February 19, 2018

Tahun Ini, Pemkab Selenggarakan Kursus Bahasa Asing Berbasis Desa

BANYUWANGI – Untuk memberdayakan pemuda usia produktif , tahun 2015 ini Pemkab Banyuwangi mencanangkan gerakan Kursus Bahasa Asing Berbasis Desa. Tiga jenis  bahasa asing tersebut  yakni Inggris, Mandarin dan Arab.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, melalui Sekretaris Dispendik Dwi Yanto  mengatakan, program yang diadakan dalam rangka menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN ini  akan dirilis bulan Februari mendatang. “Kami telah menyiapkan 1 tutor untuk 1 desa, dengan jumlah peserta di tiap desa sebanyak  12 orang. Itu artinya, dari 217 desa yang dimiliki Banyuwangi, terdapat 217 tutor untuk mendampingi 2604 pemuda,” jelas Dwi Yanto. Tutor tersebut, kata Dwi Yanto, diambil dari tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan bekerjasama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP).

“Nanti mereka dipersilahkan untuk memilih salah satu bahasa sesuai minat masing-masing , satu desa satu bahasa,”ujar Dwi Yanto.  Namun tidak menutup kemungkinan, bagi pemuda di suatu desa yang berkeinginan untuk memilih bahasa yang berbeda dengan rekan sedesanya, dia bisa bergabung dengan kelompok lain (di desa yang berbeda).

Untuk pembelajaran, lanjut Dwi Yanto, terdapat 67  tatap  muka dengan setiap tatap muka berkisar 3 jam. Total ada 201 jam yang akan ditempuh dalam waktu 3 bulan. Jika dalam waktu 3 bulan tersebut, dirasa belum mahir, pembelajaran tersebut  bisa diperpanjang hingga Juni.

Pelaksanaan waktu belajar, imbuh Dwi Yanto, tergantung kesepakatan tutor dan siswa kursus, bisa sore  atau malam hari. “Mereka bisa bersepakat menentukan hari dan waktu belajarnya. Harinya bisa Selasa, Kamis, Sabtu atau Senin, Rabu, Jumat. Sementara waktu pelaksanaannya kami sarankan pada sore hari pukul 14.00 – 17.00 WIB atau di malam hari pada pukul 18.00 – 21.00 WIB,”tutur Dwi Yanto.  Hal itu dimaksudkan agar tak mengganggu aktifitas mereka pada pagi hingga siang hari, utamanya bagi mereka yang bekerja.

Lantas apa saja yang dipelajari? Menurut Dwi Yanto, mereka difokuskan pada peningkatan skill berupa kemampuan berbicara, kemampuan menulis, dan listening.  “Mereka tidak akan berkutat pada teori tapi langsung praktek dan conversation dengan sesama siswa. Minimal bisa menangkap pesanlah,”tandas Dwi Yanto.

Program ini melibatkan lintas sektoral, yakni Dispendik, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja  (Dinsosnakertrans), Himpunan Penyelenggara Pelatihan dan Kursus Indonesia ( HIPKI), serta Ikatan Penilik Indonesia.

Kenapa banyak pihak yang dirangkul untuk mensukseskan kegiatan ini? Dwi Yanto menuturkan, para pihak  tersebut  semuanya saling berkaitan. Dispendik yang menangani  sisi akademiknya seperti modul dan petunjuk teknisnya ( juknis) dengan dibantu oleh HIPKI. Dispora yang menentukan SDM-nya siapa saja. Saat ini bahkan Dispora telah mendapatkan siapa-siapa saja pesertanya.Semua peserta telah terjaring by name by address melalui perekrutan yang dilakukan Dispora.  Dinsosnakertrans yang akan mengarahkan, setelah siswa menguasai bahasa tersebut, mereka akan disalurkan kemana.

 Kegiatan ini akan diadakan di balai desa. Hal itu dilakukan agar memacu optimisme dan memotivasi peserta maupun warga sekitar agar lebih bersemangat untuk menguasai bahasa asing. Sehingga ke depan akan memudahkan mereka untuk mendapatkan atau menciptakan lapangan pekerjaan sesuai kemampuan berbahasa yang mereka miliki.

Meski dimulai pada bulan Februari, kegiatan ini baru akan di-launching bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2015. (Humas & Protokol)

banner 468x60