
Banyuwangi- di Banyuwangi kembali menorehkan prestasi nasional. Kali ini Desa Tamansari, Kecamatan Licin, juara pertama Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, Kategori Digital, yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Penghargaan ADWI 2021 diserahkan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal Dan Transmigrasi, Budie Arie Setiadi. Dengan didampingi Menteri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, dan Menkaparekraf Sandiaga Salahudin Uno, di Jakarta, Selasa (7/12/2021) malam.
“Kami bersyukur dengan prestasi ini. Sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, Banyuwangi menjadikan desa sebagai garda depan pembangunan,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Rabu (8/12/2021).
“Kami ucapkan terima kasih atas kerja keras teman-teman desa. Desa Tamansari berhasil membangun jejaring bisnis yang dikelola BUMDes, dengan mengoptimalkan peran masyarakat. Penghargaan ini kian memotivasi kami untuk terus berinovasi,” tambah Ipuk.
ADWI merupakan ajang pemberian penghargaan kepada desa-desa wisata yang memiliki prestasi dengan kriteria-kriteria penilaian dari Kemenparekraf.
Penghargaan ADWI 2021 melalui proses yang panjang. Setelah melalui serangkaian tahap kurasi, dari 1.831 peserta desa wisata yang mendaftar secara nasional, terkurasi 300 besar desa wisata, yang kemudian dikerucutkan menjadi 100 Besar. Setelah itu terpilih menjadi 50 besar desa wisata terbaik hasil kurasi para dewan kurator dan dewan juri.
Menteri Sandiaga Uno melakukan penilaian secara langsung dengan mendatangi desa-desa finalis ADWI 2021. Di Banyuwangi Sandiaga Uno mengeksplorasi berbagai destinasi wisata di Desa Tamansari untuk melakukan penilaian pada 18 September 2021 lalu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Muhammad Yanuarto Bramuda mengatakan, setelah melakukan serangkaian penilaian Desa Tamansari akhirnya terpilih menjadi juara 1 kategori digital.
“Akhirnya Desa Tamansari terpilih sebagai juara pertama kategori digital, karena penerapan digitalisasi di desa tersebut,” kata Bramuda.
Desa Tamansari menjadi desa wisata mengoptimalkan potensi dan berbagai jejaring bisnis, dengan BUMDes sebagai leading sektornya.
Di desa ini terdapat lebih 300 warga yang terlibat dalam jejaring bisnis desa wisata. Desa Tamansari juga mengoptimalkan digitalisasi dalam membangun dan memperluas jangkauan pasar desa wisata.
“Dengan dukungan dari Pemkab Banyuwangi, kami lebih mudah dalam membangun ekosistem desa wisata. Berbagai program digitalisasi seperti Smart Kampung yang diterapkan Pemkab Banyuwangi, turut mendorong kami terbiasa mengembangkan digitalisasi di desa kami,” kata Rizal Sahputra, Kepala Desa Tamansari.
Perlahan Desa Tamansari terus mengembangkan jejaring bisnisnya. Saat ini terhitung 60 UMKM, 50 homestay, puluhan jasa guide wisata, kendaraan wisata, serta beberapa usaha kecil menengah lainnya. Seluruh jenis usaha desa ini melibatkan warganya.
“Kami selalu mendorong segala unit usaha desa benar-benar diinisiasi oleh warga itu sendiri. Namun, sebagai pemerintah desa, kami akan berusaha mencukupi akomodasi pariwisata atau menyempurnakan segala bentuk sumber daya yang berkaitan dengan desa wisata,” katanya.
Selain meraih juara ADWI, Desa Tamansari juga mendapat sertifikasi berkelanjutan dari Kemenkarekraf dengan kategori “Maju”.
“Dalam sertikasi berkelanjutan ini hanya 16 desa di Indonesia yang terpilih,” kata Bramuda.
Dengan sertifikasi ini kian mengukuhkan Desa Tamansari sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. (*)
Artikel ini sebelumnya telah ditayangkan pada website Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi : banyuwangikab.go.id
Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kota Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda, dan berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat.
Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur sekaligus menjadi yang terluas di Pulau Jawa, dengan luas wilayahnya yang mencapai 5.782,50 km2, atau lebih luas dari Pulau Bali (5.636,66 km2).
Di pesisir Kabupaten Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara pulau Jawa dengan pulau Bali (Pelabuhan Gilimanuk).
Penduduk Banyuwangi cukup beragam. Mayoritas adalah Suku Osing, namun terdapat Suku Madura (Kecamatan Muncar, Wongsorejo, Kalipuro, Glenmore dan Kalibaru) dan suku Jawa yang cukup signifikan, serta terdapat minoritas suku Bali, suku Mandar, dan suku Bugis. Suku Bali banyak mendiami desa – desa di kecamatan Rogojampi. Bahkan di desa Patoman, Kecamatan Rogojampi seperti miniatur desa Bali di pulau Jawa.
Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku dari suku Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua bahasa Jawa.