Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » DULUR ISUN » Dulur Isun : Sahuni, S.Sen

Dulur Isun : Sahuni, S.Sen

(598 Views) May 27, 2016 9:55 am | Published by | No comment

Menggubah Tuntunan Menjadi Tontonan

sahuni S.Sen

Sahuni S.Sen

Banyuwangi, Memorandum – Tahun 1970 pernah dikirim untuk mengikuti Upgrading Course mewakili kesenian Jawa Timur di Jakarta. Setelah lulus, seniman asal Desa Singojuruh ini kembali dikirim untuk bergabung ke sebuah lembaga pendidikan seni yang bernama “Konservatorium Karawitan Indonesia (Kokari) dan tercatat sebagai salah satu dari 5 orang siswa pertama lembaga tersebut.

Sejak itulah, kiprahnya di dunia seni tari dan karawitan seakan tak terbendung. Beberapa karya besar pun terlahir dari jiwa seninya. Salah satunya adalah sebuah komposisi musik pentatonik yang diberinya judul; “Banyumili”. Karya komposisi ini digarap Sahuni sebagai tugas akhir saat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Wilwatikta, Surabaya tahun 1998.

Selain piawai meramu berbagai macam musik tradisional, Sahuni, S.Sen., seniman berkumis tebal yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Singojuruh ini ternyata juga mampu mengolah gerak tangan dan kaki menjadi sebuah tari. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah; “Tari Punjari”, yang digarapnya sekitar tahun tahun 1980-an.

Selain itu, ada salah satu karyanya yang cukup fenomenal dan sempat menuai banyak kritikan pedas dari kalangan seniman tari lainnya. Karya tari yang diberi nama “Kundaran” – yang merupakan kepanjangan dari kata kuntulan dan dadaran – itu digubahnya dari kesenian Hadrah, sebuah seni-budaya Islami yang sarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran Islam.

Menurutnya, kadar “tuntunan” yang ada pada kesenian Hadrah ini sekarang sudah semakin berkurang seiring dengan banyaknya sentuhan-sentuhan artistik pada tampilannya. “Dengan penambahan-penambahan tata gerak, kadar tuntunan dalam seni Hadrah semakin lama semakin berkurang. Mungkin saat ini hanya tinggal 25 persen saja. Ini karena dalam tampilannya mulai ada bentuk-bentuk penonjolan dari sisi artistiknya. Pada perkembangan terakhir, kesenian Hadrah ini kemudian berubah menjadi kesenian Kuntulan seperti yang banyak kita saksikan sekarang ini,” kata Sahuni, yang pada sekitar tahun 1984 telah menggubah tari Kuntulan menjadi Kundaran, sehingga menjadikan kesenian tersebut murni sebagai tontonan. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Dulur Isun : Sahuni, S.Sen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*