Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PARIWISATA » Banyuwangi Dorong Pengembangan Ekonomi Berbasis Pariwisata

Banyuwangi Dorong Pengembangan Ekonomi Berbasis Pariwisata

(901 Views) October 16, 2014 8:40 pm | Published by | No comment

YOGYAKARTA – Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, berupaya mengoptimalkan sektor ekonomi berbasis pariwisata. Strategi ini dilakukan agar daerah berjuluk “The Sunrise of Java” tersebut tidak hanya mengandalkan industri ekstraktif berbasis sumberdaya alam.

Demikian dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam South East Asia Local Leader Forum (SEALLF) di Yogyakarta, Senin (13/10/2014). Forum tersebut diikuti sejumlah kepala daerah di kawasan Asia Tenggara. SEALLF digelar sebagai sarana berbagi pengalaman dan komitmen dalam pengelolaan industri ekstraktif di ASEAN. Acara tersebut digagas Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bupati Anas lantas bercerita perjuangan Pemkab Banyuwangi memilih jalur negosiasi dalam meperjuangkan hak daerah dalam manajemen pengelolaan industri ekstraktif, khususnya pertambangan emas di daerahnya. Pemkab Banyuwangi menempuh jalur perbaikan regulasi sehingga kegiatan pertambangan bisa lebih berpihak ke daerah. “Awalnya langkah kita sempat dipandang sinis. Tapi kita komitmen semua ini demi masa depan rakyat Banyuwangi sampai akhirnya Pemkab Banyuwangi berhasil merevisi isi perjanjian hibah saham menjadi hibah saham non-dilusi. Daerah tidak boleh menyerah meskipun saat ini Undang-undang Minerba yang ada belum memihak,” ujar Anas.

Menurut Anas, pengelolaan sektor tambang di Indonesia memang belum berpihak kepada daerah. Royalti tambang yang diberikan sangat rendah, sehingga dampak tambang bagi kesejahteraan rakyat sangat minim. Banyuwangi pun merintis usaha untuk mendapatkan saham cuma-cuma alias golden share.

Pemkab Banyuwangi meminta masukan dari sejumlah lembaga penasihat keuangan dan ahli hukum pertambangan. Konsultasi juga dilakukan rutin dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Golden share ini perjuangan kita. Setelah negosiasi yang cukup alot sekarang Banyuwangi berhasil memperoleh golden share 10 persen non-dilusi,” tandasnya.

Kelak, keuntungan dari kepemilikan saham tersebut akan langsung masuk ke daerah melalui APBD. “Saya sengaja tidak bikin BUMD untuk menutup celah penyimpangan, juga agar kelak saham pemerintah daerah tidak terdilusi,” kata dia.

Untuk menjamin transparansi, sudah ada regulasi yang mengontrolnya. “Jadi golden share ini tidak akan terusik siapapun bupati Banyuwangi setelah saya. Benar-benar untuk Banyuwangi. Kalau saya berpikir untuk diri saya sendiri, tentu saya tidak akan ngotot minta saham 10% untuk pemerintah daerah. Dengan dana dari keuntungan berdasarkan saham yang dimiliki pemda, pembangunan Banyuwangi bisa makin kencang, bisa menyekolahkan anak-anak sampai doktor ke luar negeri, Puskesmas-Puskesmas makin modern dan sebagainya,” tandas Bupati Anas.

Meskipun potensi tambang cukup besar, lanjut Bupati Anas, Banyuwangi tidak bergantung pada hasil tambang tersebut.  Sejumlah sektor ekonomi terus digerakkan. Salah satunya sektor industri kreatif berbasis pariwisata. Pengembangan destinasi wisata di Banyuwangi terus dilakukan.

“Misalnya, Pantai Pulau Merah yang bersebelahan dengan lokasi penambangan terus kita kembangkan. Dulu Pulau Merah relatif tak terawat dan sepi. Sekarang bisa dicek, ada payung wisata, bersih, dan ramai pengunjung. Tiap tahun digelar kompetisi selancar internasional di tempat itu. Masyarakat setempat membuka gerai makanan, suvenir, menyewakan home stay, dan membuat kerajinan untuk buah tangan wisatawan,” tuturnya.

Dengan diseleksi, ada warga setempat yang disekolahkan ke sejumlah hotel dan restoran untuk berguru manajemen home stay serta cara penyajian makanan yang memikat wisatawan. “Termasuk ada yang dikirim ke restoran ikan bakar untuk belajar cara membakar ikan yang pas,” jelas Bupati Anas.

Bupati Anas juga memacu pengembangan sektor wisata dengan mengemasnya melalui berbagai program pariwisata event (event tourism) bertajuk “Banyuwangi Festival”. Berbagai event digelar, mulai dari Banyuwangi Ethno Carnival, Festival Gandrung Sewu, Batik Festival, Festival Rujak Soto, International Tour de Banyuwangi Ijen, sampai Banyuwangi Beach Jazz. “Event tourism ini penting untuk memperpanjang siklus destinasi. Datang untuk saksikan event sekaligus berkunjung ke destinasi wisata lainnya, sehingga perputaran uang yang masuk ke masyarakat lebih besar,” kata dia.

Berkat berbagai pengembangan itu, sektor ekonomi berbasis pariwisata terus tumbuh. Kenaikan sektor kerajinan (tekstil, kerajinan berbasis kayu dan rotan, serta barang kulit), misalnya, pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi naik hampir 75%.

Sektor restoran (industri kuliner) naik 12%, sektor perhotelan tumbuh 18%, dan sektor jasa hiburan kebudayaan naik 38%. Kenaikan beberapa sektor industri kreatif itu melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang sebesar 7%.

“Pariwisata dan industri kreatif ini memang berjalan seiringan. Pariwisata dan industri kreatif adalah sektor yang nyaris tak pernah surut, pertumbuhannya selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi. Maka ke depan sektor ini bakal jadi salah satu tumpuan ekonomi Banyuwangi,” papar Bupati Anas. (Humas protokol)

Categorised in:

No comment for Banyuwangi Dorong Pengembangan Ekonomi Berbasis Pariwisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*