February 19, 2018

‘Sritanjung – Sidopekso’ Kisah Cinta Yang Melegenda

sritanjung-sidopekso

Foto ilustrasi ; Tokoh Sritanjung dalam sebuah karya tari

Banyuwangi, Memorandum – Keberadaan dan nama suatu tempat/daerah, seringkali dilatar-belakangi cerita-cerita legenda yang tumbuh-kembang dikalangan masyarakat sekitar. Seperti kisah Gunung Tangkuban Perahu di  Jawa Barat, yang konon terbentuk karena kemarahan Sangkuriang.

Hal serupa juga terjadi di kawasan ujung timur Pulau Jawa, yang saat ini dikenal dengan nama Banyuwangi. Menurut cerita legenda, nama Banyuwangi muncul dalam kisah pengabdian dan kesetiaan Seorang Istri bernama Sritanjung, terhadap suaminya, Sidopekso.

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah tlatah yang gemah ripah loh jinawi, ada sebuah Kerajaan yang dipimpin seorang Raja bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sang Prabu dibantu oleh seorang Patih berperawakan tegap, gagah berani, arif dan tampan, bernama Sidopekso.

Ketampanan dan kegagahan Patih Sidopekso inilah yang kemudian berhasil meluluhkan hati seorang Putri cantik jelita bernama Sritanjung, yang akhirnya bersedia dipersunting sebagai istri dan pendamping hidupnya. Dan, sejoli ‘Sritanjung – Sidopekso’ pun mengarungi bahtera rumah-tangganya berdua, dengan penuh suka-cita dan bertabur bahagia, hingga akhirnya sebuah prahara menghempas kebahagiaannya.

Diam-diam, ternyata Prabu Sulakromo menaruh hati kepada Sritanjung. Keelokan wajah dan kehalusan budi-pekerti Sritanjung, membuat sang Prabu tergila-gila. Segala cara pun ditempuhnya, termasuk membuat siasat licik agar Sidopekso bisa terpisah dari Sritanjung istrinya.

Hingga suatu hari, untuk dapat mewujudkan keinginannya merebut Sritanjung dari dekapan Sidopekso, Prabu Sulahkromo pun menjalankan siasat licik, dengan memerintahkan sang Patih Sidopekso menjalankan sebuah tugas yang tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh manusia biasa. Tujuannya hanya satu, yakni memisahkan sang Patih dari istrinya yang cantik jelita.

Sebagai abdi Negara yang taat kepada Rajanya, Sang Patih pun menerima dan menjalankan titah sang Prabu. Dengan tanpa rasa curiga dan menduga-duga, dengan gagah berani Sidopekso pun  berangkat menjalankan tugas berat yang dibebankan ke pundaknya.

Sepeninggal Sang Patih, Prabu Sulahkromo mulai bertindak tidak senonoh. Dengan terang-terangan dia merayu dan menyatakan cintanya kepada Sritanjung. Pada saat itulah, Sritanjung mulai menampakkan kekuatan pribadinya, keteguhan prinsip dan besarnya pengabdian kepada sang suami tercinta. Sritanjung menolak cinta sang raja.

Panas membaralah hati Sang Raja, ketika cintanya ditolak oleh Sritanjung. Emosi dan dendam kesumat menguasai jiwanya, dan mendorongnya untuk membuat strategi licik lainnya. Hingga suatu saat, ketika Patih Sidopekso berhasil kembali dari menjalankan misi tugasnya, dia disuguhi sebuah fitnah keji oleh sang raja. Kepada sang Patih, Prabu Sulahkromo menyatakan bahwa sepeninggal sang Patih untuk menjalankan tugasnya, Sritanjung istrinya, telah mendatanginya, merayu dan mengajaknya berbuat serong.

Mendengar penuturan sang Raja, amarah sang Patih pun meluap. Emosinya meledak-ledak. Tanpa berfikir panjang, Sidopekso langsung menemui Sritanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasan. Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur, justru membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah. Bahkan, dengan berang sang Patih mengancam akan membunuh istri setianya itu.

Kemudian di seretlah Sritanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum dibunuh, ada permintaan terakhir yang disampaikan Sritanjung kepada suaminya. Putri cantik itu menyatakan, sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya, dia rela dibunuh dan meminta agar jazadnya diceburkan ke dalam sungai yang keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk, maka benar dirinya telah berbuat serong. Tetapi bila darahnya membuat air sungai berbau harum, maka dia tidak bersalah.

Patih Sidopekso yang telah murka karena termakan fitnah, tidak lagi mampu menahan diri dan  segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah pun memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai, dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca dan menyebarkan bau harum mewangi.

Patih Sidopekso pun terhuyung-huyung lemas, jatuh dan linglung. Tanpa dia sadari, ia menjerit “Banyu, wangiiii,”.. Sang Putri pun berhasil membuktikan kejujuran dan kesetiaannya. Dan nama Banyuwangi pun terlahir dari bukti cinta suci seorang istri kepada suaminya. Wallahu A’llam… (eko budi setianto)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60