Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali

Click to open Menus
Home » BANYUWANGI FESTIVAL » Bak Bidadari Turun Dari Langit, Ribuan Gandrung Merahkan Pantai Boom

Bak Bidadari Turun Dari Langit, Ribuan Gandrung Merahkan Pantai Boom

(1120 Views) November 28, 2014 5:27 pm | Published by | No comment

BANYUWANGI – Pantai Boom Banyuwangi menjadi lautan merah saat 1200 penari Gandrung menarikan tarian khas yang menjadi identitas Kota The Sunrise Of Java Ini. Bagaikan bidadari yang turun dari langit, ribuan penari Gandrung itu menyuguhkan tarian elegan nan mempesona. Pagelaran tari kolosal itu pun semakin memukau saat seribu selendang merah Gandrung mulai terkembang.

Gandrung adalah tari khas Banyuwangi yang kerap menjadi tari pembuka di berbagai acara. Pada Banyuwangi festival, tarian yang menurut muasalnya berkisah tentang terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri ini dikemas menjadi pertunjukkan kolosal yang memukau. Melibatkan 1200 penari Gandrung mulai tingkat SD sampai SMA, Gandrung Sewu dipentaskan di tepi Pantai Boom, sabtu (29/11).

“ Pagelaran ini bukan hanya sekedar pertunjukan tari  kolosal, tapi mengandung makna konsolidasi budaya yang melibatkan banyak pihak. Ini juga salah satu strategi menumbuhkan kecintaan generasi muda pada seni Gandrung. Mereka tidak hanya menjadi penonoton namun terlibat langsung dalam upaya pelestarian itu sendiri,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.

Festival Gandrung Sewu yang mengangkat tema “Seblang Subuh” ini diawali dengan munculnya barisan lelaki yang membawa penjor. Mereka adalah mantan prajurit-prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu. Setelah itu masuk puluhan Gandrung Marsan (Gandrung Laki-laki) yang membawakan tarian Gandrung dengan nuansa jenaka.

Pada awalnya, penari Gandrung memang dibawakan seorang laki-laki atau yang biasa disebut Gandrung Marsan. Lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.

Kemudian, pertunjukkan kolosal ini dilanjutkan  adegan munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik. Serempak, tarian khas Gandrung tergelar dengan indahnya.

Tarian Gandrung diselingi teatrikal  perebutan posisi sebagai gandrung, antara gandrung laki-laki
dan gandrung  perempuan. Fragmen ini pun dikisahkan berlangsung hingga subuh tiba. Saat terdengar suara adzan subuh, mereka pun tersadar akan kesalahannya. Kedua belah pihak memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Mereka menyadari bahwa menjadi gandrung adalah suratan tangannya, jadi harus dijalani, dan tak perlu diperebutkan.

Uniknya, karena bermakna permohonan ampun pada yang maha kuasa, properti yang dibawa para penari gandrung ini selain kipas adalah sapu lidi. Simbolisasi bersih-bersih diri dan mohon ampun ditunjukkan dengan sapu lidi yang mereka bawa. Melanjutkan tariannya, ribuan penari itu pun mengembangkan kipas kuning diiringi dengan munculnya Dewi Sri ditengah-tengah para penari. Kemunculan dewi padi yang melambangkan kesuburan itu pun mengakhiri pertunjukan tari kolosal di hari yang memasuki senja.

Tarian kolosal ini pun dimeriahkan dengan hadirnya tiga turis asing yang ikut menari Gandrung. Meskipun masih nampak canggung, namun tiga mahasiswa asing asal Slowakia, Venezuela dan Rumania yang tengah menempuh S2 di Universitas Muhammadiyah Malang itu  menjadi daya tarik tersendiri di pertunjukan Festival Gandrung kali ini. (Humas & Protokol)

Categorised in:

No comment for Bak Bidadari Turun Dari Langit, Ribuan Gandrung Merahkan Pantai Boom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

you MUST enable javascript to be able to comment