Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Kepala SMK17 Agustus Dikejar dan Dipukul Murid

Kepala SMK17 Agustus Dikejar dan Dipukul Murid

(710 Views) August 27, 2016 2:46 pm | Published by | No comment

Beda Tafsir Putusan PTUN Picu Konflik Perpenas Memanas

Beda Tafsir PTUN, dialog

Banyuwangi, Memorandum – Kisruh terkait kepengurusan Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) 17 Agustus 1945 kembali terjadi. Kali ini kekisruhan terjadi saat kubu Sugihartoyo menunjuk Pelni Rompi sebagai Kepala SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Pelni Rompis ditolak saat hendak masuk ke unit pendidikan yang kebetulan berada satu komplek dengan kantor Perpenas 1945 itu.

Pemicunya perbedaan tafsir terkait putusan PTUN, yakni mengabulkan gugatan atas surat keputusan Kementrian Hukum dan Ham (Kemenkumham) yang berisi persetujuan terhadap kepengurusan Sugihartoyo, SH. Sedangkan saat ini, Sugihartoyo dan Kemenkumham sedang melakukan proses banding. Kubu Waridjan ngotot bahwa putusan PTUN bisa dilaksanakan, meskipun ada upaya banding kubu Sugihartoyo dan Kemenkumham.

Kisruh terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Ketika itu Pelni Rompis ke kantor SMA 17 Agustus 1945 untuk menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah. Pelni dilantik kubu Sugihartoyo sebagai kepala sekolah SMA 17 Agustus 1945 terhitung mulai Rabu (24/8). “Kemarin saya sudah datang ke sini, tapi ditolak, hari ini saya datang lagi dan meminta anak-anak dipulangkan dulu sampai persoalan ini selesai,” kata Perlni Rompis, Kamis (25/8).

Entah siapa yang mengomando, puluhan pelajar SMA yang ada disitu mengejar Pelni dan melakukan pemukulan. Beruntung situasi berhasil dikendalikan petugas Kepolisian. Bahkan Kapolres Banyuwangi AKBP Budi Mulyanto turun  langsung untuk menjadi mediator. Kapolres juga sempat meminta pelajar SMA 17 Agustus 1945 dipulangkan agar tidak terlibat dalam persoalan ini. Namun Anton Sunartono, selaku kepala sekolah menolak dan siap bertanggungjawab atas anak didiknya.

Ditemui terpisah, Anton menyatakan dirinya hingga saat ini masih sah sebagai kepala sekolah. Sebab surat keputusan yang mengangkatnya sebagai Kepala Sekolah SMA 17 Agustus 1945 masih berlaku. Dia juga menegaskan baginya hanya ada Perpenas 17 Agusutus 1945 pimpinan Waridjan. “Karena pak Waridjan sudah menang mutlak di PTUN,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang biasa dipanggil Anton ini menyatakan, Pelni Rompis tidak bisa menjadi kepala sekolah di SMA 17 Agustus 1945. Sebab menurutnya, yang bersangkutan berstatus PNS. Seorang PNS menurutnya harus mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pendidikan untuk menjabat sebagai Kepala sekolah swasta. “Dia tidak punya rekomendasi dari Dinas, dan saya yakin Dinas tidak akan memberikan rekomendasi,” tegasnya.

Tidak hanya itu, menurutnya, semua guru yang ada di sekolah yang saat ini dipimpinnya tidak menginginkan Pelni menjadi Kepala Sekolah. Begitu juga dengan murid-muridnya. “Tadi itu tidak ada yang mengerahkan anak-anak, mereka memang tidak suka pada Pelni Rompis karena anak-anak tahu siapa Pelni itu,” pungkasnya.

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Kepala SMK17 Agustus Dikejar dan Dipukul Murid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*