Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BANYUWANGI FESTIVAL » Festival Batik Bangkitkan Gairah Desainer Muda Banyuwangi

Festival Batik Bangkitkan Gairah Desainer Muda Banyuwangi

(1385 Views) September 19, 2014 8:53 am | Published by | No comment

BANYUWANGI – Perhelatan Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang digelar Pemkab Banyuwangi sejak tahun lalu membawa geliat tersendiri bagi para pelaku fesyen asal Banyuwangi. Mereka yang selama ini bekerja “underground”, merasa diberikan panggung untuk menunjukkan karyanya. Seperti Anita Yuni, desainer fesyen asal Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, yang antusias menyambut event festival batik tersebut.

Bagi Anita Yuni, keterlibatannya di BBF tahun ini adalah kali pertam,a meskipun BBF telah digelar sejak 2013 lalu. Anita yang memulai karirnya sebagai desainer aksesoris dengan label Hijabox ini, awalnya tidak tertarik terlibat dalam BBF. Di benaknya saat itu, BBF hanya sekadar gelaran biasa tanpa sesuatu yang istimewa. Namun, pandangan itu berubah selepas Anita menonton Youtube, mengikuti rasa penasarannya setelah mendengar gaung BBF tahun lalu.

“Pas akhir tahun lalu, saya iseng melihat Youtube. Saya kaget setelah lihat tayangannya ternyata fashion batik ini digarap dengan serius oleh Pemkab Banyuwangi. Kebetulan juga, saat itu passion saya di fashion design mulai tumbuh. Saya pun memutuskan harus ikut berkiprah tahun 2014 ini,” tutur Anita.

Persiapan pun dilakukan. Perempuan berjilbab ini langsung mencari informasi ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan Banyuwangi sebagai pelaksana BBF. Tidak berhenti di situ saja, Anita pun langsung mencari tema untuk gaun yang ditampilkan.

“Saya terus berpikir apa yang akan saya angkat. Harus yang berakar pada budaya dan warisan lokal,” tekad Anita.

Anita yang tinggal di Glenmore, kawasan Selatan Banyuwangi, pun terus mengeksplorasi kekayaan kultur lokal. Saat mengunjungi sejumlah rumah penduduk dia melihat banyak keramik antik peninggalan zaman Belanda dengan motif yang seragam. Warna biru dan putih yang mendominasi motif keramik-keramik tersebut diketahui bernama royal delf blue. Kawasan Glenmore memang dikenal sebagai salah satu basis tempat tinggal warga Belanda ketika masa penjajahan dulu.

“Motif yang menjadi bagian warisan budaya warga Glenmore inilah yang saya angkat untuk bersanding dengan batik banyuwangi. Gambar dan warna khas Belanda itu lalu saya enjawantahkan dalam motif khas batik banyuwangi, yaitu motif Gajah Uling dan Kangkung Setingkes, hingga lahirlah konsep batik yang saya beri nama Holland van Java,” ungkap Anita.

Akan ada tiga desain yang akan ditampilkan Anita. Satu desain glamor untuk perempuan dan dua desain glamor untuk pria. Sedangkan satu lagi desain glamor perempuan dengan dominasi warna pink lembut mengusung konsep yang berbeda dari tiga lainnya yang dinamakan “The Blooming Blambangan”.

Dengan konsep yang diusungnya itu, Anita mengaku  total mempersiapkan desain batik di BBF ini. Bahkan dia membutuhkan waktu berbulan-bulan sejak riset konsep, proses mendesain sampai penjahitan. “Satu bulan terakhir ini fokus pada penjahitan dan pemasangan detail aksesoris pakaian. Hampir semua penjahit dan pekerja saya minta kerja ekstra agar bisa selesai tepat waktu,” beber Anita.

Sebagai desainer yang juga seorang dokter, Anita tidak bisa melepaskan aspek kesehatan dari semua desainnya termasuk yang akan ditampilkan di BBF besok. Untuk itu, Anita memilih batik yang dibuat dengan pewarna yang aman bagi penggunanya. Pilihannya jatuh pada batik yang dibuat dengan pewarna alam. Misalnya warna biru diambil dari tanaman indigofera yang difermentasikan.

“Pewarna alam tidak akan menimbulkan alergi di kulit seperti reaksi yang bisa ditimbulkan dari pewarna sintetis. Selain itu pewarna alam lebih ramah lingkungan dan menampilkan warna yang lebih lembut dan elegan,” urai Anita.

Dengan mengikuti Banyuwangi Batik Festival Anita mengaku mendapatkan banyak manfaat. Selain bisa menampilkan karya-karyanya di hadapan publik, dia bisa bertemu fashion designer Banyuwangi lainnya yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Bertemu orang-orang dengan passion yang sama seperti dirinya seolah semakin mendekatkannya pada mimpi yang ia inginkan selama ini, yaitu menggairahkan industri fesyen di Banyuwangi berbasis kekayaan kultur lokal.

“Pasti lebih mudah mewujudkannya jika bersama-sama. Kami juga berangan-angan membuat Banyuwangi Fashion Week sebagai agenda rutin fashion di tanah air,” pungkas Anita. (humas protokol)

Categorised in:

No comment for Festival Batik Bangkitkan Gairah Desainer Muda Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*