29 Desa di Banyuwangi Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan

1294 views
banner 468x60)

BANYUWANGI, — Kabupaten Banyuwangi hanya memiliki 29 desa open defecation free (DFO) atau bebas dari buang air besar sembarangan. Angka tersebut hanya 12 persen dari total 217 desa di Kabupaten Banyuwangi.

Hal tersebut diungkapkan (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2015).

“Sebenarnya hampir 75 persen warga Banyuwangi sudah memiliki jamban, tetapi budaya buang air besar di jamban masih kurang. Desa yang sudah bebas dari buang air besar sembarangan di Banyuwangi hanya 29 desa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buang air besar di sungai masih menjadi budaya dari sebagian masyarakat.

“Kita selalu memberikan informasi terkait penyakit yang ditimbulkan jika kita buang air besar di sungai. Jika tidak memiliki jamban, maka mereka bisa membuat jamban untuk digunakan bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Pemkab Banyuwangi mengadakan festival gerakan toliet bersih yang diluncurkan di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jumat. Anas menambahkan, toilet selama ini kerap disepelekan.

“Kami ingin kita membangun dari halaman belakang, dari kebersihan toilet. Mungkin ini dianggap sepele, tetapi sesungguhnya sangat urgen. Keberadaan toilet ikut merepresentasikan kepribadian masyarakat setempat,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, dengan adanya gerakan toilet bersih, masyarakat diharapkan beralih menggunakan jamban untuk buang air besar dan tidak lagi di sungai.

“Bisa dibayangkan sungai di atas digunakan untuk buang air besar, di bawah digunakan mandi, cuci pakaian, bahkan untuk mencuci kedelai,” ujarnya.

Untuk sosialisasi terkait gerakan tersebut, ia meminta bantuan dari tokoh agama untuk menyampaikan pesan dalam khotbah agama.

“Kami sudah menghubungi tokoh agama dari MUI dan juga paroki agar khotbah kepada umat mengambil tema tentang kebersihan dan pentingnya toilet bersih. Hal itu bisa dilakukan selama sebulan,” katanya.

Anas mengatakan, gerakan toilet bersih melibatkan partisipasi langsung dari semua warga. Sejauh mana masyarakat peduli pada kebersihan lingkungannya, terutama fasilitas toilet di rumah dan lingkungan sekitarnya.

Festival toilet bersih melibatkan pengelola tempat wisata, perhotelan, pondok pesantren, sekolah, tempat ibadah, kantor swasta, hingga instansi publik. Kegiatan ini berlangsung selama enam bulan ke depan dengan lomba kebersihan toilet.

“Untuk jurinya, kita rahasiakan,” ujarnya.

KOMPAS.com 

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply

*