Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » EKONOMI » BPS Rilis Metode Baru, PDRB Banyuwangi 2014 Menjadi Rp 53,4 Triliun

BPS Rilis Metode Baru, PDRB Banyuwangi 2014 Menjadi Rp 53,4 Triliun

(585 Views) December 3, 2015 6:05 am | Published by | No comment

BANYUWANGI –  Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur melakukan pemutakhiran metode penghitungan  Produk Daerah Regional Bruto (PDRB). Hasilnya, data perkembangan ekonomi Banyuwangi pun mengalami perubahan. Jika sebelumnya memakai metode lama PDRB Banyuwangi 2014 hanya Rp. 40,4 triliun, kini menjadi Rp. 53,4 triliun.

PDRB merupakan jumlah total produk yang ditimbulkan oleh faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk suatu daerah. PDRB sendiri menjadi salah satu gambaran stuktur perekonomian sebuah daerah.

Kepala Bidang Neraca dan Wilayah BPS Propinsi Jatim, Setyowati mengatakan pemutakhiran penghitungan PDRB dilakukan dengan perubahan tahun dasar PDRB yang tadinya menggunakan tahun dasar 2000 (metode lama) menjadi tahun dasar 2010 (metode baru) berbasis System National Account (SNA) 2008.

“Perubahan tahun dasar ini dilatarbelakangi antara lain pengaruh perekonomian global pada struktur perekonomian nasional dalam sepuluh tahun terakhir, selain juga atas rekomendasi Perserikatan Bangsa Bangsa. Ada 118 revisi dalam penghitungan PDRB dari metode sebelumnya. Namun dari jumlah tersebut baru 44 revisi utama yang telah diterapkan oleh BPS “ kata Setyowati saat melakukan sosialisasi penjelasan tahun dasar PDRB Berbasis SNA 2008 di aula Minak Jinggo, Senin lalu (30/11).

Setyowati mengungkapkan penghitungan dengan metode baru ini, baru diterapkan oleh dua propinsi yakni Jakarta dan Jawa Timur. Jatim, kata dia, bahkan menjadi percontohan nasional penggunaan sistem SNA 2008 ini. “Perubahan metode penghitungan statistik ini memang mengakibatkan nilai PDRB semua daerah di Jawa Timur mulai tahun 2010-2014 mengalami perubahan,” jelasnya.

Contoh perubahan penghitungan dengan metode SNA 2008 dari SNA sebelumnya misalnya di sektor pertanian. Pada metode lama penghitungan PDRB dilakukan hanya pada output saat panen, sedangkan metode baru selain output panen juga ditambah nilai tumbuhan yang masih belum menghasilkan atau masih dalam tahap pertumbuhan. Sehingga hasil penghitungan sektor pertanian di PDRB Banyuwangi tahun 2010 yang tadinya dihitung sebesar Rp. 10,9 triliun dengan metode baru menjadi Rp, 11,5 triliun atau meningkat 5,99 persen.

“Dengan penghitungan metode baru ini rata-rata nilai PDRB jadi mengalami peningkatan karena penghitungan dilakukan lebih rinci yang tentunya menguntungkan bagi daerah karena gambaran indikator perekonomiannya menjadi naik,” ungkap Setyowati.

Selain meningkatkan nilai PDRB daerah, manfaat dari perubahan tahun dasar ini, lanjut Setyowati data PDRB menjadi lebih berkualitas. Data PDRB ini sekarang juga dapat diperbandingkan secara global karena menggunakan SNA 2008 yang berlaku internasional.

“Misalnya PDRB Banyuwangi bisa dibandingkan dengan PDRB salah satu daerah di Inggris atau Amerika. Jadi kita bisa mengukur kemajuan daerah head to head dengan negara lain,” ujar Setyowati.

Perubahan metodologi penghitungan PDRB ini otomatis juga berpengaruh pada besaran pendapatan perkapita masyarakat Banyuwangi. Mengingat, besaran pendapatan per kapita suatu daerah dihitung dari besaran PDRB dibagi dengan jumlah penduduk yang ada.

“Bila sebelumnya pendapatan perkapita warga Bumi Blambangan terbaru yang dirilis BPS atau data tahun 2014 sebesar Rp. 25,5 juta/orang/tahun, kini menjadi Rp. 33,6 juta /orang/tahun,” pungkasnya. (Humas Protokol)

Categorised in:

No comment for BPS Rilis Metode Baru, PDRB Banyuwangi 2014 Menjadi Rp 53,4 Triliun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*