Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Wisata Religi Berbalut Misteri di Banyuwangi

Wisata Religi Berbalut Misteri di Banyuwangi

(8879 Views) January 11, 2016 3:11 pm | Published by | No comment

Banyuwangi, Memorandum – Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, geliat industri pariwisata Kabupaten Banyuwangi mulai menampakkan hasil. Selain karena memang memiliki potensi, keberhasilan itu juga sangat ditentukan oleh sistem promosi yang dikemas dengan baik dan konsisten. Penyelenggaraan rangkaian kegiatan seni-budaya yang dikemas dengan label; “Banyuwangi Festival” sejak tahun 2011 lalu, yang menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah berhasil mendongkrak angka kunjungan wisata ke Banyuwangi, merupakan bukti dari keberhasilan Pemkab Banyuwangi dalam mengemas system promosi pariwisata-nya.

Wisata Religi Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi 2

Namun demikian, belum banyak yang tahu bahwa dibalik keindahan alam yang menjadi  destinasi pariwisata yang mulai banyak dikunjungi wisatawan akhir-akhir ini, Banyuwangi yang kultur-budaya masyarakatnya sangat kental dengan nuansa magis dan mistis ini ternyata juga berpeluang besar untuk mengembangkan potensi wisata lainnya, yakni ‘wisata religi’, yang sebagian masih kental dengan balutan misteri.

Berikut, beberapa jejak peninggalan sejarah yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata religi, yang dilaporkan oleh wartawan Memorandum, Eko Budi Setianto di Banyuwangi.

Makam ‘Keramat’ Datuk Malik Ibrahim Dikunjungi Muslim usai Wali Songoan

Usai dari keliling Wali Songoan, biasanya umat muslim menyempatkan berdoa di makam Makam Syekh Abdurrahim bin Abu Bakar bin Abdurrahman atau yang biasa di sebut Datuk Malik Ibrahim. Hampir setiap hari, Makam Waliyullah keturunan Arab Saudi yang terletak di salah satu jalan protokol di Kota Banyuwangi itu selalu banyak dikunjungi peziarah. Dan khusus pada malam Jum’at Legi yang oleh sebagian orang dipercaya sebagai malam paling baik dan penuh rahmat, Makam tokoh yang dikenal sebagai penyebar Agama Islam di Jawa dan Bali ini akan penuh sesak dengan peziarah yang berdatangan dari berbagai daerah.

Wisata Religi Datuk Malik Ibrahim 2

Oleh masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya, Datuk Malik Ibrahim Bauzir dikenal sebagai seorah tokoh ulama yang sangat gigih menyebarkan agama Islam. Sehingga tidak mengherankan bila banyak peziarah yang datang untuk bertawadduk dan berzikir di makam yang dianggap keramat ini. Ribuan penziarah dari berbagai daerah datang silih berganti ke makam salah satu penyebar agama Islam di Bumi Blambangan ini.

Wisata Religi Datuk Malik Ibrahim 1

Habib Kadir Bauzir, generasi ke 5 keturunan Datuk Malik Ibrahim yang menjadi juru kunci makam, menuturkan, makam tersebut tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat biasa, namun juga dari kalangan pejabat sipil dan militer. “Selain masyarakat biasa, banyak juga pejabat sipil dan militer yang datang mengunjungi makam ini. Selain itu juga pernah ada peziarah yang datang dari Malaysia dan Singapura,” kata Habib kadir Bauzir, tentang makam tokoh Ulama yang meninggal dunia pada tahun 1419 Masehi ini.

Makam Kuno Buyut Sayu Atikah Sering Dikunjungi Pedagang Sukses  

Wisata Religi Makam Buyut Sayu Atikah 1

Disebuah bukit di sisi sebelah barat Kota Banyuwangi, ada sebuah makam kuno yang baru ditemukan pada sekitar tahun 1920-an silam. Makam yang terletak di kawasan yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan ‘Bukit Giri’ itu adalah Makam Buyut Sayu Atikah. Makam tersebut dipercaya sebagai makam Islam tertua di Banyuwangi yang dibangun pada abad XV silam. Semenjak ditemukan, selama ini bangunan makam tersebut sudah pernah 3 direhab, yakni pada tahun 1993, 2004 dan 2007.

