Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » KERAJAAN BLAMBANGAN, Versi Buku BALAMBANGANSCH ADATRECHT Oleh Dr.Y.W.De Stoppelaar 1927

KERAJAAN BLAMBANGAN, Versi Buku BALAMBANGANSCH ADATRECHT Oleh Dr.Y.W.De Stoppelaar 1927

(539 Views) January 25, 2017 9:40 am | Published by | No comment

Banjoewangie Tempo Doeloe | Sebuah kerajaan Blambangan. kami menemukan disebut-sebut dalam Pararaton (penerbitan Brendes) sebagai suatu daerah bawahan dari kerajaan Majapahit yang baru saja berdiri. Pada awal abad ke 19. Arya Wiraraja (dari Madura) menerima sebagai pinjaman dari Raja Majapahit, Jayanegara,bagian Timur dari kerajaan tersebut, yang meliputi Besuki dan Pasuruan Bagian Timur, sebagai hadiah atas jasa-jasa Wiraraja terhadap ayahnya Jayanegara, yaitu Raden Wijaya, ketika kerajaan majapahit di bentuk.

Putranya Wiraraja yaitu Nambi, menetap di tanah pinjamannya itu: menurut Muhlefenfeld, orang harus mencari Singasana Nambi itu, diperuntukkan dari Kota Renon yaitu di sebelah utara dari Lumajang

Pada akhir abad XIV pantas untuk disebut Bhre Wirabumi, yang ruparupanya telah secara merdeka memerintah dan yang mempunyai hubungan dengan negara Cina (Brandes). Melihat di dalam dirinya, Bhre Wirabumi Itu orang yang sama dengan Menak Jinggo (?) dari cerita-cerita Damarwulan.Bhre Wirabumi akhirnya terbunuh dalam peperangan melawan Majapahit (bahwa orang orang Cina itu sejak dini telah mengunjungi Banyuwangi, terbukti dari sebuah patung yang sangat tua yang ada di dalam Klenteng Banyuwangi, yaitu patung yang dianggap sebagai salah satu yang tertua di Jawa).

Pusat pemerintahannya berkali-kali dipindahkan semakin ke arah timur dan abad XVI pusat pemerintahannya berada di daerah Banyuwangi yang sekarang ini.

Pada permulaan abad XVII Blambangan secara silih berganti menjadi daerah bawahan dari Klungkung Bali dan Mataram di Jawa, di mana Mataram tidak pernah berhasil untuk mengembangkan pengaruhnya sampai ke daerah Banyuwangi yang sekarang ini. tetapi hanya daerah-daerah yang berada di luar Banyuwangi yang berkali-kali beralih ke Mataram (Schrieke) telah menunjukkan bahwa bagian sebelah timur dari Jawa sejak dahulu kala telah memiliki pusat-pusat perdagangan penting, tetapi yang telah jatuh menjadi mangsa dari nafsu perbuatan Mataram yang agrari itu Rycklof Van Geons, 1665: “Jawa terdiridari 14 provinsi dan 12 provinsi diantaranya dimiliki oleh raja Mataram. Provinsi-provinsi ini yang terkecuali berada di dalam wilayah kerajaan Mataram, dinamakan: Blambangan. Cara menulisnya sedemikian rupa, semua pembesar mempunyai daftar tertulis dari raja, berapa banyak penduduk dipercayakan pada masing-masing pembesar sebagai suatu kepercayaan yang istimewa, dilanjutkan dengan suatu uraian. Berapa tenaga prajurit masing-masing. Penguasa memiliki dan di sini nampak bahwa yang dari purboyo, surabaya, batas, selaran, chribon, touban, pemalang dan demach berstatus pangeran,yang dari pati berstatus tumenggung,tetapi yang dari blambangan berstatus Ratu.

Perbandingkan juga, masih awal dan perkembangnnya (1646) hal. 62: untuk pertama kali kami menyadari bahwa kota Blambangan itu merupakan kota yang termasyhur yang mempunyai tambak-tambak keliling dan juga mempunyai raja sendiri. Pada zaman inilah terjadi pengurangan penduduknya dari daerah-daerah kerajaan tersebut. Para penduduknya sering diangkuti ke luar daerah dalam jumlah-jumlah besar sebagai tawanan

Bagian kedua dari abad ke 17 merupakan suatu masa perkembangan dan kemerdekaan di bawah raja Tawang Alun, si pahlawan nasional yang dinyanyikan dalam bagian pertama dari Babad Blambangan,di Banyuwangi,Lontar Tawang Alun namanya.

