Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Mistis Dibalik Keindahan Watu Dodol

Mistis Dibalik Keindahan Watu Dodol

(2204 Views) August 8, 2016 1:45 pm | Published by | No comment

Ada Air Suci Membersihkan Raga, Pohon Kelor Ampuh Hilangkan Tolak Bala

Watu Dodol-makam Syeikh Maulana

Makam Syeikh Maulana – Keindahan Wisata Watu Dodol yang terletak di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi yang dikenal menyimpan banyak darik tarik keindahan alam, juga mempunyai sejarah serta cerita mistis tersendiri

Banyuwangi, Memorandum – Disekitar Watu Dodol ini dapat dinikmati indahnya panorama laut Selat Bali. Selain keindahan panorama laut selat bali, juga terdapat batu raksasa yang disebut Watu Dodol yang berdiri kokoh di tengah dua perlintasan persis jalur Banyuwangi – Situbondo dan terletak sekitar lima kilometer dari Pelabuhan Ketapang, tempat penyeberangan kapal fery menuju Gilimanuk, Bali.

Jika kurang puas melihat panorama pantai Selat Bali yang indah dari Patai Watu Dodol, bisa mendaki bukit dan menikmati pemandangan dari atas bukit yang berada tidak jauh dari Watu Dodol. Bukit Watudodol ini juga merupakan salah satu spot selfie yang Lagi populer di Banyuwangi dengan suguhan pemandangan langsung menuju Selat Bali serta landmark patung Tari Gandrung.

Pengunjung yang datang cukup membayar tiket sebesar Rp 2.000 dan parkir, pengunjung  sudah bisa mendaki bukit Watu Dodol sekitar 300 meter melewati jalan setapak yang berada tepat di seberang Pantai Watu Dodol Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro yang  juga merupakan kawasan hutan milik Perum Perhutani KPH Banyuwangi Utara, petak 66 H, RPH Selogiri BKPH Ketapang tersebut dengan dilengkapi dengan kursi kursi kayu membelakangi Selat Bali. Pohon-pohon hijau serta sebagian yang menjalar menghasilkan warna kontras dengan birunya langit dan laut, sangat cocok untuk spot fotografi.

Cerita asal usul serta kemistisan Watu Dodol

Setelah berjalan-jalan menikmati keindahan alam Pantai Watu Dodol, kurang lengkap rasanya jika tidak berwisata sejarah dan asal usul cerita masyarakat mengenai Watu Dodol.

Saimin, salah satu juru kunci Watudodol mengatakan, menurut Bahasa Jawa, ‘Watu’ artinya Batu. Sementara ‘Dodol’ berasal dari jajanan jenang manis yang cukup dikenal masyarakat Banyuwangi. Arti lain Dodol berarti ‘jual’. Jadi artinya, batu yang ‘jualan’ atau dengan kata lain batu yang lagi nampang.

Namun banyak versi lain mengenai cerita Watu Dodol ini. Misalnya batu itu katanya mirip bentuk jenang dodol,  dodol menurut bahasa orang Banyuwangi berarti jualan.  Arti kata jualan tersebut, juga erat hubungannya dengan legenda Kiyai Semar yang berjualan (dodolan) di sekitar Watu Dodol. Namun dalam kisah, bahan-bahan jualan yang dijual Semar terguling dan tumpah. Konon, berasnya tumpah menjadi hamparan pasir putih, yang kini berada di sisi pantai.

Sementara pikulan kayunya terlempar dan menancap di sela-sela Watu Dodol. Pikulan kayu tersebut tumbuh menjadi Pohon Kelor yang sampai sekarang ini masih dapat dijumpai ketika berkunjung di Watu Dodol. Sementara air yang dibawa semar-pun juga tumpah, orang Jawa dan orang Banyuwangi khususnya mempercayai jika kayu kelor adalah pohon mistis yang dapat menghilangkan segala ilmu kanuragan,  selain itu  juga dapat menghilangkan keampuhan susuk atau santet ditubuh jika makan kelor.

Hal lain seperti bekal air minum yang dibawa Kyai Semar yang tumpah menjadi sumber air tawar yang mengalir di  pantai yang kini dikenal dengan sumur air tawar yang hingg kini bangunan sumur tersebut masih berdiri kokoh di bibir Pantai Watu Dodol. Banyak yang mempercayai air tawar ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit, sebagai tolak bala, dan bisa membuat awet muda jika diusapkan ke bagian wajah.

Di tempat itu pula, setiap tahunnya di malam bulan Syuro, akan ada banyak santri berjajar mengitari sumber Upas atau yang dikenal dengan sumur air tawar. Sumur ini menjadi tempat ritual, karena diyakini merupakan peninggalan para wali Islam dan airnya memiliki keijabahan.

Ritual yang berlangsung sejak tengah malam hingga dini hari ini dilanjutkan mandi di laut pantai. Dilakukan sebagai cermin diri terhadap apa saja yang dilakukan sepanjang tahun lalu. Serta bertobat atas kesalahan sehingga rohani dan jasmani kembali suci. Selain itu, ritual tersebut juga dijadikan sebagai tanda bahwa para santri dengan seluruh ilmu yang didapat dari pesantren telah disahkan oleh Kiai sesuai dengan faham Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Air itu, kini juga menjadi bagian ritual yang setiap tahun digelar, yaitu ritual Puter Kayon. Upacara festival penduduk yang kini sering dilakukan warga Desa Boyolangu Kecamatan Giri di setiap tahunnya usai Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri.