Wisata Religi Makam Buyut Atikah 1

Kini, area pemakaman yang dinaungi Sembilan pohon Kamboja berusia ratusan tahun itu juga mulai ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain makam Buyut Sayu Atikah (makam utama) yang berada dibilik bangunan bertirai putih, juga terdapat Sembilan buah makam lain di area yang termasuk dalam wilayah Kelurahan Giri itu. Lalu, siapa sebenarnya Buyut Sayu Atikah yang makamnya juga dianggap keramat itu?

Menurut penulis buku “Mengenal Sejarah dan Kebudayaan Banyuwangi”, Drs Suhalik, Sayu Atikah adalah cucu dari Raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu. Sayu Atikah yang bernama asli Putri Sekar Dadu itu dinikahkan dengan Maulana Ishak atau yang dikenal dengan nama Syekh Wali Lanang, setelah Maulana Ishak berhasil menyembuhkan Putri sang Raja dari penyakit.

Konon, Maulana Ishak datang ke Bumi Blambangan karena diutus oleh Sunan Ampel untuk mengislamkan masyarakat Blambangan yang kala itu masih beragama Hindu. Oleh Raja, Maulana Ishak diperbolehkan menyebarkan Islam tetapi hanya kepada maysrakat biasa di luar istana. Namun, Maulana Ishak kemudian dianggap melanggar karena juga menyebarkan ajaran Islam di kalangan pejabat istana. Karena itu, Maulana Ishak kemudian diusir dari Blambangan, dan anak yang dikandung Sekardadu, istrinya, harus dilarung ke laut.

Bayi yang dilarung itu diketemukan oleh seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama; Nyai Ageng Pinatih dari Gresik. Bayi yang diberi nama; Raden Muhammad Ainul Yakin alias Raden Paku yang dilarung kelaut itulah yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri, salah satu dari ‘Wali Songo’ penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

Konon makam Buyut Atikah sering jadi jujukan pengusaha yang ingin sukses. Mereka melakukan doa dan meminta kemudahan agar dilancarkan usaha perdagangannya.

Pendopo Sabha Swagata Blambangan Ada Pintu Ghaib Menuju Alas Purwo

Wisata Religi Pendopo Banyuwangi 1

Bangunan kuno yang sejak zaman pemerintahan Bupati Joko Supaat Slamet ditetapkan sebagai rumah dinas Bupati Banyuwangi ini merupakan bangunan paling bersejarah bagi Banyuwangi. Bangunan yang sudah mengalami dua kali pemugaran besar itu diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1770-an, seiring dengan berdirinya Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin Bupati pertama, Mas Alit, yang bergelar; Tumenggung Wiroguno I.

Wisata Religi Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi 3

Bangunan Cagar Budaya ini terletak di sisi sebelah utara Taman Sritanjung, yang pada zaman dahulu dikenal sebagai ‘Lapangan Tegal Masjid’. Kawasan yang saat sekarang ini menjadi titik pusat Kota Banyuwangi itu dahulu merupakan sebuah kawasan pusat pemerintahan yang disebut dengan istilah ‘sistem pemerintahan macapat’, yakni; Lapangan Tegal Masjid (Taman Sritanjung) sebagai ‘Alun-alun’ tempat berkumpulnya warga berada di tengah-tengah, kemudian Pendopo sebagai pusat pemerintahan berada di sisi utara Alun-alun, Bangunan Masjid (Masjid Agung Baiturrahman, sekarang, red.) sebagai tempat ibadah berada disisi sebelah barat, bangunan Penjara (sekarang menjadi Mall Sritanjung) sebagai perlambang keamanan berada sisisi sebelah timur Alun-alun dan Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi disisi sebelah selatan.

Wisata Religi Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi 1

Sebelum kemudian ditetapkan sebagai rumah dinas Bupati pada masa pemerintahan Bupati Joko Supaat Slamet, sejak masa pemerintahan Bupati pertama (Mas Alit), Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang masuk dalam wilayah Kelurahan Temenggungan ini adalah Kantor Pemda Banyuwangi.

Konon sejumlah penunggu Alas Purwo sering menampakan diri di Pendopo Sabha Swagata Blambangan atau rumah kediaman Bupati Banyuwangi. Karena diyakini paranormal ada pintu ghaib yang bisa menembus masuk di Alas Purwo yang berada dikawasan Balai Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi Selatan.

Kelenteng Hoo Tong Bio

Kelenteng Hoo Tong Bio, juga merupakan salah satu bangunan kuno bersejarah di Banyuwangi. Menurut catatan yang ada, bangunan yang menjadi pusat kegiatan warga keturunan Tiong Hoa dan Tempat Ibadat Tri Darma (TITD) ini didirikan oleh seorang Nakhoda Kapal China bernama; Tan Hu Chin Jin, sekitar tahun 1768 Masehi.

