Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Angklung Banyuwangi

Angklung Banyuwangi

(3756 Views) August 13, 2014 11:46 am | Published by | No comment

Angklung adalah seni khas Banyuwangi. Para pemainnya terdiri dari 12 sampai 14 orang. Instrumen musik terbuat dari bamboo dan memiliki empat jenis pertunjukan yaitu, angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung Blambangan.

angklung paglak
Angklung Caruk
Kata “caruk” berasal dari kata asli Banyuwangi yang berarti “pertemuan”. Dua kelompok bertemu dan bersaing untuk bermain angklung bersama yang disebut angklung caruk.
Biasanya ada tiga kelompok penonton. Satu kelompok mendukung satu kelompok angklung dan kelompok penonton lainnya mendukung kelompok angklung kedua. Kelompok ketiga adalah penonton netral.

Angklung Tetak
Istilah tetak berasal dari bahasa yang berarti “menjaga di malam hari”. Angklung tetak dapat menjadi alat yang digunakan untuk membantu jaga malam. Angklung tetak terkenal pada tahun 1950. Pada awal berdirinya angklung tetak tumbuh di desa Glagah, dan pada tahun 1974 telah lebih disempurnakan lagi, terutama dari segi irama.

Angklung Paglak
Paglak adalah gubuk kecil sederhana yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak dibangun dari bambu dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya.

Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjagas sawah sembari bermain alat musik angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. konon musik tersebut dulunya diciptakan untuk mengejek para penjajah kolonial. Untuk memainkan musik tersebut dibutuhkan keberanian dan konsentrasi ekstra karena bertempat di ketinggian. Orang-orang Belanda yang ditantang untuk memainkan musik di ketinggian,  tidak berani dan mengakui bahwa orang pribumi jauh lebih berani daripada mereka.

Angklung Dwi Laras

Merupakan hasil pengembangan dari angklung tetak, penggabungan komposisi dua nada, yaitu laras pelog dan laras slendro.

Angklung Blambangan
Angklung Blambangan merupakan improvisasi dari angklung caruk. Terdapat instrumen musik termasuk gong dan alat musik Gandrung.

Angklung Caruk

Seni Angklung Caruk  berasal dari jenis kesenian Legong Bali.   ” Caruk ” dalam bahasa Using berarti ” temu “. Kata dasar itu bisa diucapkan ” Kecaruk ” atau ” Bertemu “.  Kata ” Angklung Caruk ” artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog itu, dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian tujuannya  untuk memperebutkan gelar sebagai group kesenian angklung yang terbaik. Meski tidak ada aturan secara tertulis, kedua kelompok kesenian itu sejak puluhan tahun sudah memahi aturan yang menjadi kesepakatan. Sehingga, mereka tidak ada yang curang, tidak ada yang marah saat kurang mendapatkan respon atau aplaus dari penonton. Kecepatan irama musik dan lagu-lagu yang dimainkannya sangat dipengaruhi oleh nuansa musik angklungritmis dari Bali. Namun dalam kesenian ini terdapat juga perpaduan antara nada dan gamelan slendro dari Jawa yang melahirkan kreativitas estetik. Dalam pertunjukan seni angklung caruk juga disajikan beberapa tarian yang biasanya dimainkan oleh penari laki-laki. Jenis-jenis tarian tersebut antara lain tari jangeran, tari gandrungan, cakilan, tari kuntulan, dan tari daerah Blambangan. Instrumen musik angklung caruk terdiri dari seperangkat angklung ( dua unit angklung ), kendang ( dua buah ), slenthem ( dua buah ), saron ( dua buah ), peking ( dua buah ), kethuk ( dua buah ), dan gong ( dua buah ).

Tradisi Angklung Caruk adalah gambaran betapa tingginya apresiasi warga Banyuwangi terhadap musik daerahnya. Dalam angklung caruk itu, pertama setiap kelompok masing-masing membawakan ” larasan ” yang menjadi andalan dengan seorang penari pria yang disebut BADUT. Setelah selesai dan sesuai kesepakatan waktunya, maka giliran kelompok lain melakukan hal yang sama. Pada sesi berikutnya adalah Adol Gending, yaitu kelompok A misalnya, membawa intrumen beberapa ketukan dari sebuah lagu, untuk ditebak kelompok B. Apabila kelompok B sudah tahu, maka diberi kesempatan memotong dengan cara ” ngosek ” atau memukul gamelan secara tidak beraturan. Jika itu sudah terjadi, maka kelompok A harus menghentikan intrumennya dan memberikan kesempatan kepada kelompok B untuk meneruskan intrumen itu. Jika ternyata masih salah, maka kelompok A akan mengambil kembali dengan ” ngosek ” kemudian meneruskan hingga tuntas. Ini juga berlaku kepada badut, mereka juga diadu variasi tariannya dengan lagu-lagu andalan yang dimiliki kelompok. Dalam tempo cepat, baik tarian maupun pukulan instrumennya tidak boleh ada yang salah.

Itulah gambaran sedikit tentang Angklung Caruk Banyuwangi yang penuh sportivitas. Selain masing-masing membawa supporter ( pendukung ), ada juga penonton netral yang siap memberikan aplus jika memang penampilan kelompok itu bagus dan memukau. Namun bagi mereka yang kurang beruntung, caci makian dan ejekan penonton tetap diterimanya, sebagai pemicu agar terus melakukan latihan dan meningkatkan insting/ kepekaan bermusiknya.

Berdasarkan cerita para penabuh tua , dulu pentas Angklung Caruk sering melibatkan kekuatan supranatural untuk saling menjatuhkan lawan. Tetapi sekarang sudah makin positif sebab para supporter sudah sportif menghadapi kekalahan dan kemenangan. Disana juga selalu dihadirkan ahli-ahli angklung yang berwibawa. Dengan kehadiran para ahli ini maka kelompok-kelompok angklung dan supporternya tidak berani curang.

Categorised in: ,

No comment for Angklung Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*