Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » EKONOMI » Ini cara Bupati Azwar Anas sulap Banyuwangi jadi kota destinasi

Ini cara Bupati Azwar Anas sulap Banyuwangi jadi kota destinasi

(1867 Views) July 25, 2014 3:55 pm | Published by | No comment

Merdeka.com – Stigma Banyuwangi sebagai kota santet dan terasing kini perlahan-lahan mulai sirna. Kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu kini tumbuh menjadi tujuan destinasi dunia.

Adalah Abdullah Azwar Anas, sang Bupati yang selama empat tahun terakhir merubah wajah Banyuwangi. Banyuwangi kini dikenal sebagai kota festival. Puluhan festival digelar dalam setahun di kabupaten oesing itu.

Namun tentu tidak mudah bagi Azwar Anas untuk menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi wisata dunia. Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Dan kini Banyuwangi sudah dikenal sebagai salah satu tempat tujuan wisata di Indonesia.

Lalu apa saja cara yang dilakukan Azwar untuk menyulap Banyuwangi agar dikenal dunia? Berikut ulasannya.

 Bupati Banyuwangi

1. Banyuwangi Berkonsep Sport and Tourism


Merdeka.com – 
Jika banyak daerah membuat klub sepakbola untuk mempromosikan daerahnya, maka hal itu tidak dilakukan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Meski mengusung konsep sport and tourism, Azwar memilih olahraga lainnya untuk mendongkrak popularitas Banyuwangi.

“Kalau sepak bola kita perlu membuat stadion berkelas internasional supaya dikenal, tapi dengan surfing kita tidak perlu membuat stadion, sudah diciptakan Tuhan,” ujar Azwar Anas saat berbincang dengan kru merdeka.com, Kamis (24/7) kemarin.

Banyuwangi memang dikenal karena turnamen surfing dan balap sepeda ‘tour de ijen’. “Dengan balap sepeda kita ini pariwisata alam,” terang Azwar.

Meski demikian, saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan sepak bola. Stadion pun sedang dibangun agar olah raga paling digandrungi sejagat itu juga menggema di Banyuwangi.

2. Konsolidasi Infrastuktur

Merdeka.com – Banyuwangi yang dikenal kota santet dan tidak berkembang berubah image setelah Azwar Anas terpilih jadi Bupati. Kini kabupaten tersebut terkenal ke mancanegara karena event balap sepeda ‘tour de Ijen’.

“Tour de Ijen sebenarnya juga sebagai konsolidasi infrastruktur. Menggarap event ini tidak sembarangan, jalan berkelas internasional perlu dibuat,” ujar Azwar, Kamis (24/7) kemarin.

Dengan menggarap event internasional, ada kebanggaan bagi warga Banyuwangi. Kabupaten itu kini menjadi terkenal.

“Warga selalu bilang dulu ini jalan cuma dilewati kebo, sekarang dilewati bule. Artinya semua pihak konsolidasi agar membuat jalan yang bagus, makanya namanya konsolidasi infrastruktur,” terangnya.

3. Perkuat Budaya Lokal

Merdeka.com – Festival bukan barang baru di nusantara. Saat ini beberapa daerah kerap menggelar festival-festival yang menyemarakkan daerahnya, sebut saja Jember Festival, Solo festival juga Banyuwangi festival. Namun Banyuwangi disebut paling beda.

“Kalau daerah lain itu budaya dunia dibawa ke daerah, tapi kalau banyuwangi temanya lokal,” ujar Azwar Anas saat berkunjung ke redaksi merdeka.com, Kamis (24/7) kemarin.

Selain itu, kata Azwar, Festival Banyuwangi tidak menggunakan event organizer (EO) tapi digarap sendiri oleh Pemkab Banyuwangi. Hal itu yang membuat festival Banyuwangi berbeda.

“Kami temanya lokal. Misalnya the legend of kebo-keboan, itu tema lokal yang kami angkat,” terangnya.

4. Perkuat Infrastuktur Jalan

Merdeka.com – Azwar Anas mengaku, setahun jajarannya mampu membuat 300 Km jalan. Menariknya lagi, pembuatan jalan tersebut melibatkan warga setempat.

“Jadi kami sediakan aspal, warga setempat membantu tenaga. Kita tinggal supervisi, dan itu warga sangat antusias,” ujar Azwar.

Menurutnya, pembuatan jalan juga sangat dibutuhkan warga yang tinggal jauh dipelosok. Sehingga bila Pemkab bisa merangkul, hal ini akan menjadi kerja sama yang saling menguntungkan.

“Alhamdulillah, Banyuwangi jadi daerah dengan penyelenggara jalan terbaik nomor dua di Indonesia, akhirnya kami mendapat kenaikan isentif dari Pusat sebesar Rp 75 miliar,” ujar Azwar.

 

 

5. Birokrat Dibina, Bukan Dimusuhi

Merdeka.com – Masalah birokrasi juga menjadi kendala di Banyuwangi. Saat awal menjabat sebagai Bupati, Azwar pun mengaku kerepotan dengan buruknya birokrasi di daerahnya.

“Padahal pelayanan itu yang pertama, tanpa pelayanan yang bagus, kita tidak akan bisa apa-apa, maka itu yang harus diperbaiki,” ujar politisi PKB itu.

Menurutnya, para PNS harus dibina, bukan dimusuhi. Sebagai orang baru, Azwar sadar bahwa birokrat bukanlah intensitas yang harus dimusuhi.

“Dibina saja mereka yang kurang baik jadi baik, tetapi ketika rekrutmen lagi harus benar-benar cari yang terbaik. Sekarang kami hanya menerima sarjana akutansi dan teknik yang IPK nya di atas 3,5. Biar mereka benar-benar bisa kerja,” terangnya.

6. CEO Terbaik Adalah Salesman

Merdeka.com – Setelah birokrasi baik, dan pelayanan kepada masyarakat bermutu, maka saatnya kepala daerah berpikir keras untuk memajukan wilayahnya. Menurut Azwar, seorang CEO yang baik adalah seorang salesman yang bisa menjual potensi daerahnya.

“CEO dan juga kepala daerah yang bagus itu adalah seorang salesman. Dia harus bisa ‘menjual’ daerahnya agar bisa maju dan diakui dunia,” ujar Azwar Anas.

Namun tidak sekadar menjual, tetapi perlindungan terhadap budaya dan masyarakat lokal dari gempuran budaya asing juga harus digalakkan. Untuk itulah salah satu cara menangkal budaya negatif yang masuk ke masyarakat lokal.

“Saya larang pendirian hotel kelas melati yang hanya dijadikan tempat mesum muda-mudi. Saya perbanyak hotel bintang 3,” terangnya.

Categorised in: ,

No comment for Ini cara Bupati Azwar Anas sulap Banyuwangi jadi kota destinasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*