nre)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Panggung Janger Masih Digandrungi Warga Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*