Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Tari Jaran Goyang, Simbol Pemikat Asmara

Tari Jaran Goyang, Simbol Pemikat Asmara

(739 Views) January 19, 2017 3:21 pm | Published by | No comment

Banjoewangie Tempo Doeloe | Salah satu karya tari yang menarik di banyuwangi adalah tari Jaran Goyang, mengapa dipandang menarik, karena tema yang digarap berkaitan dengan kepercayaan dan mitos masyarakat di Banyuwangi, yakni mengenai Aji Jaran Goyang. Di samping itu Tari Jaran Goyang juga merupakan refleksi diri pengalaman hidup dari Sumitro Hadi, Tarian ini juga menggarap pengalaman koreografer ketika jatuh cinta kepada kekasihnya. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memimpin Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag.

Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna” seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak dibalas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pelet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut. Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi. Bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak. Kemudian masuk adegan penggunaan aji Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis. Setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik. Untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Sumber@Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016 & Berbagai Sumber

Oleh : MunawirBanjoewangie Tempo Doeloe

Categorised in:

No comment for Tari Jaran Goyang, Simbol Pemikat Asmara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*