February 17, 2018

Yayasan Semar Indonesia Mesem Peringati Harkitnas Dengan Diskusi Kebangsaaan

yayasan Semar Indonesia Mesem-2

– Supono bersama para peserta diskusi

Banyuwangi, Memorandum – Yayasan Semar Indonesia Mesem punya cara tersendiri dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 108 tahun ini. Bertempat di Pendopo Agung Puri Kasepuhan Banjar Pertapan di Desa Tapanrejo, Muncar, Yayasan yang dipimpin Supono ini menggelar sebuah pertemuan diskusi menarik tentang kebangkitan Indonesia, Jum’at (20/5) kemarin.

Dalam sambutan pembukaannya, tokoh muda yang biasa dipanggil sapa Cak Pono itu sempat mengungkap panjang-lebar tentang kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan Yayasan yang dipimpinnya. Salah satunya adalah; 3 kali kegiatan ‘Ruwatan Nusantara’ dan ‘Ruwatan Jagat’ yang menurutnya untuk kebangkitan dan kejayan Indonesia.

Sebagai warga yang eling terhadap jasa para leluhur pendiri bangsa, dia mersa berkewjiban menggelar acara-acara tersebut. “Tidak ada tendensi apa-apa, selain untuk bersama-sama berpikir dan berjuang untuk kemajuan Indonesia. Kita harus bersama-sama menyatukan kekuatan melalui gerakan pemikiran untuk semangat pembangunan kedepan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Cak Pono juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap negeri ini. “Sebagai anak jaman, saya merasa kehilangan kepemimpinan. Perilaku sosial yang semakin meneras, tindakan perkosaan dan kriminalitas lain yang terus meningkat, butuh seorang pemimpin yang mumpuni dan berwibawa. Kita berharap, akan segera muncul sosok pemimpin yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap bangsa dan Negara ini,” tandasnya.

Acara yang digelar dalam rangka memperingati 108 tahun kebangkitan nasional bertajuk; ‘Doa dan Ngomong Bareng untuk kebangkitan dan kejayaan Indonesia’ itu di hadiri oleh sejumlah tokoh LSM dan sejumlah politisi. Salah satunya adalah Ustadz Farhurrozi. Ustadz yang pernah menjabat sebagai Ketua DPC PKNU Banyuwangi ini mengungkapkan, kekhawatiran yang diungkap Cak Pono itu juga pernah terjadi pada jaman Nabi-nabi. “Yang pasti, saya setuju dengan apa yang disampaikan Mas Andah (Andah Wibisono, aktifis LSM, red.) tadi, yaitu; ‘tikus pithi hanoto baris’. Artinya, kita yang dibawah ini harus menata diri dan bersama-sama mendorong dan menegakkan bangsa ini,” ungkapnya. (bud/*)

Sumber | Koran Harian memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60