February 18, 2018

Nelayan Pancer Keluhkan Proyek Plat Form dan Dinding Dermaga

Dermaga Pancer

Kondisi Terkini Proyek Dermaga Pancer Banyuwangi Bernilai Miliaran Rupiah

Banyuwangi Memorandum – Pembangunan Proyek Kuntruksi Plalt form dan Dinding Dermaga di IPP Pancer Banyuwangi yang dikerjakan PT Gemahripa Loh Jinawi Bayuwangi  (GLJB) yang menelan biaya hingga miliaran rupiah, masih tidak berfungsi maksimal untuk dilewati ratusan kapal nelayan di laut Pancer .

Hal itu dikarenakan pendangkalan di jalur pintu masuk menuju dermaga dan kebaradaan ribuan kubik pasir laut masih menumpuk di depan pintu muara dan menutupi dermaga yang baru di bangun tertimbun pasir laut akhirnya dermaga tidak kelihatan akhirnya tidak berfungsi .

Pantauan Memorandum dilokasi, Proyek yang berada di Pantai Pancer Kecamatan Pesangaran yang tidak jauh dari Pantai Wisata Pulau Merah ini ternyata mendapat keluhan dari para nelayan setempat, karena dianggap tidak tepat sasaran.

Megaproyek pembangunan dermaga Pancer tersebut diyakini telah salah dalam perencanaan pembangunannya. Padahal, dana miliyaran  sudah digelontor dari APBD Provinsi Jawa Timur dan sepertinya mubazir. “Kami anggap pembangunan itu salah sasaran perencanaannya. Sebab, hingga sekarang, belum bisa difungsikan. Tidak hanya itu, beberapa nelayan dan masyarakat sering mengalami kecelakaan laut,” kata suwardi (45), Nelayan dari muncar kamis  (26/5).

Suwardi (45 ) menambahkan, tak jarang kapal nelayan menabrak batu pemecah  gelombang yang dipasang untuk memecah ombak. Beruntung, dalam setiap kecelakaan tersebut tidak ada korban jiwa. Kapal nelayan yang hendak masuk di dermaga terpaksa harus minggir saat melintas di pintu masuk dermaga, karena terhalang pasir laut yang sudah mulai menutup pintu masuk. “Yang jelas, pembangunan itu sudah banyak korban. Beberapa waktu lalu, ada kapal yang sampai pecah dan guling  karena menabrak batu tersebut . Tapi untung, tidak ada korban jiwa. Justru itulah, saya menduga kalau perencanaanya salah sasaran ,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan  Suwarno  (55), warga lingkungan pasar pancer , nelayan setempat , yang mengaku kapalnya tidak bisa masuk melewati pintu dermaga, karena tertutup tumpukan ribuan kubik pasir. “Perairan dermaga IPP Pancer  hanya bisa dilewati kapal jika kedalaman airnya minimal mencapai 3 meter. Jika kondisi kedalamnya kurang dari 3 meter, maka kapal tersebut akan tersangkut dan tidak bisa jalan. Jika kami tidak mengambil langkah dan terus dibiarkan berlarut–larut, sudah dapat dipastikan, semua kapal yang hendak bersandar di dermaga pelabuhan Pantai IPP Pancer  tidak bisa dilakukan bongkar muat. Sehingga, kami sangat menyayangkan sekali dalam pengerjaan proyek karena masih tidak bisa difungsikan secara maksimal,” katanya.

Dari data yang diterima Memorandum dilapangan  menyebutkan, pembangunan dermaga itu direncanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur Dinas Perikanan Dan Kelautan Jawa Timur JL Jedral A Yani  Surabaya  Mulai dikerjakan oleh PT Gemahripah Loh Jinawi angaran APBD I   tahun 2015 dan masih berlanjut hingga sekarang. Pembangunan dilakukan bertahap dan selama itu, sudah menelan anggaran lebih dari Rp 6.544 miIyar .

Anggaran selalu membengkak setelah terjadi pendangkalan muara yang kemungkinan tidak diduga sebelumnya. Sebab itu, nelayan menilai ada salah perencanaan dalam proyek tersebut. Pengerukan pasir itu sendiri sudah seringkali dilakukan dengan anggaran per tahunnya yang tidak sedikit. Dan ada dugaan, pengerukan pasir itu justru menjadi proyek baru. Kemudian pada tahun 2016 ini , Pemprov Jatim juga menggelontorkan anggaranb Rp 38 Miliar yang digunakan untuk Proyek Break water atau dalam hal ini pemecah gelombang  dan pengerukan dan penambahan batu yang rencananya SPK di kerjkan oleh PT Intan Jawa Tehnik Surabaya angaran APBD Provinsi Jawa timur th 2016 .

Anehnya, meski proyek tersebut dianggap gagal dan salah perencanaan, namun kucuran dana miliaran rupiah dari Pemprov Jatim masih terus dilakukan. Sementara itu Pelaksana lapangan Nanang di konfirmasi di kantornya kamis 26/5 terkait rencana proyek lanjutan yang an akan di kerjakannya  pihaknya tidak bisa berkomentar alasanya tidak punya wewenang kalau proyek tersebut ada masalah langsung kesurabya aja saya Cuma melaksankan tugas dari pimpinan kami cuama karyawan  kuli  biasa mas coba mas ke mas arif aja dia yng punya wewenag penuh dalam hal ini , tegasnya  (mam)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60