Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » 2 Keluarga Eks gafatar Kembali Ber-Syahadat

2 Keluarga Eks gafatar Kembali Ber-Syahadat

(801 Views) February 3, 2016 9:30 am | Published by | No comment

Banyuwangi, Memorandum – Usai dipulangkan ke daerah asalnya, para anggota eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kecamatan Muncar, berjanji akan kembali ke jalan yang benar. Di depan saksi para pajabat pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, maupun dari aparat TNI/ Polri, dua keluarga dari dua desa ini juga mengucapkan dua kalimat Syahadat.

eks gafatar banyuwangi

Dua keluarga itu adalah Kamari (40) dan istrinya Dopian (28), serta ketiga anaknya Krisna (10), Agung (9) dan Diana (3). Mereka tinggal di Dusun Muncar, RT 02/ RW 01, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. Sementara satu keluarga lainnya, Warni (28) dan istrinya Desi (24) dan dua anakanya Musha (5,5) dan Zahra (3) yang kini berdomisili Dusun Krajan, RT 1/ RW 07, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Meski kini mereka telah dikembalikan ke tengah keluarga dan warga lainnya, akan tetapi kedua warga ini masih dalam pengawasan pihak pemerintah setempat. Pihak pemerintah Desa setempat meyakini, mereka telah diterima ditengah keluarga maupun warga secara umum. “Mereka kita kembalikan ke keluarga, dan berbaur bersama masyarakat,” jelas Kades Kedungrejo, Abdur Rahman.

Sementara itu, Kamari mengungkapkan, dirinya bersama keluarga bersyukur kini dapat tinggal bersama kakaknya yang menjadi pedagang bakso. Meskipun hingga kini dirinya masih menempati tempat yang serba terbatas. Kondisi kamar yang hanya berukuran 6×3 meter itu lebih dari cukup untuk menjadi tempat berteduh sementara keluarganya. “Kami belum tahu tempat ini menyewa atau disewakan, kami hanya disuruh menempati saja,” katanya.

Meskipun hidup ditengah keluarganya, namun hal itu belum bisa membuatnya tenang. Pasalnya, kebiasaan kerja dan aktivitas bertani yang sebelumnya sempat dilakukan selama di tempat tinggalnya di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tidak bisa dilakukan di tempatnya yang baru. Bukan itu saja, untuk mencukupi hidup maupun sekedar makan, mereka masih mengandalkan sisa bantuan yang diberikan oleh pemerintah. “Masih ada beras bantuan dan uang dari pak Gubernur Sukarwo waktu lalu,” katanya

Pihaknya mengaku juga masih bingung untuk kembali menata kehidupannya seperti dahulu. Bapak tiga anak ini juga belum memiliki rencana untuk kembali beraktivitas layaknya sebelum pergi ke Kalimantan. “Kalau ada modal, mungkin saya akan kembali berjualan bakso,” ucapnya.

Saat ditanya mengenai sepak terjangnya ketika ikut dalam Gerakan Fajar Nusantar, ia menjelentrehkan jika Gafatar itu telah bubar sejak Agustus tahun lalu. Pihaknya juga mengaku Gafatar bukanlah aliran agama. Ia bersama kelompoknya hanyalah segerombolan anggota yang berdiri di bidang sosial dan kedaulatan pangan. “Kami disana berkonsep untuk melanjutkan tujuan menguasai kembali kebutuhan pangan di negeri ini,” terangnya

Terang saja dari pengakuannya, setiap kelompok tani yang dibesarkan dalam anggota eks Gafatar ini, mereka diberikan sejumlah lahan garapan yang bervariasi luasnya. Bahkan setiap keluarga atau setiap anggota kelompok mendapat jatah hingga 43 hektar. “Sebelumnya kita beli sendiri dan swadaya kelompok,” katanya.

Selain itu, mereka juga memiliki konsep mendirikan bangunan komplek-komplek untuk kegiatan kelompoknya. Bahkan dari sejumlah anggota juga di tempatkan sesuai dengan bidang keahliannya.  Satu komplek atau lokasi itu memang diciptakan berderet memanjang atau biasan mereka sebut dengan rumah panjang. Tujuannya agar mereka dapat selalu melakukan aktivitas bersama-sama. “Kalau pendidik biasanya jadi guru, bidang pertanian yang mendukung pertanian, begitu pula bidang lainnya, pokoknya konsepnya sudah lengkap,” katanya.

Dari sejumlah bangunan itu juga terdapat bangunan untuk sarana pendidikan, dan sarana peribadatan. Misal sarana pendidikan bagi anak-anak mereka itu dipilih untuk melakukan kegiatan belajar dengan cara home schooling. Artinya, anak-anak mereka tidak diijinkan untuk sekolah di tempat sekolah umum milik pemerintah atau desa setempat. Selama empat bulan setelah memutuskan pergi ke Kalimantan dan bergabung dengan anggota eks Gafatar lainnya, dirinya tak pernah berpikir akan terjadi hal yang seperti ini. Awalnya melalui saluran Whatsapp, ia bersama anggota eks Gafatar lain berkomunikasi, hingga memutuskan untuk bergabung kembali. Tujuannya hanya dapat hidup layak dan dapat menentukan tujuan kedepan yang lebih baik. Akan tetapi hal itu semua sirna karena keributan yang terjadi di tempat tinggal barunya itu. “Kami adalah korban, tak ada yang tersisa bahkan semua lahan dan rumah kami dibakar,” keluhnya.

Saat kembali ke penampungan mereka bahkan tak mampu menyelamatkan harta benda maupunhewan ternak mereka. Semua ditinggalkan begitu saja dan hanya keselamatan hidup yang ada di benaknya. “Bahkan teman saya pulang hanya membawa sehelai baju yang menempel di tubuhnya,” kenangnya.

Kini semua itu telah berlalu, keluarga eks Gafatar ini telah kembali ke tanah asalnya masing-masing. Mereka diharpakan dapat kembali melakukan aktivitas seperti biasa dan berbaur bersama masyarakat layaknya keluarga. Meskipun demikian, keberadaan eks Gafatar ini tetap menjadi perhatian bersama. (ndy)

Sumber : Koran Harian Memorandum

Categorised in:

No comment for 2 Keluarga Eks gafatar Kembali Ber-Syahadat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*