Hari Sampah Nasional, DKP Ajak Media Tour Sampah di TPSA Bulusan

1379 views
banner 468x60)

BANYUWANGI  –  Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banyuwangi mempunyai cara yang unik untuk memperingati Hari Sampah Nasional yang jatuh tepat hari ini, Jumat (21/2). Sejumlah jurnalis media cetak dan elektronik diajak Tour Sampah alias berkeliling melihat secara langsung proses pengolahan sampah di tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Bulusan, Kalipuro.

Di awal tour, para jurnalis diajak masuk ke dalam  area TPSA. Meskipun disambut bau menyegat, tidak menyurutkan rombongan awak media masuk lebih dalam ke area penampungan sampah. Mereka pun menyaksikan langsung truk-truk  pengangkut sampah yang sedang menurunkan muatannya sambil mendengarkan penjelasan dari Kepala DKP Arief Setyawan.

Arief mengatakan, TPSA Bulusan memiliki luas 1,5 hektar. Dengan luasan tersebut, TPSA mendapatkan kiriman  600 ton sampah perharinya. Sampah-sampah ini berasal dari 13 kecamatan diantaranya Kecamatan Genteng, Srono, Cluring, Singojuruh, Rogojampi, Giri, Glagah dan Kalipuro. “Satu rumah tangga menyumbang sampah duakilogram perharinya,” kata Arief.

 Semua sampah itu, lanjut Arief diangkut dengan dump truck yang saat ini jumlahnya sebanyak 19 buah. “Kondisi truck-truck ini masih laik jalan namun sebenarnya masih kurang untuk menjangkau semua wilayah Banyuwangi. Pemkab pun terus menambah jumlah armada pengangkut secara bertahap,” terang Arief.

TPSA Bulusan menggunakan pengolahan sampah sistem controlland fill. Dimana sampah-sampah diurug dengan tanah dan ditumpuk lagi dengan sampah baru, kemudian diurug lagi dengan tanah dan ditumpuk lagi dengan sampah hingga mencapai batas tertentu. Suatu saat TPSA pun akan penuh dan tidak layak lagi untuk dikirimi sampah. “Makanya kita memang perlu mencari lahan baru sebagai TPSA,” ujarnya.

Penambahan lokasi TPSA memang sangat diperlukan. Mengingat masih ada sebelas kecamatan lainnya masih belum memiliki TPSA. “Masyarakat yang belum punya TPSA biasanya membuang ke sungai dan tempat-tempat terbuka lainnya,” ujar Arief.

 Sebenarnya Banyuwangi memiliki  satu TPSA lain selain Bulusan yakni TPSA Glowong,  di Kecamatan Gambiran. Namun, oleh warga tidak boleh menerima  sampah dari luar kecamatan Gambiran. “Karena itu kami memohon dukungan dari masyarakat dalam penanganan sampah karena kita semua ini terlibat dalam produksi sampah dan sudah semestinya juga terlibat dalam pengelolaan sampah,”  pinta Arief.

Dari area pembuangan sampah, para jurnalis diperlihatkan alat pengolah sampah yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Alat yang baru saja terpasang dan belum difungsikan nantinya akan mampu mengolah sampah menjadi granule. “Pastinya alat ini akan mengurangi jumlah sampah yang ada di TPSA ini,” imbuh Arief.

 DKP juga mengambil manfaat gas metan yang dihasilkan oleh sampah untuk bahan bakar memasak. Dengan instalasi sederhana berupa pipa yang ditanamkan sedalam 6 meter kedalam tumpukan sampah, gas metan kemudian disalurkan ke kompor dan menjadi bahan bakar yang tersedia setiap saat. Gas ini juga dialirkan kebeberapa rumah warga sekitar.

Awak media juga diajak melihat aktifitas pemulung yang memilah sampah organik dan non organik. Para pemulung ini telah membantu mengurangi jumlah sampah dengan mengubahnya menjadi sumber penghasilan bagi mereka. “Ada sampah ada rejeki pak,” cetus salah satu pemulung. (Humas Protokol)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply

*