Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » Industri Gula Glenmore Antara Investasi Dan Ancaman Pengangguran

Industri Gula Glenmore Antara Investasi Dan Ancaman Pengangguran

(1426 Views) August 5, 2016 8:49 pm | Published by | No comment
Pabrik Gula Glenmore

PT. IGG saat aktifitas giling perdana disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno di Banyuwangi, baru ini.

Banyuwangi, Memorandum – Keberandaan pabrik gula PT.Industri Gula Glenmore ( IGG) yang kini sudah mulai beroperasi diharapkan mampu mengantasi persoalan pasokan gula nasional. Investasi BUMN digandang-gandang akan mendorong pertumbuhan tenaga kerja yang otomatis meningkatkan ekonomi lokal. Namun faktanya, aktifitas PT. IGG menyisakan pertanyaan besar public terkait peluang ketenakerjaan dan perubahan iklim di sekitar Banyuwangi selatan.

Sejak uji coba penggilingan tebu panen perdana dimulai 2 Agustus lalu muncul kesangsian masyarakat Glenmore terkait peluang partisipasi. Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Sebab memang tidak banyak karyawan yang direkrut PT IGG berasal dari masyarakat Glenmore atau Banyuwangi. Konidisi ini berbanding terbalik justru peluang itu terserap tenaga luar daerah.

Yang cukup mengoda dikedepankan bagaimana analisa dampak lingkungan ( AMDAL) setelah pabrik ini beroperasi dalam jangka panjang. Sebab keberadaan pabrik IGG cepat atau lambat memberikan kontribusi perubahan iklim dan perubahan kultur sosial masyarakat setempat,

Pengamat lingkungan dari Elang Indonesia Arkan malah heran sejauh ini AMDAL pabrik gula ini belum dipaparkan secara transparan kepada public. “ Bicara PT.IGG saya lebih melihatnya ada ketidak terbukaan terkait pengelolaan AMDAL. Pabrik ini berdiri begitu saja. Apa karena mereka mendirikan di tanah Negara terus tidak perlu pengkajian AMDAL dan keterlibatan masyarakat lokal ? tentulah tidak demikian,” kata Arkan kepada Memorandum, Kamis (4/8).

Lanjut Arkan perubahan tanaman dari tanaman keras beralih tebu memiliki dampak cultural dan ekologi. Persoalan ini saja berpeluang melebarkan jumlah pengangguran ribuan  buruh PTPN XII di Glenmore dan Kalibaru.  Fakta di lapangan banyak warga perkebunan bekerja di luar pekerbunan menjadi kuli bangunan, buruh di Bali, Surabaya bahkan TKI. “ Jika mereka sudah ratusan tahun sejak kolonilan Belanda bekerja secara turun temurun mengelola kebun kopi dan karet termasuk kakao. Tiba –tiba kebijakan berubah beralih ke tebu yang hanya membutuhkan sedikit perawatan dan tidak butuh tenaga kerja  yang banyak jelas menciptakan banyak pengangguran,” paparnya.

Kedua kata Arkan, persoalan perubahan tanaman juga memberikan kontribusi kepada panas global dan perubahan ekologi termasuk pola resapan air. Ada 11 .250 hektar lahan yang dibutuhkan dengan total investasi 1,5 trilyun dan direncanakan memproduksi gula 6000-9000 ton per hari tentu bukan barik kecil.

 Terkait masalah ini resistensi kerusakan lingkungan akan terjadi. Mulai polusi udara, pembuangan limbah dan pergeseran iklim disekitarnya akan membawa dampak buruk. Apalagi Glenmore adalah bagian sambuk pengaman resapan air untuk 7 Kecamatan di wilayah selatan Banyuwangi. Rarusan ribu hektar petani berharap air dari kawasan Kalibaru dan Glenmore. Jika tanaman keras ditebangi sampai 11 ribu hektar lebih ancaman kekurangan pasokan iar dan banjir lumbur sekitar kawasan muara di depan mata.

“ Melihat fakta ini saya jadi mempertanyakan kapasitas Bupati Aswar Anas yang kata paling pinter di Indonesia melihat ancaman kerusakan lingkungan dan peluang pengangguran buruh PTPN XII bagiamana ? Kami tidak anti investasi. Namun perlu kajian yang mendalam terkait AMDAl dikedepankan. Prinsipnya kita dukungan investasi di Banyuwangi namun haruslah proporsional dan ramah lingkungan,” tutup Arkan pemerhati lingkungan Elang Indonesia. (nre)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Industri Gula Glenmore Antara Investasi Dan Ancaman Pengangguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*