Memory Agus Siswanto 38 Tahun Mengabdi Sebagai ASN Awal Karir Menjabat Mantri Polisi, Raih Pangkat Tertinggi PNS Banyuwangi

2021-08-31 20:17:04

Memory Agus Siswanto 38 Tahun Mengabdi Sebagai ASN

Awal Karir Menjabat Mantri Polisi, Raih Pangkat Tertinggi PNS Banyuwangi

Banyuwangi – Hari ini. Bertepatan dengan 31 Agustus. Agus Siswanto menggenapi 39 tahun dan lima bulan pengabdian sebagai aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Banyuwangi. Mengawali karir sebagai mantri polisi, pria murah senyum ini, pensiun dan diberhentikan dengan hormat plus kenaikan pangkat pengabdian dari Bupati Ipuk Fiestiandani.

HARI masih pagi. Sekitar pukul 07.30. Jumat dua pekan lalu (20/8). Kala itu, satu pria berpakaian rapi tampak menenteng map menuju ruang Sekretaris DPRD Banyuwangi.

Sekitar sepuluh menit berselang, pria itu kembali ke luar ruangan. Kali ini, dia menuju ruang Bagian Umum di kompleks gedung wakil rakyat tersebut.  Pria itu adalah Sekretaris DPRD Banyuwangi Agus Siswanto.

Meski sibuk, Agus tak lantas mengabaikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Termasuk wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi yang pagi itu tengah hunting berita di kantor DPRD. “APA kabar, Mas? Sehat?” sapa Agus sembari tersenyum ketika keluar dari ruang Bagian Umum kantor dewan.

Belakangan diketahui, Agus kala itu Agus tengah mematangkan rancangan semacam aplikasi “DPRD Banyuwangi dalam Genggaman”. Ini menjadi bagian tindak lanjut dari inovasi Sistem Informasi Pembentukan Peraturan Daerah (Siprada) yang dia gagas dan telah diaplikasikan sejak Juli lalu.

Melalui aplikasi Siprada, semua rancangan peraturan daerah (raperda) yang akan dibahas dewan diunggah ke situs resmi DPRD Banyuwangi, yakni dprd.banyuwangikab.go.id. Selanjutnya, masyarakat dapat memberikan tanggapan atau masukan terhadap rancangan produk hukum tertinggi daerah tersebut. Sistem ini sekaligus menjadi jawaban atas turunnya insensitas kegiatan public hearing dalam rangka pembahasan raperda imbas pandemi Covid-19.

Sementara itu, aplikasi “DPRD Banyuwangi dalam Genggaman” dirancang lebih kompleks dari Siprada. Melalui aplikasi tersebut, presensi kehadiran anggota dewan, agenda kegiatan DPRD, reses wakil rakyat, pengaduan masyarakat, dan lain sebagainya dapat diakses secara online melalui komputer atau hand phone. “Sebentar lagi saya pensiun. Semoga konsep DPRD Banyuwangi dalam Genggaman ini bisa dilanjutkan oleh pengganti saya,” kata Agus.

Ya, hari ini (31/8) merupakan hari terakhir Agus bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Banyuwangi. Setelah mengabdi sebagai sejak 1982, dia akan resmi pensiun besok (1/9).

Setelah perbincangan singkat tersebut, wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi pun tertarik mengetahui cerita Agus selama mengabdi sebagai ASN. Bak gayung bersambut, Agus bersedia diwawancarai. “Mari, silakan,” tutur pria kelahiran 13 Agustus 1961 tersebut.

Agus mengaku, awal mengabdi sebagai ASN Pemkab Banyuwangi, dirinya mengemban amanah sebagai mantri polisi. Momen itu terjadi di tahun 1989 silam.

Pada perkembangan selanjutnya, Agus yang notabener merupakan lulusan SMAN 1 Genteng, mendapat tugas belajar atau semacam beasiswa kuliah dari pemkab di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Hasilnya tidak mengecewakan, Agus berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik di akademi yang kini berganti nama menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa tahun berselang Agus kembali mendapat tugas belajar untuk menuntaskan pendidikan jenjang Sarjana Strata satu  di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta. Setelah lulus, Agus pun kembali mengabdi pada Pemkab Banyuwangi.