Upacara itu bentuk perwujudan rasa syukur karena dapat melaksanakan Lebaran dengan gembira serta dapat mengenang jasa Buyut Jakso, sesepuh yang dipercaya pertama kali membuka Desa Boyolangu yang letaknya jauh diatas. Upacara biasanya dimulai mengarak tumpeng dan sesajian dari Boyolangu ke Pantai Watu Dodol. Sesajian lalu dilarungkan ke laut dan tumpeng disantap bersama-sama.

Namun, legenda ini diperkirakan tidak murni berasal dari masyarakat Osing (penduduk asli Banyuwangi), karena dianggap tidak nyambung dengan adat dan budaya Banyuwangi yang selama ini ada. “Memang, legenda kadang tak berhubungan dengan adat dan budaya setempat, tapi masyarakat terlanjur mempercainya,”kata Sa’i sapaan akrabnya.

Cerita mengenai Watu Dodol juga sering dikaitkan dengan Watu Gepeng yang berada di Dusun Watu Gepeng Desa Telmung Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi  yang konon merupakan salah satu akar dari Watu Dodol .

Watu Dodol-Watu Gepeng akar Watu Dodol

Watu Gepeng Akar Watu Dodol – Keindahan Wisata Watu Dodol yang terletak di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi yang dikenal menyimpan banyak darik tarik keindahan alam, juga mempunyai sejarah serta cerita mistis tersendiri

Batu tersebut pertama kali ditemukan oleh kakek buyutnya yang bernama Mbah Supani ketika hendak membangun sebuah lahan pemukiman yang awalnya merupakan hutan belantara. Disitu ditemukan batu berbentuk pipih berdiri tegak setinggi 1 meter dengan lebar 70 centimeter. Ketika itu, banyak orang dengan berbagai cara telah dilakukan untuk mencabut dan memindahkan batu tersebut, namun usahanya selalu gagal. Sejak kejadian itu, dimunculkannya nama Dusun Watu Gepeng sekitar tahun 1946.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada yang bisa menemukan dasar dari batu tersebut tertanam. Menurut kisah yang Sa’i terima dari anak Mbah Supani yang tidak lain adalah kakeknya yakni Mbah Mujemar, semakin dalam tanah di sekitar batu itu digali, banyak batu yang ditemukan saling menyambung dan terus menancap makin dalam.

Karena keanehan dari situs Watu Gepeng yang merupakan cikal bakal dari Dusun Watu Gepeng, banyak orang berdatangan untuk bersemedi dan meminta nomor buntut togel. Tapi bukannya untung, malah warga tersebut mendapatkan musibah yang mengakibatkan dirinya cacat hingga sekarang.

“Di sini ada warga yang sampai sekarang masih belum sembuh sakitnya. Dulu orang itu sering menginap di Watu Gepeng dengan harapan dapat nomor buntut togel, tapi malah wajahnya cacat sampai sekarang,” tutur Sa’i.

Lanjut Sa’I, yang jelas Watu Dodol memiliki bentuk yang unik, bagian atasnya lebih besar daripada dasarnya, namun kokoh berdiri selama ratusan tahun. Dulu daya tarik Watu Dodol karena keangkerannya, namun seiring dengan pemberdayaan wisata kota Banyuwangi, Watu Dodol kini menjadi asri karena ditata sedemikian rupa oleh Pemda Banyuwangi, termasuk dibagunnya patung selamat datang berbentuk patung Gandrung, di sebelah utara juga mulai ramai setelah dibangunnya beberapa fasilitas penunjang wisata.

Masih Sa’I, jika membicarakan tentang keangkeran dan tempat paling angker di Watu Dodol.  “Ya disana tempatnya, kalau mau angker harus naik ke bukit, di sisi Barat  dan disana terdapat makam tua Syekh Maulana Ishak dan Putri Sekardadu dari Kerajaan Blambangan dulu yang dikeramatkan, sehingga sering digunakan tempat bertapa,” Ungkap Sa’i.

Watu Dodol-Kuil Dewa Bumi Tu Di Gong Watu Dodol

Kuil Dewa Bumi Tu Di Gong Watu Dodol

Hingga kini, kondisi makam masih terawat dilengkapi kanopi bergaya Tiongkok serta lantai bertegel putih sebagai ciri khas budaya Tiongkok, makin kuat dengan adanya kuil kecil di sisi makam yang ditujukan kepada Dewa Bumi Tu Di Gong dilengkapi wadah untuk hio.

 Di sekitar Watu Dodol juga dapat ditemui gua misterius, dan pernah dijadikan basis pertahanan Jepang. Bahkan zaman Jepang masih menduduki Indonesia, pernah berupaya untuk memindahkan Watu Dodol karena mengganggu transportasi mereka. Puluhan orang dikerahkan untuk memotong Watu Dodol agar lebih mudah dipindahkan, tetapi ternyata tidak membawa hasil. Saat hendak digulingkan dengan ditarik kapal, ternyata Watu Dodol tidak goyang sedikitpun, malah konon kapal yang menarik akhirnya tenggelam. Watu Dodol memang misterius, angker sekaligus indah. (fat)

Watu Dodol-Bunker atau Goa Jepang

Bunker atau Goa Jepang Watu Dodol – Keindahan Wisata Watu Dodol yang terletak di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi yang dikenal menyimpan banyak darik tarik keindahan alam, juga mempunyai sejarah serta cerita mistis tersendiri

Sumber | Koran Harian Memoradum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in: ,

No comment for Mistis Dibalik Keindahan Watu Dodol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*