Menurut babad ini. Tawang Alun mengalami pertengkaran dengan saudaranya, dan atas dasar itu mendirikan Macan Putih. Saudara menggantikan dirinya di pemukiman yang pertama, yaitu di Kedawung. Sedangkan saudara perempuan mereka menjadi patih di situ. Lihat Brandes, uraian suatu Babad Blambangan dalam prosa.

Pada bagian pertama dari abad ke 18, Blambangan bagian timur secara berganti berada di bawah kekuasaan raja-raja Bali dari Buleleng dan Mangwi, sedangkan Blambangan bagian Timur tetap berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.

Sementara itu, pada tahun 1743 Paku Buwana telah melepaskan segala haknya sebagai pengauasa Jawa Timur demi kepentingan Kompeni,namun masih berlansung sampai tahun 1767 , sebelum kompeni mulai mengurusi daerah tersebut. Pada tahun 1763 Amangkurat (Sebagai penguasa atas Blambangan) telah meminta kepada kompeni untuk membebaskan Blambangan dari cengkraman Mangwi, tapi Van der Perra tidak berminat untuk memberi bantuan itu. Ketika ternyata pada tahun 1766, orang-orang Inggris mencoba untuk menempatkan kaki mereka di Jawa Timur, maka kompeni melibatkan dirinya, dan memperoleh bantuan dari Mas Vina dan Mas Anom (Mas Weko dan Mas Anom), baru pada tahun 1768 segala perlawanan dapat diatasi.

Semula kompeni mencoba dengan suatu pimpinan pemerintahan kembar, antara lain dengan seorang Patih berasal dari Surabaya, dengan apa pengaruh dari Bali akan di lawan dan dengan menyingkirkan (?) para pemimpin pribumi untuk memeluk agama Islam. Akhirnya orang sampai pada suatu pemerintahan di bawah pimpinan tunggal dengan Mas Alit sebagai bupati, yaitu seorang keturunan dari Tawang Alun, di bawah titel Raden Tumenggung Wiroguno I, sedangkan Gubernur Jenderal melarang Luzac(Penguasa di Jawa Timur) untuk mencampuri segala urusan agama. Di bawah bupati inilah pusat pemerintahan dipindahkan ke Banyuwangi

Pada tahun 1811, sisa-sisa terakhir dari persatuan Pasuruan bagian timur dan Besuki terhapus Probolinggo, Panarukan dan Besuki disewakan pada orang-orang Cina, Puger dan Banyuwangi tetap mempunyai seorang Bupati dan diperintah bersama oleh seorang pegawai dari dinas perpajakan yang berkodudukan di Banyuwangi

Dari tahun 1816, Banyuwangi menjadi suatu Rosidensi. Pada tahun 1826. Banyuwangi dipersatukan dengan Residensi Besuki oleh De Bus de Phisingnies. sedangkan pada tahun 1849, Banyuwangi dijadikan daerah yang berdiri atas kakinya sendiri. Asisten Residennya diberi juga tugas sebagai pengawas atas Bali dan Lombok. Pada tahun 1866. Asisten Residen diganti oloh seorang Residen Sejak tahui 1882, Banyu-wangi kembali merupakan suatu bagian dari Residen Besuki.

Pemerintahan pribumi dilakukan oleh bupati dengan dua orang kepala distnk, kemudian tambah satu distrik lagi Pada tanggal 1 Januari 1922. akhirnya Kabupaten Banyuwangi tidak mempunyai seorang bupati lagi.Sumber@Buku Koleksi BTD Hukum adat Blambangan Oleh Dr.Y.W.De Stoppelaar,Penerbit PSBB 2009

Oleh : MunawirBanjoewangie Tempo Doeloe

Categorised in:

No comment for KERAJAAN BLAMBANGAN, Versi Buku BALAMBANGANSCH ADATRECHT Oleh Dr.Y.W.De Stoppelaar 1927

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*