Singkat cerita, selama menjadi ASN, Agus dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di lingkup Pemkab Banyuwangi. Dia didaulat menjadi camat di empat kecamatan berbeda mulai tahun 1999. Tidak hanya itu, dia juga beberapa kali menjabat kepala bagian (kabag) di Sekretariat Pemkab Banyuwangi. Masih di tataran jabatan eselon III, Agus menduduki jabatan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) sejak tahun 2010 sampai 2011.

Setelah itu, karirnya kembali menanjak dia naik menjadi eselon II dan dipercaya menjadi Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi pada 2011. Sekitar dua tahun berselang, dia kembali ditempatkan di Bappeda. Bedanya, kali ini dia bukan lagi menjabat sekretaris, melainkan sebagai Kepala Bappeda.

Tidak berhenti sampai di situ, Agus lantas didaulat menduduki jabatan Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Banyuwangi pada 2016. Setelah itu, dia dipercaya menjadi Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Saat memimpin Bapenda, Agus berhasil “menelurkan” inovasi Si Bambang, yakni Sistem Informasi Bersama Manajemen Pajak Banyuwangi.

Hingga akhirnya, di tahun 2019, Agus didapuk menduduki posisi Sekretaris DPRD Banyuwangi. Posisi ini dia tempati hingga hari terakhir masa pengabdian sebagai ASN hari ini (31/8).

Dipercaya menjabat Sekretaris DPRD, Agus pun dituntut luwes dan tidak “tipis telinga”. Maklum, secara administrasi dirinya harus bertanggung jawab kepada bupati melalui Sekretaris Kabupaten. Namun secara operasional, dia bertanggung jawab kepada pimpinan dewan.

Di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa terkadang terjadi silang pendapat antara eksekutif dan legislatif, misalnya saat pembahasan anggaran atau pembahasan peraturan daerah. Maka, dalam kondisi demikian, Agus selaku Sekretaris DPRD harus memerankan fungsi untuk tetap menjaga agar hubungan eksekutif dan legislatif tetap harmonis. “Maka, yang kami sajikan kepada pimpinan dan atau anggota dewan dalam pembahasan segala sesuatu harus mengacu regulasi. Kami memberikan saran staf kepada pimpinan dan anggota DPRD, seperti ini regulasinya. Sedangkan pengambilan keputusan, tetap dikembalikan kepada pimpinan atau alat kelengkapan dewan (AKD),” bebernya.

Selain itu, dalam pelaksanaan tugas mendampingi pimpinan dan anggota DPRD, imbuh Agus, pihaknya harus tetap berpatokan dalam koridor regulasi. Dia juga tidak menampik sebanyak 50 anggota dewan tidak jarang memperjuangkan sesuatu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya memperjuangkan konstituen masing-masing. “Justru dinamikanya di situ. Menarik, penuh seni. Maka, kami harus sabar, dan harus tatag. Tidak boleh telinga tipis. Kami harus memberikan pelayanan yang baik sehingga tugas pokok fungsi (tupoksi) dewan bisa berjalan optimal,” bebernya.

Sementara itu, puluhan tahun menjadi ASN, tentu suka dan duka pernah mengiringi perjalanan Agus. Dia mengaku, salah satu kebanggaan yang paling berkesan adalah mendapat kenaikan pangkat pengabdian dari Pemkab Banyuwangi. Kenaikan pangkat/golongan dari semula Pembina Utama Muda/IV/c menjadi Pembina Utama Madya/IV/d tersebut diberikan pada 7 Juni lalu. “Tentu kami bangga dianugerahi kenaikan pangkat menjadi IVd yang merupakan pangkat tertinggi di lingkup Pemkab Banyuwangi,” pungkasnya. (Berita ini di tayangkan Harian Pagi Jawa Pos Radar Banyuwangi)

Sumber : dprd.banyuwangikab.go.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *