Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Kendang, Antara Nilai Seni dan Ekonomi

Kendang, Antara Nilai Seni dan Ekonomi

(1386 Views) January 8, 2017 9:49 am | Published by | No comment

Banyuwangi, Memorandum – Rata-Rata yang disebut seniman itu selalu memiliki ciri dan penampilan yang khas sebagai aktualisasi sikap “gila”-nya terhadap seni. Meskipun (tentu) untuk menjadi seorang seniman kita tidak perlu harus menjadi gila. Pendapat tersebut bisa benar, juga bisa tidak. Semua sangat tergantung dari penilaian dan penafsiran orang.

Disebut “gila”, barangkali, karena setiap seniman itu rata-rata gaya hidup serta pandangannya terhadap sesuatu sering berbeda dengan orang lain pada umumnya. Mereka, umumnya sering membuat kabur antara batas-batas nilai seni dan nilai ekonomi. Benarkah? Berikut, sebuah ke-gila-an seorang seniman kawak Banyuwangi, Sahuni, S.Sen., yang berhasil direkam oleh media ini.

Awalnya, Sahuni bercerita tentang berbagai jenis kendang yang dipakai oleh kesenian-kesenian tradisional dari berbagai daerah. Agar dapat menjelaskan lebih detail tentang kendang yang ia ceriterakan, Sahuni kemudian mengajak penulis untuk berkunjung ke rumah Suwarno, seorang pembuat (pengrajin) Kendang yang tinggal di Dusun Gontoran, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah. Di rumah Suwarno itu, Sahuni kemudian melanjutkan penjelasannya tentang ciri-ciri Kendang dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau kita bicara tentang musik tradisional, ya Kendang ini yang menjadi ‘roh’-nya,” ungkapnya.

Lalu apa yang menjadi ciri khas Kendang Banyuwangi? Sebelum menjawab, Sahuni meminta kepada Suwarno untuk mengeluarkan beberapa buah Kendang dari dalam rumahnya. Dan sejurus kemudian, hampir seratusan buah kendang pun berjajar rapi di teras rumah Suwarno. Ternyata, semua kendang-kendang tersebut adalah milik pribadi Sahuni. Dengan harga saat ini yang mencapai sekitar Rp 650 ribu per buah. Berarti untuk mengoleksi kendang-kendangnya itu Sahuni telah merogoh kocek-nya tidak kurang dari Rp 65 juta-an. Gila! Untuk apa sebenarnya kendang-kendang itu? “Saya tengah berkonsentrasi untuk menggarap musik kendang, seperti Rampak Gendang yang di Jawa Barat,” jelas Sahuni ketika ditanya untuk apa ia harus mengoleksi kendang sebanyak itu.

“Kendang Banyuwangen ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh kendang-kendang dari daerah lain, yaitu bahan bakunya selalu terbuat dari bonggol kayu kelapa. Untuk ukuran standar kendang Banyuwangi, panjangnya 55 cm, keplak-nya berdiameter 21 cm dan untuk gedhog-nya berdiameter 27,5 cm,” jelas Sahuni sembari mempraktekkan cara-cara menabuh Kendang khas Banyuwangen.

Menurut penuturan komposer dan seniman musik tradisional Banyuwangi itu, kendang khas Banyuwangian saat ini juga banyak dipakai di beberapa sekolah tinggi seni seperti STSI Surakarta, STSI Denpasar, ISI Yogyakarta, dan beberapa sanggar terkenal seperti Sanggar Tari Deddy Luthan (Jakarta), Sanggar Tari Garmina (Jakarta) serta beberapa Sanggar Tari Jaipong di Jawa Barat. “Terus terang, ide untuk menggarap rampak kendang khas Banyuwangen itu datangnya dari teman-teman sanggar dari luar daerah yang banyak memesan kendang melalui saya. Tapi entah kapan saya bisa merealisasikan pergelaran itu. Tunggu saja!,” kata Sahuni. Sayangnya, ide Sahuni untuk membuat rampak kendang itu hingga saat ini belum sempat terwujud. (penulis adalah Wartawan Memorandum)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in: , ,

No comment for Kendang, Antara Nilai Seni dan Ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*