Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali

Click to open Menus
Home » BANYUWANGI FESTIVAL » Dilema Pelestarian Seni Budaya, Antara Komersialisasi dan Keutuhan Tradisi

Dilema Pelestarian Seni Budaya, Antara Komersialisasi dan Keutuhan Tradisi

(704 Views) June 25, 2016 4:29 pm | Published by | No comment

Banyuwangi, Memorandum – Setiap adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, merupakan jejak peninggalan nenek-moyang yang sarat akan nilai-nilai luhur suatu kehidupan. Meski sering hanya berupa pesan-pesan yang simbolis, jejak-jejak seperti itu dapat menuntun generasi penerus ke arah pemahaman tentang kultur-budaya yang dijadikan pedoman dan tuntunan hidup para leluhur zaman lampau. Lalu mengapa generasi kita sekarang ini harus bersusah-payah untuk melestarikan dan memahami budaya peninggalan nenek-moyang? Ada banyak sekali alasan tentang hal itu.

Dahsyatnya arus modernisasi yang melahirkan budaya hidup metropolis di kalangan masyarakat kita sekarang, menyebabkan terjadinya erosi kepercayaan masyarakat terhadap peninggalan budaya nenek-moyang. Keadaan seperti ini merupakan ancaman nyata bagi keutuhan budaya dan adat- tradisi yang selama ini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat kita.

Sebenarnya kondisi dan keberadaan adat-tradisi dalam kehidupan masyarakat kita sekarang ini belum terlalu mengkhawatirkan. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk penyelamatan aneka-ragam adat-tradisi yang masih tersisa saat ini, cukup berhasil dalam memperpanjang kehidupan tradisi-tradisi tersebut. Meskipun demikian, setiap upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan dan melestarikan adat-tradisi, ternyata masih sering terjadi salah-kaprah. Kesalah-kaprahan itu terjadi karena adanya persepsi dan pemahaman yang muncul dari sudut pandang kondisional masyarakat sekarang.

Dengan mengangkat dan membesarkan kembali sisa-sisa tradisi yang masih ada, barangkali memang merupakan satu-satunya cara untuk membuat adat-tradisi kita tetap bertahan. Dan ini sebenarnya telah menjadi dilema tersendiri. Karena pada dasarnya hampir semua adat-tradisi yang masih bertahan sampai saat ini, bukan lagi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat, namun lebih ke arah tontonan yang menghibur.

Akibatnya, setting ke arah komersialisasi pun mulai gencar dilakukan. Dan yang menjadi korban adalah adat-tradisi itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari penyelenggaraan ritual adat Seblang, baik yang ada di Desa Olehsari maupun di Kelurahan Bakungan, atau upacara adat Kebo-keboan di Desa Alasmalang.

Menghadapi kondisi yang dilematis ini, budayawan yang juga seorang dosen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Drs Subur Bahri berpendapat bahwa upaya “pemurnian” adat-tradisi memang harus dikakukan, agar peninggalan budaya nenek-moyang itu tetap terjaga keutuhannya. “Itulah yang menjadi pemikiran kita saat ini. Kita harus segera menggali dan melakukan upaya-upaya pemurnian kembali. Dengan cara itu, kita berharap akan ketemu sebuah pakem yang standar,” kata Subur Bahri, yang merupakan generasi ke-4 dari keturunan Buyut Karti, sang pencetus upacara adat Kebo-keboan pada sekitar abad XVIII lampau. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

 

Categorised in: ,

No comment for Dilema Pelestarian Seni Budaya, Antara Komersialisasi dan Keutuhan Tradisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

you MUST enable javascript to be able to comment