Wisata Religi Kelenteng Hoo Tong Bio 2

Bangunan yang berlokasi di Kelurahan Karangrejo atau tepatnya berada dikawasan ‘Pecinan’ ini dahulu juga dikenal sebagai benteng perlindungan bagi orang-orang Banyuwangi keturunan China.

Menurut penuturan beberapa pengurus kelenteng, berdirinya bangunan Kelenteng Hoo Tong Bio terkait erat dengan sejarah Batavia. Konon pada saat terjadi pembantaian orang-orang China oleh Tentara VOC di Kota Batavia, Kapiten Kapal China bernama Tan Hu Chin Jin bersama kru-nya memimpin pelarian orang-orang keturunan China dengan menggunakan kapal. Setelah kapal tersebut terdampar di Pantai Banyuwangi, Tan Hu Chin Jin dan orang-orang keturunan China lainnya lalu memutuskan untuk tinggal dan menetap di Banyuwangi, yang kemudian membangun kelenteng sebagai tempat ibadat dan kegiatan bersama.

Wisata Religi Kelenteng Hoo Tong Bio 1

Untuk menghormati kebesaran sang Nakhoda, sampai saat ini setiap tahun selalu digelar peringatan besar-besaran di Kelenteng Hoo Tong Bio, yang dihadiri oleh warga etnis China yang berdatangan dari berbagai daerah di Jawa.

Gua Maria Jatiningrum, Curahjati.

Bagi kalangan umat Katolik di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya, keberadaan ‘Gua Maria Jatiningrum’ yang berlokasi di Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, merupakan bagian penting dalam kegiatan peribadatan mereka. Gua Maria Jatiningrum yang dibangun antara tahun 1954 – 1955 ini diberkati oleh Mgr AEJ Albers OCarm pada tanggal 15 Agustus 1956.

Gua yang semula dikenal dengan nama; “Gua Maria Waluyaning Tiyang Sakit” ini kemudian diganti nama menjadi “Gua Maria Jatiningrum”. Dalam wilayah gerejani, keberadaan Gua Maria ini termasuk kedalam wilayah Paroki “Ratu Para Rasul” Curahjati, yang berada dibawah Keuskupan Malang. Paroki ini merupakan salah satu dari tiga paroki yang ada di Kabupaten Banyuwangi (selain Paroki Banyuwangi dan Paroki Genteng) yang merupakan cikal bakal dari Keuskupan Malang.

Wisata Religi Goa Maria Jatiningrum Curahjati 2

Perkembangan Gereja di daerah ini berawal pada tahun 1925, seiring dengan kedatangan orang-orang Katolik asal Boro, Kalibawang dan Kulonprogo. Beberapa dari mereka adalah orang-orang Katolik yang dipermandikan di Sendangsono pada tahun 1924. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Januari 1928, terjadi permandian pertama di Curahjati yang dilakukan oleh Pastor Emanuel Stutient OCarm. Oleh kalangan umat Katolik, Gua Maria Jatiningrum ini merupakan salah satu buah iman dari umat Katolik di daerah ini.

Petilasan Prabu Tawangalun Cikal Bakal Banyuwangi

Wisata Religi Petilasan Prabu Tawangalun 1

Sebagai kawasan yang menjadi pusat kerajaan Blambangan, Banyuwangi banyak memiliki situs-situs sejarah yang merupakan jejak-jejak peradaban masa lalu di kawasan ujung Pulau Jawa paling timur. Selain situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Muncar, salah satu situs sejarah yang banyak sekali menyimpan artefak peninggalan sejarah kuno adalah situs Macanputih di Desa Macanputih, Kecamatan Kabat.

Wisata Religi Petilasan Prabu Tawangalun 2

Berbagai temuan-temuan artefak kuno di wilayah Desa Macanputih, menunjukkan bahwa di wilayah tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh Prabu Tawangalun. Selain bekas-bekas runtuhan bangunan dan batu-bata kuno berukuran besar yang dipercaya sebagai bagian bangunan kerajaan, di salah satu sudut Desa Macanputih juga terdapat sebuah petilasan Prabu Tawangalun, yang menurut penuturan para tokoh setempat, adalah tempat dimana Prabu Tawangalun mengalami ‘muksa’ atau sirna. (Bud)

Sumber : Memorandum

Categorised in: , ,

No comment for Wisata Religi Berbalut Misteri di Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*