Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » Buruh Lepas Perkebunan Tebu Rawan Konflik

Buruh Lepas Perkebunan Tebu Rawan Konflik

(1505 Views) August 18, 2016 12:59 pm | Published by | No comment
Lahan Kebun ke Tebu

Tenaga buruh kebun lepas, sudah tidak ada lagi sejak alat berat grabber traktor digunakan untuk pasokan tebu di Pabrik IGG. (nre)

Banyuwangi, Memorandum – Penggunaan dan pemanfaatan mekanisasi dilahan tebu milik PTPN XII di Banyuwangi untuk kepentingan tanaman Tebu menjadi ancaman, pengangguran khususnya para buruh lepas yang menggantungkan hidup dari perkebunan Negara. Terlepas nilai efesiensi mekanisasi dilahan tebu dituding menjadi lahan empuk indikasi ada kebocaran dana operasional PTPN XII yang notabene bersumber dari uang negara.

Pemanfaatan rabber traktor di sejumlah lahan tebu milik PTPN XII di Banyuwangi khususnya di kebun Kendenglembu, Kalirejo, Kalisepanjang, Kalikempit, Kalitelepak dinilai makin mempersempit keterlibatan warga disekitar perkebunan menganggur. Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya. Kesenjangan kesempatan kerja buruh lepas mengundang keprihatinan. Khususnya peluang kerja sejak penggantian lahan karet, kopi dan kakao bergeser pada tanaman tebu. “Kini buruh kerja lepas perkebunan dilingkungan PTPN XII makin tidak jelas statusnya,” kata Hasan (35) warga perkebunan di Glenmore ditemui Memorandum, kemarin (15/8).

Hasan pemilik jasa angkutan dari Glenmore menilai, 8 grabber traktor yang kini beroperasi dilahan perkebunan per hari menyedot anggaran untuk 1 unitnya mengeluarkan biaya Rp. 2,4 juta. Misalnya, grabber milik rekanan PT. Industri Gula Glenmore (IGG) yang mengerjakan proyek lahan tebu di Glenmore. Secara umum efektif hemat waktu. Namun faktanya, pemanfaatan grabber traktor banyak yang belum maksimal penggunaannya. “Tentunya, ada uang negara yang mengalir tidak jelas. PTPN tetap membayar jasa alat ini apa bukan pemborosan,” ungkap Hasan.

Hasan sepaham ketika pemanfaatan alat-alat berat di lahan tebu senyampang efektif dan bukan menjadi ladang kebocoran anggaran uang negara. “Alat berat memang cepat dan efisien, lebih bijaksana memanfaatkan tenaga buruh lokal. Kalau 2 unit grabber tidak kerja sehari saja sudah Rp. 4,8 juta mubasir terbuang. Kenyataan dilapangan begitu,” imbuhnya.

Grabber traktor fungsinya sebagai alat pengangkat batang tebu dai lahan ke atas truk mirip katrol. Dari segi waktu alat ini cukup membantu kecepatan proses pengangkutan ke atas truk sebelum tebu masuk ke pabrik gula.

Pemerhati lingkungan dari Elang Indonesia jauh sebelumnya menengarai PTPN XII di Banyuwangi setelah proyek PT. IGG beroperasi rawan kepentingan. Direksi dinilai tidak memiliki responbility terkait kondisi lingkungan di sekitarnya. ”Yang kami sesalkan itu minimnya amdal dan munculnya kesenjangan ketenakerjaan tingkat lokal. Ini sangat memprihatinkan. Fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) tidak dijalankan sebagaimana perusahaan negara. Kalau melihat fakta dilapangan direksi gagal dalam mendorong tingkat partisipasi lokal,” cetus Arkan pemerhati Lingkungan Banyuwangi yang aktif menentang proyek tambang emas Tumpang Pitu.

Pihak Direksi PTPN XII seperti disampaikan Suyoto Penasehat Direksi, pada edisi Memorandum edisi 8 Agustus 2016 lalu, bahwa diperkirakan nilai proyek angkutan tebu pada musim giling fase awal sebesar Rp. 10 miliar.  Suyoto penasehat direksi PTPN XII kepada pengurus OPG mengatakan, pihaknya akan menjembatani persoalan kesempatan kerja ini. (nre)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

Categorised in:

No comment for Buruh Lepas Perkebunan Tebu Rawan Konflik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*